Daily Archive: June 15, 2011

#indonesiajujur : Tip of An Iceberg

A lie may take care of the present, but it has no future ~ Unknown

—–

“Dek, kamu nggak belajar? Kan besok ujian..”
“Tenang aja, Pa… Aku udah tahu jawabannya, kok..”
“Maksudnya kamu sudah dikasih kisi-kisi soal sama gurumu?
“Bukan kisi-kisi, Pa.. Tapi jawaban. Kita semua udah dikasih tahu jawabannya apa aja, jadi besok tinggal jawab aja…”

Kawan saya bercerita dengan ekspresif tentang jawaban anaknya yang akan menjalani ujian. Mungkin zaman memang sudah berubah, dan perkembangan aktivitas contek menyontek yang klasik itu dalam prosesnya sudah sudah mengalami metamorfosa. Demi sebuah nilai bagus, peringkat/ranking, kredibilitas, dan adanya pengakuan tentang kemampuan diri, akhirnya anak didik dan sekolah pun menghalalkan segala cara untuk meraihnya.

Membahas tentang kasus Ny. Siami yang sedang heboh itu, alih-alih ingin mengungkap praktik kecurangan selama berlangsungnya Ujian Nasional di SDN Gadel II Surabaya nyatanya malah berbuntut panjang. Ny. Siami sekeluarga justru diusir dari lingkungan tempat tinggalnya oleh warga setempat, dituduh tidak punya hati nurani, dan dianggap terlalu membesar-besarkan masalah. Ujung-ujungnya dia yang harus meminta maaf kepada pihak sekolah dan warga karena dianggap telah mencemarkan nama baik sekolah. Ironis, pihak yang seharusnya mendapat dukungan dan pembelaan malah diperlakukan dengan semena-mena dan diintimidasi.

Kemarin, saya mendapatkan kisah yang nyaris sama dari salah satu teman saya yang ternyata juga mengalami kejadian yang hampir sama dengan si Al, bedanya dia tidak sampai mengalami pengusiran seperti Ny. Siami dan keluarga.

“Jaman waktu masih sekolah dulu aku juga pernah ngalamin kejadian kaya gitu, Dev. Aku diminta guruku untuk berbagi jawaban sama temen-temen yang lain. Jujur, aku ngasih contekannya antara ikhlas nggak ikhlas. Tapi mau gimana lagi, lha wong disuruh.. :|”

Sebaliknya ada juga yang dengan sukarela memberikan contekan untuk teman-temannya dengan alasan setia kawan, teman seperjuangan, dan solidaritas. Ada yang terang-terangan, “nih, contek nih..”. Tapi ada juga yang memberikan inti jawabannya saja, kalimat selebihnya silakan dikembangkan sendiri sesuai dengan ‘imajinasi’. Tapi itu hanya bisa dilakukan kalau jawabannya berupa soal dengan essay, lha kalau pelajaran matematika apa yang bisa diimajinasikan? Atau multiple choice misalnya, masa iya jawaban berdasarkan hitungan kancing baju? Jujur, dulu saya juga pernah mencontek kok; menconteknya pas dalam keadaan kepepet. Tapi deg-degannya juga ampun-ampunan. Takut ketahuan guru, takut kalau nilainya bakal dikurangi kalau ketahuan mencontek, dan jauh dalam hati kecil ada rasa bersalah karena sudah berlaku tidak jujur. Akan beda tingkat kepuasannya ketika kita mendapat hasil bagus hasil kerja sendiri dibandingkan dengan hasil mencontek. Mempersiapkan diri dengan belajar sendiri itu jauh lebih menenangkan saya daripada harus bergantung pada  jawaban pada orang lain. Untuk menghindari menyontek, kadang saya lebih memilih menjawab dengan menggunakan feeling, pilih saja jawaban yang masuk akal atau yang lebih mendekati. Atau kalau misalnya jawaban A, B, dan C sudah banyak mungkin ini adalah saat yang tepat untuk melingkari/menghitamkan jawaban D atau E! \m/. Jangan lupa sambil berdoa semoga yang mengoreksi sedang mengantuk atau alat scanner-nya error sehingga meloloskan jawaban yang seharusnya salah menjadi benar! Ngawur kok bangga! ;))

Kasus Ny. Siami yang berusaha membuka kecurangan pihak pengajar di SDN Gadel II Surabaya ini sebenarnya just a small evident part of something that largely hidden. Apa yang sengaja diungkapkan oleh Ny. Siami ini hanyalah sebagian kecil pengungkapan fakta di lapangan yang jauh lebih besar. Semacam tip of an iceberg.

Kemarin saya juga sempat berdiskusi ringan dengan teman saya Wong Iseng. Beliau mengatakan begini :

“Kasus contek-menyontek yang ‘dihalalkan’ ini lebih dari sekadar masalah kejujuran, Dev. Ada semacam ‘kesepakatan’ tidak tertulis yang menyatakan bahwa siswa yang berhasil melewati (baca: mengakali) ujian suatu mata pelajaran sama dengan berhasilnya siswa itu menguasai mata pelajaran tersebut. Makanya ada yang namanya SKS (Sistem Kebut Semalam), contek menyontek, dan pendidikan  yang tanpa hasil karena intinya hanya bagaimana mengakali ujian tanpa mengerti apa yang diajarkan…”

Ada semacam paradigma yang berkembang di Indonesia, lulus/tidaknya siswa dalam ujian nasional itu sama seperti seorang yang akan menghadapi vonis kematian. Tampak begitu menyeramkan bukan hanya bagi siswa tapi juga bagi sekolah. Karena jika pada kenyataannya ada banyak siswa yang tidak lulus ujian nasional, maka akan menyebabkan jatuhnya peringkat dan kredibilitas sekolah di mata masyarakat. Semakin tinggi nilai yang diraih siswa dan besarnya prosentase kelulusan siswa, akan menjadi salah satu parameter keberhasilan guru dalam mendidik siswanya. Nah, adanya tuntutan untuk mengusahakan agar siswa bisa lulus semua inilah yang menyebabkan siswa dan sekolah ‘menghalalkan’ segala macam cara untuk menghadapi Ujian Nasional.

Seperti halnya make up yang berfungsi untuk memperindah dan mengoreksi wajah, sekolah yang sebenarnya tidak sanggup mendidik anak untuk  mampu menjawab UAN ikut memakai make up. Anak didik bisa lulus dengan nilai bagus tapi dari hasil menyontek, sehingga hasil pendidikan yang bisa dibawa anak setelah lulus tetap  tidak terpecahkan, karena orientasinya masih berkutat pada kisaran angka (baca: nilai yang bagus). Jadi, selama root cause-nya tetap sama,  selamanya akan tetap ada usaha untuk mengakali ujian demi nilai bagus dan terbentuknya citra pendidikan yang berhasil. Walaupun mungkin pada kenyataannya tidak demikian.  

Memang tidak semua yang ikut ujian nasional itu lulus karena mencontek. Masih banyak siswa yang lulus dengan nilai memuaskan dari hasil usaha sendiri. Tapi belajar dari kasus Ny. Siami kemarin akhirnya membuka mata kita lebar-lebar, pun menyadarkan kita bahwa kejujuran di Indonesia ternyata baru sebatas wacana. Kita masih harus belajar banyak untuk menghargai arti kejujuran yang terlanjur disikapi secara salah kaprah.

Kembali lagi ke hati nurani sih kalau menurut saya. Bagaimana menurut Anda?
:)

 

 

ilustrasi dari sini