Pencari Amal

Pernahkah pertanyaan dan doa kalian dijawab Tuhan hanya dalam beberapa jam saja sejak kalian mengucapkannya? Saya, kemarin malam..

Malam itu, saya bersama suami akan makan malam di daerah Tebet. Baru saja kami memarkir kendaraan di seberang tempat makan yang kami tuju, persis di samping pintu mobil sudah berjajar 3 bocah lelaki usia tanggung yang salah satunya menyodorkan kotak mirip kotak semir sepatu. Saya yang saat itu hanya menggunakan sandal jepit terpaksa menolak halus karena memang tidak butuh semir.

“Ya sudah Tante, kami boleh minta tolong belikan nasi sebungkus aja? Biar nanti kami makan bertiga…”, tutur anak lelaki yang paling kecil.

Mereka nampak kurus, kumal dan lusuh, mungkin karena sudah seharian di jalanan. Masing-masing memegang kotak kayu seukuran kardus sepatu, dengan baju yang sudah tidak jelas warnanya. Diam-diam saya merasa iba. Sudah berapa banyak orang yang menyemirkan sepatunya pada mereka hari ini? Sudah berapa lembar rupiah yang mereka dapatkan untuk menyambung hidup mereka hari ini? Tanpa berpikir lama, saya pun mengiyakan permintaan mereka untuk membelikan makan.

Suami saya lalu mengajak mereka untuk duduk, menanti nasi goreng yang kami pesankan untuk mereka. Saya belajar dari suami untuk tidak selalu memberi anak-anak jalanan itu uang. Kalau memang alasannya adalah untuk beli makan dan mereka lapar, belikanlah mereka makan. Karena kalau uang kadang belum tentu dibelikan makanan beneran.

Sesekali saya melihat mereka dari tempat duduk saya. Kebetulan mereka duduk terpisah dari kami lantaran tempat duduk yang ada di dalam sudah penuh, sehingga hanya tersisa tempat duduk di luar saja. Tapi tak apa yang penting mereka bisa menikmati makan malam dengan layak.

Ketika pesanan datang, mereka langsung menyantapnya dengan lahap sambil sesekali bergurau. Ya Allah, ternyata mereka lapar beneran.

Seusai makan, saya menghampiri mereka. “Kalian sudah selesai makannya?” tanya saya. “Sudah, Tante, terima kasih. Makan malamnya, enak…” jawab salah satu dari mereka dengan wajah sumringah. Saya tersenyum, mengangguk, sambil melirik ke arah piring mereka yang bersih.

Sambil menunggu suami saya selesai makan, saya mengambil duduk di samping mereka.

Saya : “kalian sekolah, nggak?”
Mereka : “sekolah, Tante. Tapi lagi libur..”
Saya : “oh, iya, lagi libur sekolah, ya? Kalian kelas berapa aja?”
Anak 1 : “saya kelas 2 SMP, Tante..”
Anak 2 : “kalau saya kelas 3 SMP, Tante..”
Anak 3 : “saya baru lulus SMP, Tante..”
Saya : “kamu nerusin sekolah, nggak?”
Anak 3 : “nerusin, Tante.. :)”
Saya : “wah, kalian hebat deh, masih ada semangat buat sekolah… Jarang-jarang lho ada anak-anak yang hidupnya di jalanan kaya kalian tapi masih punya semangat buat menuntut ilmu. Eh, bentar ya, Tante bayar ke kasir dulu. Kalian tunggu disini..”

Selesai membayar di kasir saya pun kembali ke meja mereka. Mendadak yang paling kecil berkata:

Anak 1 : “Tante, kami boleh minta tolong lagi, nggak?”

Dua anak lainnya duduk menunduk mendekap kotak kayu masing-masing sambil menyenggol kaki anak yang yang paling muda itu. Mungkin maksudnya mencegah dia bilang sesuatu. Tapi yang dikode sepertinya tidak sadar atau mungkin tidak mengacuhkan kode kedua temannya itu.

Saya : “Ya, apa?”
Anak 1 : “Mmmh, Tante, boleh nggak kami minta tolong dibelikan buku tulis buat sekolah?”

Keharuan langsung menyeruak dalam hati saya. Ya Allah, baru saja tadi sore ketika saya menyusuri beberapa linimasa Twitter yang concern dengan masalah sosial, saya mengucapkan sebuah pertanyaan sekaligus doa:

“Ya Allah, kapan ya saya bisa ikut membantu anak-anak yang kurang mampu tapi masih punya semangat untuk sekolah?”

Ternyata dalam waktu yang tak berapa lama Tuhan langsung menghadirkan ke hadapan kami bukan hanya 1, tapi 3 anak yang masih punya semangat sekolah tapi kurang ada biaya. Tanpa menunda waktu lagi, saya langsung mengiyakan permintaan mereka. Kami pun langsung menuju ke salah satu supermarket terdekat dan membiarkan mereka memilih apa yang mereka perlukan.

Namun sesampainya kami di tempat tujuan, mereka justru saling berpandangan ragu.

Saya : “lho, kok malah bengong? Kalian pilih apa saja yang kalian butuhkan. Buku, alat tulis?”
Anak 3 : “ini aja, Tante. Satu pak buku tulis aja udah cukup, nanti kami bagi bertiga..”
Saya : “lah, satu pak kan cuma isi 10, kalau dibagi bertiga kalian masing-masing hanya akan dapat 3 buku tulis. Ya nggak cukup dong, Sayang. Ya udah ambil buat masing-masing, gih..”

Saya mengambilkan masing-masing 1 pak buku tulis, alat tulis, dan sebuah buku gambar ukuran A3 buat anak yang paling kecil, karena katanya dia sangat suka menggambar. Ketika saya menawarkan untuk membeli keperluan sekolah lainnya, jawaban mereka, “sudah Tante, terima kasih, ini saja sudah cukup kok. Kami sebenernya cuma butuh buku tulis saja..”

Seusai membayar semuanya di kasir, ketika akan menuju ke parkiran, sambil merangkul bahu anak yang paling kecil:

Saya : “nama kamu siapa?”
Anak 1 : “Dindin, Tante..”
Saya :“kalau yang 2 itu siapa aja namanya?”
Anak 1 :“itu Adis sama Firman..”
Saya :“kalian satu sekolah?”
Dindin :“iya, mereka kakak kelas saya..”
Saya :“oh.. kalian sekolah dimana?”
Dindin : “di Perguruan Rakyat 1, Tante..”
Saya :“masuk pagi atau siang?”
Dindin :“siang..”
Saya :“Kamu tiap hari nyemir sepatu?”
Dindin :“Kami bukan nyemir sepatu, Tante..”
Saya :“lha, kotak yang kalian bawa itu tadi apa?”
Dindin :“itu kotak amal buat musala, Tante. Kami mencari infaq dan sedekah untuk musala kami..”

Mak jleb! Ya Allah, ternyata kotak yang semula saya pikir itu adalah kotak semir sepatu adalah kotak amal untuk musala yang mereka edarkan untuk diisi oleh siapa saja yang mau bersedekah? Mata saya menghangat. Air mata saya langsung menggenang.

Tahu nggak sih bagaimana rasanya ketika di akhir-akhir peristiwa kalian baru tahu kalau yang kalian bantu itu ternyata anak-anak mulia yang bergerak di jalan agama, bukan meminta uang untuk mengemis?

Firman : “Oom, Tante, nanti kami turun di tempat yang tadi aja ya. Karena kami harus mencari 1 orang teman yang lain sebelum kami pulang, dia terpisah dari kami tadi…”
Suami: “rumah kalian di mana? biar sekalian kita anter..”
Mereka : “di daerah Kampung Pulo, Oom.. Terima kasih, Oom. Nggak usah. Nanti kami pulang naik ojek saja.”

Berhubung mereka masih harus mencari teman yang lain, terpaksa mereka kami turunkan persis di tempat kami bertemu tadi. Sebelum berpisah, satu persatu mereka berpamitan dan mencium tangan saya. Wajah mereka terlihat sumringah walaupun ada gurat lelah yang tak mampu mereka sembunyikan.

Saya menggenggamkan beberapa lembar rupiah ke tangan Dindin. Ini buat kalian pulang ya. Hati-hati di jalan. Salam buat teman kalian yang satu lagi ya…”, bisik saya sambil setengah mati menahan air mata supaya tidak jatuh.

Setelah sesi perpisahan yang mengharukan itu, tangis saya pun akhirnya tak terbendung lagi. Tak disangka bahwa Allah mendengar dan mengabulkan doa saya begitu cepat. Allah bekerja melalui jalan yang benar-benar misterius, karena awalnya kami sempat berniat akan makan di daerah Megaria, tapi entah kenapa justru mengarahkan tujuan kami menuju Tebet, sehingga mempertemukan kami dengan 3 pengedar kotak amal bernama Dindin, Adis, dan Firman tadi.

Sambil mengelus kepala saya, suami berkata, “bersyukur bahwa kita masih diberikan kesempatan berbagi. Kalau soal rezeki insyaallah masih bisa kita cari. Semoga apa yang sudah kamu berikan malam ini berkah buat mereka ya…”

Saya mengangguk pelan sambil menyeka air mata yang tak henti-henti mengalir. Kami pun menyusuri jalanan yang mulai lengang dalam keheningan masing-masing.

Dalam hati saya berdoa, “semoga Allah melindungi kalian bertiga hingga sampai dengan selamat di rumah dan bertemu kembali dengan keluarga, ya. Aamiin…”

 

You may also like

38 Comments

  1. Ya Allah, nangis juga aku baca ini.. aq jg pngin berbagi kayak gitu.. dikumpulkan aja mbak anak2 kayak gini.. dibekali bener2 biar jadi contoh temen2 lainnya. Lingkungan mereka harus dicontoh, karena bs membuat mereka seperti itu.. aq mau deh ikut bantu..

  2. wah, cerita yang sungguh mengharukan mbak, mpe mbrebes mili T_T semoga Tuhan membalas semua kebaikan mbak Devi..saya selalu mendo’akan semoga Tuhan segera mempercayakan buah hati kepada mbak Devi yang berhati mulia ..aamin =)

  3. mbk deph..my luvly TL..semoga pengalaman mbk deph tadi bisa jadi pencerahan..terutama buat aku..hikshiks..

  4. amiin…
    ga nyadar pas baca air mataku keluar. rejeki datang dari jalan yang ga di sangka-sangka. siapa sangka 3 anak kecil tadi akan ketemu sama 2 manusia yang dikabulkan doanya untuk menolong mereka:)
    Maha suci Allah..
    harapannya, anak2 kecil yang selama ini sering kita temui minta-minta di jalan, adalah mereka yang bener2 membutuhkan, dan masih semangat sekolah. Karna ga banyak juga yg cuma dimanfaatkan sama lingkungannya. 🙂
    nice post mbak 🙂

  5. air mataku langsung ndlewer..

    aku juga menghindari memberi uang ke anak-anak jalanan. kalo pas kita lagi makan dan mereka bilang minta-minta untuk makan, mending ditraktir sekalian. kalo minta-mintanya di bus atau jalan, kalo pas abis belanja ransum makanan, bisa ditawarkan “mau coklat (bisa juga susu kotak, kue, buah atau makanan apa yang kebetulan ada di kantong belanjaan saat itu)?” pernah malah pas saya ga bawa makanan apapun selain tablet hisap vitamin, bisa ditawarkan juga “mau vitamin c?”. setidaknya bisa bermanfaat langsung buat mereka daripada uang yang bisa saja disetor ke pihak-pihak yang memanfaatkan mereka.

  6. setelah berkunjung ke http://devieriana.wordpress.com/ trus nemu judul pindah rumah baru ….
    langsung menuju kesini….karena penasaran dengan judul pencari amal…baca mpe selesai….akhirnya karna terharu mpe mrinding krn mbil nahan air mata…semoga anak2 tsb bs nyelesaikan sekolahnya mpe jenjang yg lebih tinggi dan semoga allah mengubah musollah mereka menjadi masjid yg megah dan jg memberikan rejeki yg melimpah bagi orang2 yg mau berbagi …amin

  7. mba dev,
    Bener-bener jlebb..moment. Semoga mereka tetap sekolah, dan banyak bertemu dengan orang yg perduli spt mba dev dan hubby..amien

  8. Subhanallah……

    Semoga jeng Devi dan suami selalu mendapatkan nikmat sehat dan bahagia dari Allah SWT.
    *terharu banget*

  9. barusan baca twitnya mba devieriana, sy ketawa-ketawa sendiri. pas sy telusuri ke blog ini, eh belum selesai baca mata sy udah berkaca-kaca.
    makasih banyak ya mba, artikel yg menginspirasi sekaligus me-refleksi.

    salam kenal
    @richoindrawan
    aka. Abu ghalib 😀

  10. to all :
    Maaf baru buka blog lagi sejak posting. Makasih udah mampir, makasih udah baca-baca. Banyak yang nangis ya? hihihi, maaf.. :-s. Pas mengalami dan menuliskannya ulang, saya jauh lebih kejer kok nangisnya :((

    Pelukin semua deh.. >:D<

  11. postingan mbake kali kewl ini hiks hiks soalnya kan byk org yg bantu ngga tp ngedumel iya , etapi kira-kira kalo aku nanti pas ketemu bilang “pak bu sumbangannya..udah sebulan ga ngupi2di setarbak” dikasi juga ga ya…. #PerusakSuasana *di balang stiletto*

  12. yup, bersyukur bahwa kita masih diberi kesempatan untuk berbagi.. membaca tulisan ini saya jadi dapet satu pelajaran, untuk memberikan yang mereka butuhkan bukan dalam bentuk uang.

  13. Sbenernya sy lg cari2 blog buat tugas kuliah, tapi cerita di blog ini bs membuat sy terhenti sementara buat nyari tugas kuliah karena ceritanya bner2 inspiratif mba, nice story.
    ijin copas yah mba buat bahan bacaan klo lg suntuk. thnx mba. 🙂

  14. Itu juga yang saya pelajari dari suami saya. Kalau memang mereka bilang lapar lebih baik belikan mereka makanan.. Tapi kadang saya masih suka ngasih uang juga sih kalau nggak tega 🙁

  15. Ha! Saya bisa bertahan gak nangis sampai akhir bacanyaaaaaa!!! Udah mendung sih, tapi gak nangis *sok kuat*

    Ya Allah, semoga saya juga segera dinaikkan derajatnya supaya bisa membantu menaikkan derajat mereka yang lain :((

  16. …. Dev, sukses deh … salutt …

    saya nggak nangis waktu baca …. *maklum badan gede masak tiba2 nangis di depan teman ….
    tapi … pura2 ke kamar mandi dan tumpahlah tangiskuuu, *lebay dikit ….
    terus cuci muka biar dikira menghilangkan kantuk …

    hehehehehe

    ~konco lawas ndek malang~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *