Siapa suruh datang Jakarta?

Semalam adalah malam yang sangat spektakuler buat hampir semua penduduk Jakarta yang hingga tengah malam masih terkatung-katung di tengah jalan lantaran banjir dan macet yang sangat parah. Berbagai live tweet tentang banjir beserta foto yang di-upload seolah menceritakan betapa lumpuhnya arus lalu lintas di Jakarta tadi malam. Ya, saya adalah salah satu manusia yang terjebak dalam kemacetan yang parah itu pemirsa..

Niat awalnya adalah mengantarkan adik saya ke Bandara Soekarno Hatta. Janjian maksimal jam 17.00 wib sudah di Gambir terpaksa dibatalkan karena hujan dan prediksi macet yang akan terjadi sehingga tidak mungkin kalau dia harus menunggu saya sementara dia harus sudah check in di bandara. Akhirnya tinggallah saya di dalam taksi dengan mencoba tenang “menikmati” macet, banjir, dan komplain-komplain via berbagai social media. Sempat stress juga ketika taksi yang saya naiki tidak bisa bergerak samasekali. Miris, ketika saya memutuskan untuk berjalan kaki tapi ketika melongok keluar jendela taksi, wow.. SUNGAI!! :((

Kemacetan dan banjir rupanya merata hampir di seluruh Jakarta. Suami saya yang naik motor terpaksa harus berputar-putar mencari jalan alternatif (jalan tikus). Tapi ternyata jalan tikus pun macet. Karena pikiran orang mungkin sama dengan pikiran suami saya, “ah kalau lewat jalan utama pasti macet, lewat jalan alternatif sajalah..”. Eh ternyata bertemulah mereka di jalanan yang sama. Jadi ya tidak ada bedanya antara lewat jalan utama atau jalan alternatif ;)) . Saya sendiri mulai berasa stressnya ketika mulai melihat jam sudah menunjukkan pukul 21.30 wib dan saya masih terkatung-katung di Jalan Gatot Subroto. Saya lihat juga si bapak supir taksi saya sudah stress juga sepertinya. Untunglah suami saya akhirnya menjemput dan membawa saya keluar dari kemacetan di sekitaran Giant – Mampang… untuk menghadapi kemacetan berikutnya tentu saja ;))

Saya toh juga sempat ngetwit begini :

Macet itu membuat org banyak bersyukur. Maju semeter aja sudah alhamdulillah : “alhamdulillah, akhirnya maju juga”
about 17 hours ago  via Twitter for BlackBerry®

dan begini :

Kalo Jakarta macetnya kaya begini, bayangkan ada berapa ibu hamil yg akan melahirkan dijalan ya..
about 17 hours ago  via Twitter for BlackBerry®

;))

Pagi ini di kantor hampir semua orang mempunyai cerita yang sama dengan versi masing-masing tentang kemacetan. Mereka rata-rata tiba dirumah antara pukul 22.00-23.00 bahkan ada juga yang lebih malam daripada itu. Semuanya mengeluh dan ngomel tentang betapa parahnya kemacetan Jakarta kemarin malam, saya juga cerita sih, tapi nggak pakai ngomel. Tepatnya adalah PASRAH! ~X(

Tapi saya justru berpikir iseng begini :

Sebenarnya kita semuanya sudah tahu kalau Jakarta itu kota banjir & macet, kan? Jadi ya sudah, kalau sudah memutuskan untuk tinggal disini ambil itu sebagai bentuk resiko dan konsekuensi logis. Jakarta itu ibarat sebuah produk yang dijual dengan sistem bundling. Kita tidak bisa hanya membeli salah satu fasilitas yang ditawarkan. Kalau kita sudah setuju membelinya ya kita tinggal menikmati fitur paket yang dijual terlepas dari mau tidak mau, berguna atau tidak. Jakarta disajikan lengkap dengan segala mimpi tentang kesuksesan hidup, dilengkapi dengan segala ketersediaan fasilitas, diberi essence manis pahit asamnya hidup kota besar, dan tak lupa semua itu disajikan lengkap dengan hiasan pita banjir dan macetnya.

Mengomel dan saling menyalahkan/menghujat satu sama lain pun tidak akan menyelesaikan masalah. Kalau memang iya solusinya adalah dengan mengganti pejabat yang kita salahkan itu lalu apakah pejabat berikutnya atau bahkan kita sendiri dijamin pasti  mampu menyelesaikan masalah klasiknya Jakarta ini? Nah, belum tentu juga tho? Bukan berarti kita harus nerimo dengan keadaan seperti ini terus-terusan, tapi ya kenapa kita tidak mencoba untuk mengakrabkan diri dengan kondisi yang bukan untuk pertama kalinya terjadi ini? Nikmati sajalah Jakarta dengan segala pernak-perniknya, toh nanti juga akan kebal & terbiasa. Soal terlambat, kebasahan, kedinginan, tampang jadi kucrut ya sudahlah terima nasib saja. Toh kita tidak sendirian mengalaminya kan? ;))

Jadi sewaktu-waktu kalau nanti kita eksodus ke negara yang kemacetannya tidak separah Jakarta kita sudah terbiasa. Misalnya pun ternyata ada macet-macetnya sedikit kita bisa komentar : “Ah, dulu saya pernah mengalami yang lebih macet dari ini kok?” | “Oh ya, dimana?” | “di Jakarta..” 😀

Baiklah, seperti lemparan sandal, aqua galon, dan keplakan mesra sudah mampir ke jidat saya ;)). Ya namanya juga mencoba menghibur diri dengan mencoba berpikir positif biar hati dan pikiran lebih rileks kan tidak ada salahnya tho? 😀

Jadi gimana, masih minat tinggal di Jakarta?  :-”
Pindah aja yuk.. :>

Continue Reading

Totem Pro Parte

Internet telah menjadi sebuah media sosial yang perkembangannya sangat pesat. Mau tidak mau internet telah menjadi salah satu pelengkap gaya hidup manusia, karena (rasanya) kalau tidak mengakses internet sehari saja seperti ada yang kurang lengkap dan ketinggalan informasi. Melalui internet kita bisa mendapatkan segala akses informasi dari berbagai penjuru hanya dengan sekali klik. Namun internet juga bagaikan pisau bermata dua, bisa bermanfaat tapi sekaligus ‘membunuh siapa saja yang kurang bijak ketika menggunakannya. Zaman sekarang memang eranya keterbukaan dan kebebasan berpendapat, namun jika kita kurang bijak menggunakannya bukan feedback positif yang kita dapatkan tapi justru sebaliknya.

Sebut saja twitter atau facebook yang notabene tingkat penggunanya di Indonesia cukup banyak. Facebook merupakan sebuah jejaring sosial tempat bersilaturahmi dengan teman lama, yang dilengkapi dengan media untuk memposting link tulisan/video/foto, mengomentari status teman, bermain games, dll. Manfaatnya, tentu saja bagi tiap orang bisa saja berbeda-beda, pun halnya dengan tingkat preferensi penggunaannya. Sedikit berbeda dengan twitter yang jauh lebih simple tampilannya, dia adalah jejaring informasi dalam 140 karakter. Soal informasinya bermanfaat atau tidak tentu saja tergantung siapa yang kita follow. Kalau kita anggap bermanfaat ya silahkan di follow, kalau tidak ya lewatkan saja, atau kalau ternyata setelah di follow ternyata kita merasa kurang sreg dengan isi twitnya ya gampang, tinggal unfollow saja, seperti kata Pramono Anung di akun twitternya :

“DEMOKRASI di Twitter nggak perlu gedung baru, nggak ada study banding, boleh menghujat, Suka di-follow, sebel-Unfollow, SEMUA SENANG”

Namun perlu hati-hati juga, semakin banyak jumlah follower atau teman yang ada dalam friendlist kita seharusnya membuat kita harus lebih berhati-hati ketika memposting status. Tentu masih ingat nasib beberapa orang yang “keseleo lidah” dan akhirnya membuat dia dicerca, dikritik, dimaki-maki, dan bahkan ada yang langsung menutup akunnya karena tidak kuat menghadapi kritikan pedas para pengguna social media yang lain karena telah mengeluarkan pernyataan yang menyinggung beberapa kalangan tertentu dan atau memberikan opini sepihak yang tidak pada tempatnya. Sebut saja kasus facebook-nya Ivan Brimob dengan status Polri dan cicaknya. Tifatul Sembiring dengan twit jokes AIDS-nya. Ada juga Mario Teguh (sayangnya akun itu telah dihapus) dengan twit tentang wanita yang pas untuk teman pesta, clubbing, merokok, mabuk dan bergadang sampai pagi tidak mungkin direncanakan jadi istri. Dan yang masih fresh, twit Hanung Bramantyo berikut ini :

hanung-bramantyo3

Kita memang bebas menulis apapun di akun social media kita, namun ada baiknya jika kita juga mampu menggunakannya secara bijak dan bertanggung jawab. Mengingat status kita disana bisa diakses & direspon secara langsung oleh orang lain, dari sanalah kita akan “bertemu” dengan banyak teman baru yang datang dari berbagai kalangan (dan kita pastinya tidak bisa mengenalinya satu-persatu), dari sanalah pula ‘sejarah’ kita bisa makin dikenal oleh orang lain atau justru malah akan tenggelam dalam hujatan pengguna social media yang lain hanya karena kita ‘keseleo lidah’.

Satu hal yang perlu diingat oleh semua pemilik akun social media :

” jika kita hanya mengetahui sedikit saja tentang sesuatu, atau hanya kulit luarnya, jangan pernah mengkritisi, mengambil kesimpulan secara sepotong-sepotong dan bahkan membuat opini sendiri secara totem pro parte, yakni menggeneralisasi sebuah kondisi padahal hanya untuk mengambil sebagian informasi saja. Seperti apa yang dikatakan oleh Bob Dylan, “don’t criticize what you can’t understand”, karena kebanyakan orang hanya melihat dari luarnya tanpa tahu isi didalamnya seperti apa..”

Nah, saya punya sedikit intermezo. Saya akan share sebuah video. Yang saya tanyakan adalah ketika Anda melihat video ini sebelum diputar, gambar apa sih yang ada dalam pikiran Anda? Iklan shampoo? Wanita berambut panjang? Rambut indah dan terawat? Atau mungkin ada yang lain? 😉

Nah kalau sudah menonton, coba bandingkan dengan apa yang ada dalam bayangan Anda tadi. Lalu maksudnya apa? Dari situlah kita bisa melihat bahwa apa yang kita lihat luarnya saja belum tentu sama dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Ready?
Selamat menonton ya 🙂

screen capture dari twitter

Continue Reading

Guru Bagi Sesama

Ada sebuah kata-kata filosofis yang membuat saya masih terngiang-ngiang sampai sekarang sejak melihat sebuah tayangan di salah satu televisi swasta beberapa waktu yang lalu, tentang sekelompok wanita yang bergerak di bidang LSM yang peduli AIDS di Surabaya. Nah kebetulan salah satu diantaranya ternyata seorang wanita yang “hanya” berpendidikan SMP tapi dia justru adalah pemimpin LSM itu.

Salah satu kata-katanya yang menurut saya inspiring sekali kurang lebih seperti ini :

“Suami saya selalu berusaha membangkitkan semangat saya. Dia bilang, kamu harus terus maju, jangan minder walaupun kamu hanya tamatan SMP. Sekolah tidak harus selalu ditempuh melalui pendidikan formal. Siapapun bisa jadi guru bagi lainnya. karena setiap kali kamu bertemu dengan orang lain atau orang baru, selalu ada ilmu baru yang bisa kamu dapatkan dari mereka. Pun halnya dengan tempat/lokasi. Ilmu tidak selalu didapatkan di sekolah. Dimanapun bisa menjadi tempat belajar bagimu..”

Kata-kata sederhana yang maknanya tentu tidak sesederhana kalimat yang terucap ya, karena nyatanya ada banyak makna yang tersirat didalamnya.

Tanpa sengaja seringkali kita justru banyak mendapatkan/mencuri ilmu dari orang lain tanpa kita sadari. Kita meniru sifat baik orang lain, berkaca dari kebijakan orang lain, atau belajar mengatasi masalah dari mereka dan lalu menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Nah, karena saking banyaknya yang sudah kita dapatkan dari orang lain kita baru sadar kalau ternyata ada banyak orang yang sudah berperan & berpengaruh dalam hidup kita.

Guru kita bahkan tidak selalu orang yang berasal dari kalangan akademisi, yang usianya harus lebih tua atau lebih berpengalaman dibandingkan dengan kita. Kita acapkali diajari oleh seseorang yang usianya justru jauh lebih muda daripada kita, seseorang yang pendidikannya jauh dibawah kita, atau bahkan bagi yang sudah memiliki putra/putri seringkali banyak belajar hal dari mereka. Kita belajar dari hal-hal kecil atau sesuatu yang remeh. Lokasi kita mendapatkan ilmu itu pun bukan terbatas lagi di sebuah bangunan dalam lingkup pendidikan, tapi bisa dimana saja. Bisa dijalanan, di rumah, di kantor, warung, fasilitas umum, dan lain-lain.

Saya pun banyak belajar dari teman-teman saya yang usianya sangat beragam, malah kebanyakan lebih muda daripada saya. Belajar bagaimana fokus menelusuri masalah dan mencari akar permasalahannya, belajar bekerja secara teliti, belajar sportif, belajar menjawab secara diplomatis ketika dibutuhkan. Bahkan tak jarang ada sebuah proses pembelajaran ketika ada hal-hal negatif yang menghampiri kehidupan saya, belajar bagaimana menerima sebuah kekalahan/kegagalan dengan positif dan lalu menjadikan sebuah pelecut semangat yang baru untuk sesuatu yang lebih baik ke depannya.

Ternyata banyak sekali pengaruh dan ilmu positif yang bisa kita dapatkan dari orang lain dan lingkungan sekitar ketika kita mau membuka diri. Kita bisa belajar dari siapapun, dimanapun. Karena sesungguhnya “everyone is a teacher for other”. Hmm, kalau begitu bisa jadi tanpa kita sadari mungkin selama ini kita juga telah menjadi guru/panutan bagi orang lain ya? 😕

Tuluslah ketika berbagi, akan ada imbalan berupa kebahagiaan tersendiri ketika kita mengetahui orang lain yang juga mendapatkan hal-hal positif karena kita..

Have a nice weekend :-bd

Continue Reading

Perempuan & fetishisme rambut panjang

Percakapan saya bersama teman kemarin sore, komentar di BBM gara-gara saya ganti profil picture ;)) :

Teman: wogh, rambutmu kaya iklan shampoo. Kalo gitu kamu kok kaya Kajol Kuch Kuch Hota Hai.. ;))

Saya : hahaha, bagus panjang kan ya. Aku nggak pernah punya rambut panjang..

Teman : itu rambutnya dhemit ya :))

Saya : hanjritos, dhemit? :-o*plak!*

Teman : itu rambut sambungan ya 😕 (maksudnya hair extension)

Saya : ho-oh.. sambungan sama taplak!

Teman : Lho, yang bener sambungan apa bukan sih?

Saya : ya bukanlah, asli ini! Asli sambungan! :))

Teman : keaslian panjangnya rambutmu diragukan! 😕

Saya : nggaklah, ini rambut asli, panjangnya juga asli, niat manjangin sejak setengah tahun yang lalu..

Teman: lha kok tumben dipanjangin?

Saya : iya di request sama si hubby

Teman: iya, kenapa ya para lelaki itu suka sama perempuan yang rambutnya panjang? 😕

Saya : ya biar njambaknya gampang.. :-“

Teman: jawabanmu sangat natural, pengalaman pribadi ya?

Saya : lha ya ngapain suamiku njambak-njambak rambut, kurang kerjaan apa?

Teman: ya kali bua ngetes rambutmu kuat apa enggak..

Saya : ho-oh, kemarin juga digantungi sama lemari sih

Teman: eh, gimana rasanya punya rambut panjang? gerah nggak?

Saya : err..kadang-kadang sih gerah dan rempong (ribet), tapi ya sekarang udah biasa..

Nah ya, saya itu sebenarnya dari dulu memang nggak pernah punya rambut panjang. Sepanjang-panjangnya rambut saya paling panjang sebahu, habis itu potong cepak lagi. Lebih suka rambut pendek karena selain lebih irit shampoo juga praktis aja gitu, nggak perlu repot mengeringkan atau ngeblow rambut dulu. Dibiarkan alakadarnya juga jadinya tetep keren kalau menurut saya. Secara saya kan orangnya nggak bisa anteng gitu ;)).

Sebenarnya sejak awal menikah saya itu sudah diminta memanjangkan rambut sama suami, karena menurut dia saya lebih pantes berambut panjang daripada rambut cepak. Nah sementara saya paling males punya rambut panjang karena selain ribet dan saya kurang telaten kalau harus ngasih ini itu, krimbath, hair spa dan teman-temannya. Paling-paling saya rajin pakai kondisioner dan perapi rambut aja, karena rambut saya itu termasuk yang nggak bisa berinisiatif rapi sendiri.

Tapi herannya ya, kebanyakan teman-teman pria, dan suami saya memang lebih suka melihat wanita dengan panjang. Pernah saya iseng tanya sama hubby, jawabannya :

Suami: ya kalau rambutnya pendek berasa kaya jalan sama cowok juga, kalau rambutnya panjang kan berasa jalan sama perempuan..

Saya : lha kalau kamu lagi jalan sama cowok rambut gondrong masih berasa jalan sama perempuan juga?

Suami: ya nggaklah, beda. Kamu tuh, masa iya aku nggak bisa bedain mana perempuan mana laki-laki sih?!
*sambit mercon*

Saya : ya abisnya kamu aneh. Masa misalnya nih ya, rambutku cepak, udah dandan dan pakai rok, masih juga kamu ngerasa lagi jalan sama laki-laki?

Suami : perempuan itu akan lebih terlihat feminin kalau rambutnya panjang..

Saya : :p ;)) :-”

Nah kalau yang pernah saya baca, ada beberapa alasan kenapa pria lebih suka dengan wanita yang berambut panjang, diantaranya :

“Komitmen. Mengingat untuk merawatnya diperlukan usaha, uang, dan kemauan lebih. Faktor-faktor tersebut mengindikasikan bahwa wanita berambut panjang memiliki perencanaan keuangan yang baik, kepercayaan diri, memiliki kesadaran cukup baik terhadap kesehatannya, juga melambangkan kelembutan. Kualitas kesehatan dan seberapa panjang rambut wanita juga menjadi daya tarik tersendiri di mata seorang pria”

Hmm.. masa sih? Rambut saya panjang tapi kok nggak pinter-pinter amat mengatur keuangannya ya? :-?. Saya juga bukan termasuk perempuan yang lembut tuh. Salah teori kayanya. Atau jangan-jangan karakter saya yang salah? 😮 ;)). Kalau panjang banget apa nggak malah tambah nyeremin ya? Apalagi kalau tahu-tahu udah berdiri di belakang kita pakai baju putih.. :-ss X_X

“Rambut panjang mampu menutupi bagian-bagian tertentu di wajah seorang wanita, seperti membuat garis rahang terlihat lebih ramping, dan membuat tulang pipi tidak terlalu terlihat mencuat..”

Oh, kalau ini saya agak setuju, secara pipi saya sekarang agak kelebihan lemak ;))

“Rambut panjang akan mengesankan wanita lebih feminin..”

Nah ini, saya itu orangnya nggak terlalu feminin sih ya. Tapi setidaknya sedang mencoba terlihat lebih feminin dengan rambut panjang ;;)

Kalau saya sih, mau apapun bentuk/model rambutnya, atau mau seberapa panjang rambutnya, terserah. Asalkan itu nyaman buat si pemilik rambut, sesuai dengan karakter wajah dan kepribadiannya sih akan terlihat bagus-bagus aja kok. Oh ya satu lagi, yang penting rambutnya sehat :-bd.

Nah kalau kalian lebih suka rambut panjang atau pendek? 😉

Continue Reading

Pintar saja tidak cukup!

Selepas upacara kemarin seperti biasa saya kembali disibukkan dengan pekerjaan rutin menangani berkas-berkas dan hal persuratan lainnya. Seperti biasa pula si bapak suka mampir ke kubikel saya untuk sekedar ngobrol, atau iseng melihat-lihat surat masuk.

Sampai akhirnya beliau membaca sebuah surat tentang permohonan izin tugas belajar keluar negeri.

Bapak : “oh, mau sekolah lagi tho? Bapak ini pinter orangnya.. “

Saya : “oh ya? beliau mau ambil S3 ya, Pak?”

Bapak : “iya, walaupun pinter tapi ada satu hal yang disayangkan. Dia kurang bisa membangun hubungan dengan orang lain. Hubungan interpersonalnya kurang bagus..”

Saya : “maksudnya gimana tuh, Pak? :-B”

Bapak :“jadi pegawai negeri itu jangan cuma pinter. Istilahnya, pinter saja nggak cukup..”

Saya : “maksudnya gimana sih pak? bingung sayanya..8-|”

Bapak : “iya, kamu kalau jadi pegawai negeri jangan cuma pintar secara akademis, hubungan interpersonal dengan orang lain juga bagus, mampu bekerjasama dengan orang lain.. “

Saya : “oh gitu. Lah, kalau soal itu ya bukannya tidak hanya berlaku buat PNS aja, Pak. Menurut saya sih itu berlaku buat semua. Intinya kehidupan yang berimbang gitu kan, Pak? Tapi aku pernah ketemu sih pak sama tipikal orang-orang yang kaya bapak maksud itu..”

Bapak : “iya, jadi, kalau kamu nggak bisa bekerja sama dengan orang lain di lingkungan kerja, ya pantesnya kerja jadi Staf Ahli aja..”

Saya : “emangnya kalau Staf Ahli itu gimana kerjanya?”

Bapak : “ya dia akan kerja sendiri. Itulah kenapa tadi saya bilang pintar saja nggak cukup..”

Si bapak lalu meninggalkan saya untuk menjawab telepon di ruangannya dengan sejuta tanda tanya, tsaahh ;)). Jujur percakapan singkat yang menggantung itu membuat saya jadi mikir panjang dan bertanya-tanya sendiri. Apa sih sebenarnya yang ingin disampaikan oleh si Bapak? Pintar itu ukurannya apa? IPK yang tinggi? Lulusan perguruan tinggi ternama atau universitas luar negeri? Lalu maksud dari kalimat “pintar saja nggak cukup” itu apa? Berkenaan dengan attitude? Salah penempatan posisi/jabatan pekerjaan dengan kepribadian? Hmm.. 😕

Memang cara yang paling mudah untuk bisa mengukur tingkat kepandaian seseorang secara hitam diatas putih adalah dengan melihat paparan nilai A, B, C, D , E yang tertera diatas selembar kertas transkrip. Tapi setelah diaplikasikan dalam pekerjaan apakah iya nilai-nilai itu mampu berbicara banyak? Sepertinya kok belum tentu ya../:)

Terkadang para pemimpin dan orang-orang yang berhasil di bidangnya itu bukan berasal dari orang-orang yang nilai akademisnya tinggi, namun justru mereka-mereka yang memiliki tingkat kepedulian terhadap sesama yang tinggi, empati dan loyalitas persahabatan yang kuat, serta perasaan cinta kasih yang luar biasa. Tapi sayangnya banyak perusahaan/instansi yang belum sepenuhnya menyadari hal ini sehingga mereka hanya berpatokan pada nilai akademik yang tinggi dan kemudian menempatkan orang-orang yang mereka anggap “pintar” itu di sebuah posisi yang belum tentu sesuai dengan kepribadiannya. Karena nyatanya belum tentu orang yang pintar itu memiliki kecenderungan mental/attitude yang sesuai dengan tempat kerja dan jenis pekerjaan tertentu. Sehingga rasanya perlu ada upaya cerdas yang mampu mengubah cara pandang nilai akademik sebagai satu-satunya tolok ukur kepandaian seseorang.

Oh iya, dulu saya pernah baca tentang sosok orang yang opsional dan prosedural. Orang opsional akan menganggap orang prosedural itu terlalu birokratis, terlalu terpaku pada teori, bertele-tele dan kurang luwes ketika mengambil kebijakan. Sedangkan orang prosedural akan menganggap orang opsional itu tidak punya pendirian, plintat-plintut, kurang bisa mempertahankan ide dan gagasan yang sudah disampaikan, terlalu excuse, karena pada dasarnya tipikal seperti mereka-mereka ini biasanya mahir dalam hal menerjemahkan ide dan gagasan dalam skema yang berurutan. Namun uniknya orang-orang tipikal opsional yang cenderung kreatif dan banyak ide ini tidak semuanya bisa menjalankan gagasan atau ide yang sudah dibuatnya, sehingga mereka membutuhkan bantuan orang-orang dengan tipe prosedural yang lebih sistematis. Jadi sebenarnya keduanya sama baiknya, sama-sama saling menunjang. Karena sesungguhnya manusia itu mahkluk yang unik, punya kelebihan, kekurangan, dan kecenderungan masing-masing. Jadi, bagian HRD sepertinya juga harus jeli melihat hal-hal yang seperti ini ya, jangan asal menempatkan orang yang dianggap pintar tapi ternyata kurang sesuai dengan kepribadiannya. 🙂

Tapi bukan berarti berorientasi dapat IPK tinggi itu sudah nggak penting ya. Kita tetap harus berusaha secara maksimal dong, do the best lets God do the rest. Namun jangan sampai lupa juga, bahwa hidup kita bukan hanya tergantung dari besaran nilai akademis saja, lebih dari itu perkayalah dengan skill dan kreatifitas yang bisa menunjang bidang pekerjaan yang kita minati nantinya. Oh ya satu lagi, cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan bidang pekerjaan kita.

Jadi kesimpulan global untuk percakapan singkat kemarin pagi :

“Menjadi orang yang pintar secara akademis itu bagus, tapi akan lebih bagus lagi jika juga ditunjang dengan pribadi dan attitude yang menyenangkan dalam pergaulan.. :-bd”

Continue Reading