Monthly Archive: June 2011

The Living Legend : Pak Raden

Sebagai generasi jaman TVRI yang hiburan untuk anak setiap hari Minggu cuma si Unyil dan beberapa film kartun, memang mau tidak mau ya tontonannya itu. Dinikmati sebosannya karena adanya cuma itu, belum ada stasiun TV swasta seperti sekarang. Jauh berbeda dengan dunia hiburan anak jaman sekarang yang lebih variatif dan modern. Tapi jika diperhatikan, sampai sekarang belum ada lho film dan tokoh rekaan yang begitu dicintai dan hidup hingga berpuluh tahun seperti Unyil dan kawan-kawan. Boleh dikatakan film Si Unyil adalah film boneka yang paling legendaris.

Nah, kalau bicara tentang Si Unyil pasti tidak akan lepas dengan sosok bapak-bapak Jawa, galak, berkumis tebal, menggunakan beskap, kain panjang, dan tak lupa blangkon. Ya, dia adalah Drs. Suyadi atau yang lebih dikenal dengan Pak Raden (Raden Mas Suryomenggolo Jalmowono) :D. Walaupun kalau di film galak tapi aslinya dia pecinta anak-anak lho. Film Si Unyil tanpa Pak Raden itu seperti sayur tanpa garam. Anyep!

Nah, hari Sabtu tanggal 25 Juni 2011, pukul 11.00 wib, bertempat di fX Sudirman, berlangsung sebuah acara yang bertajuk #PeduliPakRaden : “Kirim Cinta dengan Dongeng Untuk Anak Indonesia”. Acara ini hasil kerja sama antara Sekolah Cikal dan Rumah Main Cikal, fX Plaza, Female Radio, dan Indonesia Bercerita. Inti acara ini adalah untuk menunjukkan kepedulian kita terhadap sosok Pak Raden yang direntang usianya yang sudah tidak muda lagi (lahir di Puger, Jember, 28 November 1932) dan kesehatannya sudah tidak seprima dulu, beliau memang sedang membutuhkan bantuan dana untuk pengobatan kesehatannya.

Aha! Akhirnya saya bisa bertemu langsung, bersalaman, ngobrol sebentar, memeluk, bahkan berfoto bersama tokoh galak ngangenin yang pintar melukis dan mendongeng itu! Saya melihat beliau sedang duduk di deretan kursi panitia dan undangan. Sosoknya masih tetap sama seperti dulu, perawakan agak gemuk, memakai beskap, dan tak pernah lupa kumis artificial dan blangkon khas yang menunjang karakternya.

Namun, ketika beliau diundang untuk maju ke depan dan mulai mendongeng di sesi terakhir, saya merasa sedikit trenyuh. Untuk berjalan menuju tempat duduk yang telah disediakan di depan panggung itu, yang jaraknya sekitar 2 meteran, beliau harus dituntun dan berjalan agak tertatih-tatih, rematik. Ternyata bukan hanya tokoh boneka Pak Radennya saja yang dulu berkeluhan encok/rematiknya kumat, beliau sendiri juga mengalaminya. Saya melirik ke sebuah sudut depan panggung. Ada sebuah kursi roda yang bertuliskan “Pak Raden”. Di usianya yang hampir menginjak 80 tahun dan kondisi kesehatan yang mulai naik turun beliau memang memerlukan kursi roda untuk membantu mobilitasnya yang tak lagi gesit.

Singkat cerita, saya bersama teman-teman dari Indonesia Bercerita (Jakarta) hadir bukan hanya untuk sekedar menyaksikan acara yang dipenuhi oleh anak-anak berbagai usia itu, tapi juga melihat secara langsung bagaimana konsep mendongeng yang “seru” dan bisa menarik minat anak-anak. Saya yang masih sangat amatir di bidang dongeng jelas merasa mendapat banyak ilmu langsung dari masternya pendongeng yaitu Pak Raden, dan menyaksikan live performance menakjubkan dari Mbak Poetri Soehendro yang mendongeng dengan sangat atraktif.


Oh ya, sebagai pendongeng, Pak Raden punya ciri khas mendongeng sambil menggambar. Bisa dikatakan beliaulah pendongeng pertama di Indonesia, atau bahkan di Asia, yang menuturkan kisah dongeng sambil menggambar. Ada hal menarik yang disampaikan oleh Pak Raden, ketika ditanya mengapa dia lebih suka mendongeng sambil menggambar?

“Ya, biar anak-anak mendapatkan gambaran langsung tentang dongeng apa yang sedang diceritakan..”

Hmm, benar juga ya. Kadang anak-anak butuh penggambaran yang lebih jelas tentang jalannya sebuah cerita, jadi bukan hanya sekedar membayangkan dan mereka-reka. Oh ya, tentu kita masih ingat kan, kalau Pak Raden ini selain pendongeng juga seorang ilustrator dan pelukis handal? Ya, di rumahnya di area Petamburan kita bisa menemukan berbagai lukisan yang merupakan hasil kreatifitas tangan senimannya.

“Semua orang bisa jadi pendongeng. Tapi yang lebih penting adalah, cintai dulu siapa yang akan kita dongengi. Nah, siapa saja mereka? Ya anak-anak ini..”, tuturnya menjawab pertanyaan tentang bagaimana menjadi seorang pendongeng yang baik, sambil menunjuk ke arah puluhan anak yang mengerumuninya sebelum acara mendongeng dimulai.

Ah, betul sekali. Mendongeng dari hati. Mendongeng bukan hanya sekedar aktivitas menyampaikan sebuah cerita. Bukan hanya membacakan dongeng hingga anak tertidur. Tapi lebih dari itu, ada sebuah komunikasi dan pesan yang coba dibangun melalui dongeng itu sendiri. Akan terasa berbeda rasanya ketika mendengarkan dongeng yang disampaikan ala kadarnya (hanya membaca) dan yang disampaikan secara tulus (menjiwai). Ada ya mendongeng dengan tulus? Ada, saya menemukan dan melihatnya langsung dalam sosok Pak Raden ketika siang itu beliau mendongeng di depan puluhan anak kecil.

Beliau membawa boneka Pak Raden, Melani, Orang Gila, dan beberapa karakter boneka lainnya untuk mendukung dongeng yang akan dibawakan. Anak-anak lucu itu langsung berkerumun di sekeliling Pak Raden. Bagi mereka yang bukan hidup di jaman Si Unyil masih populer dulu, tentu merupakan hal yang menakjubkan. Tapi buat Papa Mama-nya tentu ini merupakan sesi nostalgia masa kecil ya :D. Pak Raden bukan hanya bercerita melalui boneka-boneka tangan tapi juga menulis sendiri dongenganya serta menggambarnya langsung di atas white board.

Satu hal yang saya pelajari hari itu. Jika ingin serius menjadi seorang pendongeng yang berhasil menyedot perhatian dan antusiasme anak-anak adalah dengan cara membaur dengan mereka, menghapus jarak,”ngemong”, dan jangan jaim. Tanpa mengecilkan pendongeng-pendongeng lainnya yang sudah ada, untuk semua hal diatas kita harus mengakui bahwa Pak Raden masih tetap maestronya hingga saat ini!

Di akhir pertemuan saya dengan beliau, saya bisikkan di telinga pria berjulukan “kakek sejuta cucu” itu :

“Pak, saya senang bertemu dengan idola masa kecil saya dulu. Tetap sehat ya, Pak. Sehingga Pak Raden tetap bisa berkreasi terutama untuk dunia anak-anak..”

Beliau pun mengangguk, tersenyum, sembari menepuk lengan saya, matanya terlihat sedikit berkaca-kaca. Kami pun berpelukan sebentar. Tak terasa saya pun larut dalam suasana haru dan ikut menitikkan air mata :(

Sampai ketemu di lain kesempatan ya, Pak. Semoga Tuhan menjaga serta senantiasa memberikan kesehatan dan usia yang panjang untuk Pak Raden. Doa kami, anak-anak Indonesia, teriring untuk Pak Raden, our living legend :)

 

dokumentasi pribadi

Berbagi Cerita dan Cinta

Hari Minggu tanggal 19 Juni 2011 kemarin bertepatan dengan kegiatan pertama tim Indonesia Bercerita Jakarta. Setelah meeting di Anomali Coffee di hari Jumatnya, kami pun berencana untuk mengadakan acara di sebuah pesantren yang bernama Missi Islam Pusat Jakarta di daerah Rawa Badak Selatan, Koja – Jakarta Utara. Lumayan jauh sih ya, ujung ke ujung karena saya pas berangkat dari rumah mertua saya di daerah Cipayung Jakarta Timur. Pondok pesantren Missi Islam Pusat Jakarta ini menyelenggarakan pendidikan pesantren bagi kaum dhuafa dan yatim piatu secara gratis sejak tahun 1983 dan masih tetap terselenggara hingga kini. Nah, kegiatan kami disana adalah untuk mendongeng sekaligus memberikan hiburan berupa workshop sederhana kepada para santri disana untuk berkreasi membuat dongeng. Ya, itung-itung sambil mengolah imajinasi mereka, gitulah..

Ini adalah kali pertama saya berkunjung ke pesantren. Kami berangkat sekitar pukul 08.30 wib lokasi acara. Karena pesantren yang akan kami kunjungi ini lokasinya agak masuk, terselip  di tengah pemukiman padat penduduk, mobil kami harus parkir jauh di ujung gang karena memang kendaraan tidak bisa masuk ke gang sesempit itu. Tapi entah bagaimana caranya tiba-tiba si Hubby sudah memarkir mobil kami persis di halaman pesantren. Mungkin dia menerbangkan mobil kami ;)).

Pesantren Missi Islam Pusat Jakarta ini sudah berdiri sejak tahun 1983. Oh ya, pesantren ini membiayai seluruh kegiatan operasionalnya secara mandiri dengan pembiayaan infak yang di kelola dari jamaah, pengajian-pengajian, dan para simpatisan. Jadi kalau masih banyak kekurangannya ya wajar, lha wong tidak ada dana :(. Guru yang mengajar disini juga dibiayai dari sumber dana yang sama. Kata si Bapak yang menemui kami kemarin, kurikulum pendidikan yang diajarkan disana adalah murni 100% kurikulum Islam dengan pembinaan aqidah dan akhlak, ada juga kurikulum tambahan mata pelajaran umum seperti matematika, biologi, kimia, fisika dan bahasa Inggris tapi sayang tidak ada gurunya. Katanya sih ada beberapa yang sempat mengajar, tapi seringnya tidak datang mengajar. Entahlah, apa karena waktu mereka yang berbenturan dengan hal lain, atau karena (hanya) dibayar secara sukarela.

Begitu masuk kita sudah dihadapkan dengan pemandangan yang sedikit kumuh. Bangunan 2 tingkat itu semacam bangunan semi permanen, campuran antara tembok dan papan (triplek). Di bawah, ada sebuah ruang yang sedikit lebih besar yang difungsikan sebagai ruang serbaguna. Jika waktu shalat telah tiba ruang tersebut difungsikan sebagai masjid, di lain waktu juga difungsikan sebagai kelas untuk belajar para santri, namun jika sedang ada acara seperti sekarang juga digunakan sebagai ruang pertemuan. Ada hal yang sedikit memprihatinkan, ketika ruangan itu difungsikan sebagai tempat belajar, pemisah “kelas”-nya hanyalah sebuah papan setingi kurang lebih 1,5 meter yang tentu saja jika proses pembelajaran sedang berlangsung di “kelas” sebelah, pasti akan terdengar oleh murid di “kelas” sebelahnya. Bersyukurlah kita yang dulu menjalani proses pendidikan di ruangan dan kondisi wajar dan nyaman.

Kami mendongeng di antara sekat pembatas santri putra dan putri. Kami membawakan dongeng fabel yang berjudul Bella Si Kupu-Kupu. Jumlah santri yang mengikuti kegiatan ini sekitar 37 orang dengan range usia antara 8-12 tahun. Ketika melihat mereka jujur hati saya trenyuh. Baju yang mereka pakai kebanyakan sudah kumal dan kusam, warna putihnya pun sudah pudar :(. Namun semua itu tak melunturkan semangat mereka untuk mengikuti acara kami hingga selesai. Mereka mendengarkan dongeng kami dengan antusias. Ya walaupun sesekali terdengar becandaan di sana-sini tapi secara keseluruhan saya melihat antusiasme mereka mengikuti kegiatan ini adalah karena mereka menganggap ini adalah sebuah kegiatan baru bagi mereka.

Seusai sesi mendongeng, kami pun mulai membagi mereka dalam beberapa kelompok kecil untuk selanjutnya bekerjasama untuk mengkreasikan sebuah dongeng baru ala mereka. Kami membagikan kertas HVS, kertas warna, krayon, pensil, penghapus, dan spidol. Jujur saya sempat meragukan kemampuan mereka dalam mengolah kata, apalagi berimajinasi membuat dongeng. Dengan melihat lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka sepertinya kurang memberikan ruang dan kesempatan bagi anak-anak untuk mengembangkan diri apalagi berimajinasi dan berkreativitas. Hmm.. :-?

Namun di akhir sesi mengarang bebas itu, tak disangka-sangka, mereka yang awalnya tampil dan berinteraksi secara malu-malu, ternyata ketika diberi kesempatan untuk maju membawakan dongeng kreasi mereka hasilnya bagus-bagus lho. Mereka bukan hanya mampu membuat dongeng fabel, tapi sebagian besar juga menggabungkannya dengan kutipan ayat-ayat Qur’an/hadist. Pantas saja ketika kami mendongeng, beberapa diantara mereka ternyata bukan hanya sekedar mendengarkan kami mendongeng, tapi juga mengerutkan dahi mengingat-ingat dan saling bertanya pada rekan disebelahnya tentang hubungannya dengan ayat Qur’an beserta artinya. Subhanallah.. Ah, saya jadi merasa kecil dan bersalah sudah underestimate duluan sama mereka.. :(

Kami mengakhiri aktivitas hari itu dengan mengumumkan kelompok favorit yang berhasil mebawakan dongeng dengan baik dan memberikan mereka hadiah tambahan selain goodie bag yang berisi perlengkapan sekolah berupa buku dan alat tulis yang kami bagikan ke seluruh peserta workshop hari itu.Ternyata pemberian sederhana kami itu disambut dengan senang hati dan antusias oleh mereka. Oh ya, saya yang kapan hari sempat beli buku dongeng yang entahlah mungkin sayanya yang impulsive, dan belum sempat saya baca, akhirnya saya serahkan buku itu sebagai kenang-kenangan dan bahan hiburan/bacaan bagi mereka.

Alhamdulillah, ternyata saya dan juga teman-teman yang tergabung dalam @IDceritaJKT masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk berbagi ilmu, keceriaan, dan sedikit rezeki dengan kaum dhuafa dan yatim piatu .. :). Semoga akan ada banyak kegiatan kreatif dan positif bersama anak-anak lainnya di lain waktu dan kesempatan :)

 

 

dokumentasi pribadi

Setengah Windu

Sebenarnya postingan istimewa ini terlambat satu hari. Ya, seharusnya postingan ini saya buat kemarin, tepat di hari ulang tahun pernikahan saya yang ke-4 :D. Tapi apa daya, kemarin adalah hari yang sibuk untuk saya. Mulai jam 08.00 – 11.00 harus sudah stand by untuk mempersiapkan sekaligus bertugas sebagai MC pada acara pelantikan pejabat eselon II dan IV di lingkungan Sekretariat Wakil Presiden (berdiri kelamaan itu pegel :-s). Sesampainya di kantor berkas sudah menggunung untuk menunggu penanganan. Sore/malamnya pun jadwal lain sudah menunggu. Meeting bersama @IDceritaJKT di Anomali Coffee sekaligus penyerahan hadiah yang kemarin \:D/. Pffiuh.. Sedikit capek sih, tapi menyenangkan.. :)

Seperti tahun-tahun sebelumnya, sms ucapan pertama datang dari Mama mewakili Papa dan adik-adik. Ucapannya walaupun nyaris sama dengan tahun-tahun sebelumnya tapi selalu bisa bikin saya mewek terharu. Biasalah, saya kan emang orangnya gampang terharu :D.

Di usia pernikahan saya yang telah memasuki setengah windu ini saya melihat ada banyak perubahan nyata dalam diri saya maupun Hubby. Semoga sih mengarah ke yang lebih baik ya. Tapi kami masih terus saling belajar memahami diri masing-masing.

Memang benar apa yang orang sering katakan. Tuhan bekerja dengan cara dan bahasa yang misterius. Kadang apa yang kita inginkan belum tentu itu yang akan diberikan. Tapi Dia selalu tepat ketika memberikan apa yang sesungguhnya kita butuhkan. Nah, apakah itu juga terjadi pada saya? Sepertinya iya..

Kalau diperhatikan, saya dan Hubby sekarang lebih saling melengkapi. Tuhan memberikan keseimbangan buat kami, diantaranya :

1. Si Hubby aslinya pendiam dan serius. Nah (seharusnya) dia merasa beruntung mendapatkan saya yang suka becanda, konyol dan yang senang menularkan hal-hal absurd, ya :p. Terbukti dia sekarang sudah tidak sependiam dan seserius dulu lagi. Sekarang dia tumbuh menjadi hubby yang lucu dan tertular absurd \m/. Dulu nih ya, kalau dia lagi berdiri/duduk dekat tembok, tembok aja sampai minder karena kalah diem sama dia. Nah sekarang tembok sudah boleh berlega hati karena saingannya sudah berkurang satu ;)). Ah ya, semoga Hubby nggak baca postingan ini.. *ngaduk semen*

2. Buat saya yang buta jalan peta dan tukang nyasar merasa beruntung mendapatkan dia yang mirip peta. Bukan, bukan mukanya! Tapi pengetahuan dan ingatannya tentang jalanan. Kalau mukanya yang kaya peta, berasa saya menikahi buku atlas dong. Nah, gara-gara saya bego banget soal jalanan dia nggak pernah bosen buat menginstalkan google maps di setiap handphone saya. Hasilnya? Saya sudah jarang nyasar dong.. \:D/. “Jarang” itu dalam artian sesekali masih nyasar ya.. ;))

3. Hubby orangnya sangat well organized, ketika akan membuat keputusan atau sedang merencanakan sesuatu benar-benar disusun secara hati-hati dan penuh perhitungan. Sementara saya orangnya agak-agak slonong boy, on the spot aja gitu. Jadi untuk hal ini saya merasa beruntung karena bisa belajar keteraturan dari dia. Contohnya saja rencana mudik lebaran ke Surabaya. Saya cenderung mikir cari tiket nantilah sebulan atau dua bulan sebelum hari raya. Kalau dia, sudah direncanakan sejak awal tahun. Dia juga sudah tahu kapan dia akan mulai mengambil cuti, berapa biaya yang kira-kira akan kita butuhkan, dll. Saya? Eerrr.. Boro-boro :| *milin-milin karpet*

4. Hubby termasuk orang yang telaten. Sementara saya adalah kebalikannya. Dia cenderung menikmati alur sebuah proses. Sementara saya orangnya suka gradak-gruduk. Maunya serba instant, serba cepat, nggak pakai lama. Tapi makin kesini saya melihat ternyata ketelatenan dia justru yang ada hasil konkretnya. Sepertinya saya harus banyak belajar sabar dan telaten sama dia :D Hubby termasuk juga yang sabar menunggu saya ketika saya sedang ada kegiatan di luar, misal meeting dengan komunitas saya. Dia juga mau mengantar dan menjemput bahkan pernah dia pulang kantor dan langsung menjemput saya trus menunggu di mobil sampai ketiduran, hihihi.. >:D<.

Sebenarnya sih ada beberapa hal lainnya yang ternyata saling menyeimbangkan diantara kami. Memang pernikahan kami baru seumur jagung. Masih banyak hal yang perlu kami benahi. Ada banyak rencana dan mimpi yang sedang berusaha kami wujudkan satu persatu. Semoga ada jalan terbuka yang mengarah kesana. Aamiin..

 

Dear Hubito, thanks for all experiences we did (happy and sad). Thanks for your acceptance and support on my undertakings. Thanks for the shoulder to cry on defeats. Thanks for filling my shortcomings. Thanks for the cheer on triumph and success. Last but not least, thanks for growing and learning each day with me.

 

 

I love you.. :-*

 

 

ilustrasi : disini dan koleksi pribadi

#indonesiajujur : Tip of An Iceberg

A lie may take care of the present, but it has no future ~ Unknown

—–

“Dek, kamu nggak belajar? Kan besok ujian..”
“Tenang aja, Pa… Aku udah tahu jawabannya, kok..”
“Maksudnya kamu sudah dikasih kisi-kisi soal sama gurumu?
“Bukan kisi-kisi, Pa.. Tapi jawaban. Kita semua udah dikasih tahu jawabannya apa aja, jadi besok tinggal jawab aja…”

Kawan saya bercerita dengan ekspresif tentang jawaban anaknya yang akan menjalani ujian. Mungkin zaman memang sudah berubah, dan perkembangan aktivitas contek menyontek yang klasik itu dalam prosesnya sudah sudah mengalami metamorfosa. Demi sebuah nilai bagus, peringkat/ranking, kredibilitas, dan adanya pengakuan tentang kemampuan diri, akhirnya anak didik dan sekolah pun menghalalkan segala cara untuk meraihnya.

Membahas tentang kasus Ny. Siami yang sedang heboh itu, alih-alih ingin mengungkap praktik kecurangan selama berlangsungnya Ujian Nasional di SDN Gadel II Surabaya nyatanya malah berbuntut panjang. Ny. Siami sekeluarga justru diusir dari lingkungan tempat tinggalnya oleh warga setempat, dituduh tidak punya hati nurani, dan dianggap terlalu membesar-besarkan masalah. Ujung-ujungnya dia yang harus meminta maaf kepada pihak sekolah dan warga karena dianggap telah mencemarkan nama baik sekolah. Ironis, pihak yang seharusnya mendapat dukungan dan pembelaan malah diperlakukan dengan semena-mena dan diintimidasi.

Kemarin, saya mendapatkan kisah yang nyaris sama dari salah satu teman saya yang ternyata juga mengalami kejadian yang hampir sama dengan si Al, bedanya dia tidak sampai mengalami pengusiran seperti Ny. Siami dan keluarga.

“Jaman waktu masih sekolah dulu aku juga pernah ngalamin kejadian kaya gitu, Dev. Aku diminta guruku untuk berbagi jawaban sama temen-temen yang lain. Jujur, aku ngasih contekannya antara ikhlas nggak ikhlas. Tapi mau gimana lagi, lha wong disuruh.. :|”

Sebaliknya ada juga yang dengan sukarela memberikan contekan untuk teman-temannya dengan alasan setia kawan, teman seperjuangan, dan solidaritas. Ada yang terang-terangan, “nih, contek nih..”. Tapi ada juga yang memberikan inti jawabannya saja, kalimat selebihnya silakan dikembangkan sendiri sesuai dengan ‘imajinasi’. Tapi itu hanya bisa dilakukan kalau jawabannya berupa soal dengan essay, lha kalau pelajaran matematika apa yang bisa diimajinasikan? Atau multiple choice misalnya, masa iya jawaban berdasarkan hitungan kancing baju? Jujur, dulu saya juga pernah mencontek kok; menconteknya pas dalam keadaan kepepet. Tapi deg-degannya juga ampun-ampunan. Takut ketahuan guru, takut kalau nilainya bakal dikurangi kalau ketahuan mencontek, dan jauh dalam hati kecil ada rasa bersalah karena sudah berlaku tidak jujur. Akan beda tingkat kepuasannya ketika kita mendapat hasil bagus hasil kerja sendiri dibandingkan dengan hasil mencontek. Mempersiapkan diri dengan belajar sendiri itu jauh lebih menenangkan saya daripada harus bergantung pada  jawaban pada orang lain. Untuk menghindari menyontek, kadang saya lebih memilih menjawab dengan menggunakan feeling, pilih saja jawaban yang masuk akal atau yang lebih mendekati. Atau kalau misalnya jawaban A, B, dan C sudah banyak mungkin ini adalah saat yang tepat untuk melingkari/menghitamkan jawaban D atau E! \m/. Jangan lupa sambil berdoa semoga yang mengoreksi sedang mengantuk atau alat scanner-nya error sehingga meloloskan jawaban yang seharusnya salah menjadi benar! Ngawur kok bangga! ;))

Kasus Ny. Siami yang berusaha membuka kecurangan pihak pengajar di SDN Gadel II Surabaya ini sebenarnya just a small evident part of something that largely hidden. Apa yang sengaja diungkapkan oleh Ny. Siami ini hanyalah sebagian kecil pengungkapan fakta di lapangan yang jauh lebih besar. Semacam tip of an iceberg.

Kemarin saya juga sempat berdiskusi ringan dengan teman saya Wong Iseng. Beliau mengatakan begini :

“Kasus contek-menyontek yang ‘dihalalkan’ ini lebih dari sekadar masalah kejujuran, Dev. Ada semacam ‘kesepakatan’ tidak tertulis yang menyatakan bahwa siswa yang berhasil melewati (baca: mengakali) ujian suatu mata pelajaran sama dengan berhasilnya siswa itu menguasai mata pelajaran tersebut. Makanya ada yang namanya SKS (Sistem Kebut Semalam), contek menyontek, dan pendidikan  yang tanpa hasil karena intinya hanya bagaimana mengakali ujian tanpa mengerti apa yang diajarkan…”

Ada semacam paradigma yang berkembang di Indonesia, lulus/tidaknya siswa dalam ujian nasional itu sama seperti seorang yang akan menghadapi vonis kematian. Tampak begitu menyeramkan bukan hanya bagi siswa tapi juga bagi sekolah. Karena jika pada kenyataannya ada banyak siswa yang tidak lulus ujian nasional, maka akan menyebabkan jatuhnya peringkat dan kredibilitas sekolah di mata masyarakat. Semakin tinggi nilai yang diraih siswa dan besarnya prosentase kelulusan siswa, akan menjadi salah satu parameter keberhasilan guru dalam mendidik siswanya. Nah, adanya tuntutan untuk mengusahakan agar siswa bisa lulus semua inilah yang menyebabkan siswa dan sekolah ‘menghalalkan’ segala macam cara untuk menghadapi Ujian Nasional.

Seperti halnya make up yang berfungsi untuk memperindah dan mengoreksi wajah, sekolah yang sebenarnya tidak sanggup mendidik anak untuk  mampu menjawab UAN ikut memakai make up. Anak didik bisa lulus dengan nilai bagus tapi dari hasil menyontek, sehingga hasil pendidikan yang bisa dibawa anak setelah lulus tetap  tidak terpecahkan, karena orientasinya masih berkutat pada kisaran angka (baca: nilai yang bagus). Jadi, selama root cause-nya tetap sama,  selamanya akan tetap ada usaha untuk mengakali ujian demi nilai bagus dan terbentuknya citra pendidikan yang berhasil. Walaupun mungkin pada kenyataannya tidak demikian.  

Memang tidak semua yang ikut ujian nasional itu lulus karena mencontek. Masih banyak siswa yang lulus dengan nilai memuaskan dari hasil usaha sendiri. Tapi belajar dari kasus Ny. Siami kemarin akhirnya membuka mata kita lebar-lebar, pun menyadarkan kita bahwa kejujuran di Indonesia ternyata baru sebatas wacana. Kita masih harus belajar banyak untuk menghargai arti kejujuran yang terlanjur disikapi secara salah kaprah.

Kembali lagi ke hati nurani sih kalau menurut saya. Bagaimana menurut Anda?
:)

 

 

ilustrasi dari sini

Service Excellent (2)

Disclaimer : tulisan ini dibuat bukan bermaksud untuk membandingkan brand taksi yang satu dengan lainnya. Hanya sekedar berbagi pengalaman yang berkesan dengan seorang sopir taksi yang attitude-nya lain daripada yang lain.

—–

Dulu, sejak saya masih di Surabaya dan masih sering mondar-mandir ke Jakarta, saya sering menggunakan jasa layanan taksi berlambang burung biru terutama guna mengantarkan saya ke bandara pagi-pagi buta untuk mengejar first flight. Di beberapa kota besar selain Jakarta sepertinya citra perusahaan transportasi tersebut masih terbilang positif dan bahkan menjadi favorit semua orang. Tak terkecuali saya pada waktu itu.

Namun sejak berdomisili di Jakarta, ternyata citra tentang perusahaan transportasi favorit saya itu justru sebaliknya. Di Jakarta, taksi-taksi dengan brand non burung birulah yang jadi favorit penumpang. Alasannya kebanyakan karena sopir taksi burung biru kurang paham dengan jalanan ibu kota. Sebenarnya sih cukup bisa dipahami. Tingkat kesulitan untuk menghafal hampir semua rute jalanan ibu kota lebih besar ketimbang menghafal jalanan di daerah yang relatif lebih kecil. Untuk ukuran kota sebesar Jakarta dengan segenap gang, ceruk, dan lekukan, serta banyaknya nama daerah/jalan yang harus dihafal kurang memungkinkan untuk driver-driver yang kebanyakan masih muda dan mungkin belum pernah berpengalaman menjadi sopir taksi untuk langsung berjibaku di jalan raya. Walaupun semua itu tidak bisa dianggap sebagai pemakluman ya. Karena resiko terjun “berkarir” sebagai seorang sopir taksi ya harus tahu jalan. Kan nggak lucu kalau driver dan penumpangnya sama-sama nggak tahu jalan dan akhirnya nyasar berjamaah.

Nah, beberapa waktu yang lalu kebetulan saya pulang kantor naik taksi. Berhubung sudah lama berdiri di pinggir jalan dan taksi yang saya tunggu selalu penuh, akhirnya ya sudahlah saya putuskan untuk naik taksi burung biru yang lewat di depan saya. Awalnya sih sama saja, seperti biasa, tidak ada yang istimewa dengan pelayanan driver-nya. Hingga beberapa meter lepas dari kantor driver itu menunjukkan pelayanan yang “lain daripada yang lain”.

Kalau soal menyapa penumpang dan menanyakan arah tujuan sih sudah biasalah ya. Tapi kalau sampai menanyakan apakah AC-nya sudah cukup/kurang dingin buat saya, apakah tempat duduknya sudah cukup nyaman, atau ada beberapa greeting yang tidak biasa saya dengar, sepertinya dia memang berbeda . Kalau naik taksi kan biasanya kalau kita sudah naik ya sudah naik saja, tinggal menyebutkan tujuan kita kemana, ingin lewat mana, sampai di tujuan kita tinggal bayar sesuai dengan argo. Selesai. Tapi ketika kita bukan hanya sekedar diantar tapi juga ditanyakan apakah kita sudah cukup nyaman berada di dalam  taksinya. Itu yang tidak biasa.

Diam-diam di sela kesibukan saya memelototi timeline twitter, saya memperhatikan lagi si Bapak yang saya perkirakan berusia sekitar 40-an itu. Kalau pelayanannya seperti ini jangan-jangan memang perusahaan sedang ingin memperbaiki citra yang kurang bagus di mata konsumen nih. Bagus juga ide perubahannya. Pikir saya. Ah, saya benar-benar seperti seorang mistery shopper deh kalau begini. Itu lho, pihak independen yang bertugas menilai kinerja badan usaha (pihak) tertentu yang salah satunya bertujuan untuk mengukur/mengetahui tingkat kepuasan konsumen. Oh ya, ketika masih aktif di dunia pelayanan dulu saya juga sering bertindak sebagai seorang mistery shopper/caller untuk mengukur seberapa jauh pengetahuan mereka tentang produk, bagaimana cara mereka melayani pelanggan dengan berbagai macam karakter, bagaimana cara penyelesaian mereka ketika menangani kasus tertentu, dll..  *pasang topeng* ;))

Beberapa saat kemudian, menjelang Bundaran Hotel Indonesia, tiba-tiba handphone Si Bapak itu berbunyi nyaring. Lagi-lagi saya dibuat terkesima dengan attitude beliau. Sebelum menerima telepon ternyata dia meminta izin apakah saya berkenan jika dia menerima telepon saat itu. Kalau driver lain mah boro-boro minta izin, kadang nyetir juga ada yang disambi sms-an kok :|.

Driver : mohon maaf Ibu, saya mohon izin menerima telepon, boleh?
Saya : oh, silakan Pak.. *bengong*
Driver : terima kasih..

Tak lama, terdengarlah konversasi antara Bapak itu dengan seseorang di ujung sana :

Driver : selamat sore, Pak.. Iya, bisa dibantu? Saya sekarang sedang mengantar tamu, Pak. Benar sekali. Mohon maaf, bisa kita sambung lagi nanti, Pak? Atau nanti saya yang akan menghubungi Bapak kembali.. Baik, Pak. Terima kasih. Selamat sore..

Wow. Saya seperti mendengar seorang mantan petugas call centre atau customer service officer deh. Saya paham betul diksi dan gaya bahasa yang teratur rapi seperti itu. Kira-kira Si Bapak ini baru ikut training, sengaja berimprovisasi, atau memang pembawaannya seperti itu ya? Satu hal lagi yang membuat saya saya salut adalah beliau membahasakan saya dengan sebutan “tamu”, bukan “penumpang”. Itu yang selama ini jarang saya dengar.

Tidak hanya berhenti disitu saja ternyata. Di akhir perjalanan, mendekati tempat yang saya tuju Bapak itu menyampaikan sebuah greeting penutup :

“Sebentar lagi Ibu akan sampai di tempat, silakan diperiksa kembali barang bawaan Ibu, jangan sampai ada yang tertinggal. Jika selama perjalanan ada tingkah laku kami yang kurang berkenan, kami mohon maaf. Terima kasih telah menggunakan layanan kami, selamat sore. “

Speechless sayanya. Berasa naik pesawat yah ;)). Sebagai orang yang pernah lama menjalani pekerjaan di bidang pelayanan konsumen menjadikan saya jauh lebih peka. Beginilah seharusnya pelayanan sebuah perusahaan transportasi besar, tidak hanya sekedar mempekerjakan driver yang memiliki skill menyetir dan mengantarkan tamu/penumpang dengan selamat sampai tujuan, tapi juga juga membekali mereka dengan soft skills, pengetahuan tentang etika, dan standar pelayanan. Hal yang remeh sih ya, cuma sapaan doang. Tapi itu membuat saya harus memberi acungan jempol untuk pelayanan Bapak itu. Beliau tahu bagaimana cara memberikan service excellent. Pelayanan prima, pelayanan yang melebihi ekspektasi konsumen. Terlepas dari apakah itu hasil training (pendidikan) sebelum mereka diterjunkan ke jalan raya, ataukah memang improvisasi beliau sendiri.

Setelah kejadian itu, saya jadi penasaran untuk naik lagi brand taksi yang sama dengan yang saya naiki waktu itu. Tujuannya hanya satu yaitu untuk membuktikan apakah saya akan mendapatkan perlakuan yang sama dengan waktu saya naik taksi yang kapan hari. Iseng banget yah? :p

Hasilnya? Tidak ada satu pun yang memberikan hal yang sama dengan Bapak itu. Setelah menanyakan tujuan saya kemana, mereka kebanyakan ya lanjut saja. Tidak ada obrolan atau sapaan sekedar menanyakan AC, menanyakan kenyamanan saya, meminta izin ketika akan menerima telepon, atau menyampaikan salam ketika saya akan tiba di tempat tujuan.

Kalau iya itu adalah salah satu cara membentuk/memperbaiki citra perusahaan ya seharusnya semua attitude sopir taksinya sama dong? Lha wong dari satu label perusahaan, kenapa yang satu bisa bagus banget, sedangkan yang lainnya biasa banget? Tapi buktinya tidak begitu. Hanya satu saja yang seperti tadi.

Atau, ini misalnya ya, semua salam itu adalah bagian dari salah satu “aturan khusus” bagi driver senior dengan level tertentu tapi buktinya waktu saya di Bandung dan kebetulan menumpang brand taksi yang sama tapi pelayanannya kok nggak gitu ya? Saya sempat melihat identitas Si Bapak Driver (yang memang santun ini) levelnya sudah Ketua Group, tapi saya tidak melihat ada hal istimewa ketika membawa kami hingga ke tujuan tuh :-?. Saya dan Si Hubby bahkan sempat saling berpandangan ketika Si Bapak ini tetap menerima telepon ketika  Blackberry-nya berdering (tanpa izin-izinan pada kami) , menginformasikan tentang adanya interview calon driver kepada penelepon di ujung sana. Nah lho.. jadi sebenarnya tidak ada bedanya dong apakah dia seorang driver junior atau senior, apakah dia anggota group atau ketua group, kan?

Ah ya, sayang sekali saya tidak mencatat identitas Si Bapak Driver yang sudah memberikan pelayanan sempurna kapan hari. Kalau ada, sepertinya saya harus merekomendasikan Bapak itu agar bisa menjadi panutan bagi rekan kerja lainnya.

Anyway, you did a good job, Sir! :-bd