Trus, salah siapa?

Disclaimer : paragraf awal termasuk curhat colongan. Paragraf berikutnya? Silahkan dibaca.. 😉

Saya itu sebenarnya paling sebel kalau mengeluh/curhat sama suami. Bukan apa-apa, yang saya dapat pasti bukan komentar positif tapi banyak negatifnya. Kesel? Iyalah pasti. Lha wong tujuan saya curhat kan untuk memperoleh dukungan, bukan minta diomel-omelin ~X(. Pernah mengalami yang seperti itu juga nggak? No? 😮 . Woogh, berarti Anda termasuk makhluk beruntung. Nggak kaya saya :|. Dulu ya saya pikir suami saya itu suami yang paling tega sedunia yang nggak pernah mengerti perasaan saya, nggak pernah tahu apa yang saya mau :(( *mulai meres serbet*.

Seperti contoh kasus waktu saya punya masalah sama temen. Seperti biasa, saya bukannya dibela tapi malah dikomentari :

“Ah, kamunya aja yang terlalu sensitif kali. Jadi orang itu jangan terlalu perasa. Biasa aja..”.

Atau misal saya yang mulai curhat dengan lebaynya, komentarnya pun lurus-lurus saja :

“Oh, gitu doang? Biasa aja sih menurutku.. Ya seharusnya kamu dong yang bla5x, bukan malah begini, begini, begitu..”.

Kesel kan? Kesel kan? ~X(. Atau yang baru saja terjadi kemarin, waktu saya kepleset sampai lutut beset-beset :

Saya : Biboo, aku habis jatuuuh. Jalannya licin.. :((

Hubby : Oh.. Trus gimana, enak nggak tadi jatuhnya? *ngeliatin lutut saya berdarah-darah dengan muka lempeng*

Saya : Sejak kapan sih ada cerita jatuh itu enak?!! :((

Hubby : Trus tadi bangunnya ditolongin siapa? *cengengesan*

Saya : Aku bangun sendirilah.. 😐

Hubby : Oh, kasian dong. Terus besok masih pakai high heels lagi kalau hujan-hujan?

Saya : Hwaaa… Ho-ooooh.. :(( —> eh, serius lho saya masih sempat jawab gitu sambil mewek

Hubby : Kan udah dibilangin pakai sendal kalo hujan, kamunya bandel tetep pakai sepatu. Trus salah siapa? Salah gue? Salah temen-temen gue? ;;)

Saya : 😐 —> pengen lari ke hutan, lalu ke pantai sambil pecahkan gelas biar ramai..

Nah, seperti itu deh contohnya. Itu baru masalah jatuh, belum masalah yang lainnya. Pokoknya dia orang yang jarang memberikan kata-kata yang membesarkan hati kalau saya lagi curhat. Tapi terkadang justru dari situlah saya akhirnya sadar, dibalik “kejahatan” dan respon-respon pedas untuk semua curhat saya, rasanya kok jauh lebih realistis ya. Jadi mengajak berpikir untuk tidak menyalahkan siapa-siapa dulu sebelum mengintrospeksi diri sendiri. Bisa saja saya jatuh kemarin bukan karena jalanan yang licin, atau hak sepatu saya yang ketinggian. Tapi karena sayanya yang kurang hati-hati. Sudah tahu jalanan licin kok pakai high heels. Saya yang cari masalah kan? :p :-”

Dulu saya pernah baca -entah dimana, saya lupa sumbernya- : menyalahkan orang lain adalah sebuah seni. Saking indahnya kemasan “menyalahkan” ini membuat kita seringkali tidak sadar kalau sudah melakukan pelimpahan kesalahan kepada orang lain. Yang sering terjadi adalah ketika kita mulai dihadapkan pada sebuah masalah, maka solusi termudah yang bisa ditemukan adalah, “ini salah siapa sehingga menyebabkan kejadian seperti ini?”.

Kata-kata terakhir yang cukup menohok saya adalah, “lah, bukannya kamu sudah baca The Seven Habits. Terus mana implementasinya?”. Saya cuma bisa nyengir aja. Ok, saya memang suka baca tapi kalau sudah baca suka lupa saya tadi baca apa ;)) *melihat lemparan buku melayang-layang di udara ke arah saya*

Yah, baiklah. Terimakasih hubby, sudah mengingatkan saya untuk kembali mengingat poin ini di buku Seven Habit of Highly Effective People-nya Steven R. Covey :

“Your life doesn’t just “happen.” Whether you know it or not, it is carefully designed by you. The choices, after all, are yours. You choose happiness. You choose sadness. You choose decisiveness. You choose ambivalence. You choose success. You choose failure. You choose courage. You choose fear. Just remember that every moment, every situation, provides a new choice. And in doing so, it gives you a perfect opportunity to do things differently to produce more positive results.”

“Habit 1: Be Proactive is about taking responsibility for your life. You can’t keep blaming everything on your parents or grandparents. Proactive people recognize that they are “response-able.” They don’t blame genetics, circumstances, conditions, or conditioning for their behavior. They know they choose their behavior”.

Ternyata, suami saya itu sebenernya baik juga yah..  😕

Continue Reading