Mendongeng? Yuk mari!

Waktu kecil dulu pernah didongengin nggak sama orangtua? Woogh, ada yang nggak pernah? Ah, pasti dulu masa kecilnya kurang bahagia ;)) *dilempar penggilesan*. Saya, sering, bahkan hampir setiap hari. Yang suka mendongeng dulu Papa saya. Tokohnya macam-macam, ada putri, pangeran, nenek sihir, cinderella, putih salju, sampai ke dongeng kancil. Diantara sekian banyak dongeng itu, dongeng favorit yang sering didongengkan oleh Papa saya yaitu Kancil Mencuri Ketimun. Bukan apa-apa, ceritanya sederhana, pendek, & cepat selesai ;)). Saya sering protes sama Papa karena dongengnya kok Kancil Mencuri Ketimun melulu, sampai saya khatam :((. Ya walaupun ada dongeng lainnya tapi dalam seminggu si kancil itu pasti tampil, sampai kadang Papa saya suka ngarang-ngarang sendiri dengan menampilkan pemeran pembantu yang berupa.. kancil juga ;)). Pokoknya tokoh kancil ini eksis bangetlah di jaman saya dulu.

Ketika saya sudah mulai lancar membaca, orangtua saya mulai membelikan saya buku dongeng sendiri. Koleksi saya waktu itu lumayan banyak. Kebanyakan cerita rakyat, tapi ada juga fabel & cerita karangan HC Andersen. Biar nggak bosen orangtua saya mulai membelikan saya kaset dongeng (Sanggar Cerita), ya salah satu alasannya biar tugas mendongeng nggak mutlak jadi tugas Papa saya kali ;)). Akhirnya gara-gara buku juga saya dulu iseng bikin komik/cerita sendiri, saya jilid sendiri, saya baca-baca sendiri :)). Multi talenta banget ya saya? *menyibakkan poni* :-“

Nah, kalau dulu kebiasaan dongeng adalah “hak eksklusif” bagi para orangtua, tapi kenapa sekarang sepertinya langka ya? Jangankan sempat mendongeng, ketika pulang sudah larut malam & dalam kondisi badan yang sudah lelah, anak-anak sudah pada tidur, besok pagi ketemu pas mereka mau berangkat sekolah. Kalau yang masih balita, malah mungkin lebih sering bersama baby sitter ketimbang orangtuanya sendiri. Jadi ya gimana orangtua mau mendongeng kalau badan sudah capek duluan. Yang tertidur nanti justru orangtuanya, bukan yang anaknya ;))

Meskipun saya belum menjadi orangtua kebetulan saya suka membacakan cerita buat anak-anak. Kalau lagi senggang biasanya saya baca cerita buat anak tetangga, cucu ibu kost, atau keponakan. Tapi ketika saya mulai kenal ada situs dongeng yang kebetulan dikelola oleh teman saya , dari situlah ketertarikan saya pada dunia dongeng mulai tumbuh, lalu mulai tertarik untuk menyumbangkan suara saya disana. Uhuk! :-“

Kata teman saya yang lain ketika saya cerita kalau saya jadi salah satu kontributor di sana :

“Kamu tuh ya, jadi orang kok nggak bisa diem.. ada aja kegiatannya.. Ikut inilah, ikut itulah, jadi inilah, jadi itulah. Sekarang malah jadi pendongeng. Eh btw, kok suaramu kaya Sanggar Cerita? “
;))

Ya gapapalah, itung-itung bantu temen.. *kedip-kedip sama simbah ;;) *

Awalnya situs ini dibuat karena beliau merasa prihatin karena kebiasaan mendongeng jaman sekarang sudah mulai langka. Maka dibuatlah situs tersebut dengan kontributor awal beliau sendiri yang kadang bergantian juga dengan beberapa teman blogger. Dongengnya pun beragam. Ada cerita rakyat, aesop fabel, karya-karya Grimm Brothers atau pun HC Andersen. Situs dongeng itu tidak hanya memuat tulisan saja tapi juga “bercerita” alias ada suaranya. Karena kontributor di situ memang sengaja merekam suaranya seperti ketika sedang mendongeng. Apakah syaratnya harus bersuara merdu? Ya nggaklah :-j . Suara abal-abal kaya saya aja buktinya bisa jadi kontributor ;;). Apalagi yang suaranya merdu & empuk. Pasti langsung diterima dengan senang hati sama beliau :)

Tahu nggak sih, sebenarnya efek dongeng pada perkembangan anak itu besar lho. Jika dongeng dibiasakan sejak kecil, ibarat sebuah gelombang radio, dengan bercerita pada anak berarti orang tua mengirim sinyal pada buah hatinya. Kalau dilakukan dengan ketulusan hati maka “transmisinya” jadi semakin kuat. Anak bisa merasakan meski belum memahami sepenuhnya. Jika dongeng diberikan pada bayi (anak) efeknya bisa mengaktifkan simpul saraf, merangsang fungsi indra, dan membuat anak akan jauh lebih peka.

Dongeng merupakan sarana yang paling mudah untuk bisa dicerna oleh anak-anak. Dongeng dapat membius anak untuk masuk ke dalam dunia khayal yang luar biasa, karena cerita yang menarik akan merangsang anak untuk membayangkan dan berandai-andai. Selain itu dongeng juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk menyampaikan suatu pesan & sarana untuk menyisipkan nilai-nilai kebaikan. Ahay.. mudah & murah meriah bukan? ;)

Jadi, nggak ada salahnya kan kalau kita mulai membudayakan lagi tentang kebiasaan mendongeng. Oh ya, kalau mau berpartisipasi menjadi pendongeng (seperti saya) silahkan menghubungi simbah ya, biar yang mendongeng lebih bervariasi gitu, nggak saya-saya melulu atau beliau-beliau melulu :p . Ciih, ke-GR-an banget sih? *dilempar elpiji*

Selamat mendongeng! ;)

You love me, you love me not..

Suatu pagi, saya datang dengan wajah setengah bersungut-sungut lantaran merasa kesal sama suami. Gimana nggak kesel, lha wong saya lagi sakit eh malamnya saya malah diomel-omelin. Bukannya dirawat atau dikasih kata-kata yang manis gitu, atau didoain biar cepat sembuh, tapi malah diomelin panjang lebar sampai rasanya kuping meleleh. Ah, mulai lebay lagi kan? ;))

Begitu naruh tas saya langsung ngomel ke temen saya :

Saya : “Hadeuh, kesel banget deh sama suamiku. Masa sakit-sakit begini semalem malah dimarahin. Nggak ada kasian-kasiannya..”, ngomel sambil terbatuk-batuk.

Teman : “hehehe, kenapa? kenapa? Kamunya bandel kali Dev? “

Saya : “halah, bandel apa sih? kebanyakan mainan layangan juga kagak. Cuma gara-gara aku minum obat batuk yang menurut dia over dosis aja. Yang harusnya 4 jam sekali, aku minum 2 jam sekali.. Ketauan sama suamiku, aku terus dimarahin..” (diucapkan dengan nada tanpa bersalah)

Teman : “Lha yo mesti. Wong kamu emang cari perkara, bikin aturan sendiri. Keracunan obat kapok kamu ;)). Tenang, kamu nggak sendirian, aku juga habis marahin istriku gara-gara dia bandel. Nggak aku bolehin makan bakmi karena aku takut perutnya sakit. Eh maksa makan bakmi juga. Wong namanya lagi hamil, aku nggak tega, ya sudah aku turutin. Tak beliin bakmi. Akibatnya perutnya kembung sampai sekarang nggak sembuh-sembuh.Tak marahin, tak diemin. Gitu sama suami nggak nurut. Aku emang marah banget sama dia Dev, tapi lama-lama nggak tega. Semarah-marahnya aku sama dia itu ya karena bentuk sayangku ke dia. Kalau orang Jawa bilang, “ngeman”, tapi kadang yang di-eman itu nggak nyadar kalau dia lagi disayang sama suaminya…”

Saya :
“wogh, gitu ya ternyata?” *manggut-manggut*

Sebagai pasangan hidup, suami saya termasuk pasangan yang kadar romantisme dibawah 50%. Jangankan ngasih bunga sama saya (dibahas lagi? ;)) ), bilang “I love you..” aja bisa dihitung dengan jari. Kalau pasangan lain mungkin bisa bilang I love you di facebook sehari sepuluh kali, kita nggak pernah tuh bilang kaya begitu di facebook. Ngiri? Ah, nggaklah. Kalau soal kemesraan kita sudah sepakat nggak akan show off di situs-situs pertemanan. Ya lagian juga buat apa? Wong handphone juga ada, kalau komunikasi ya tinggal BBM atau sms, lebih pribadi juga tho? Ya itu kalau kami. Prinsipnya bisa beda sama pasangan lain.. :)

Nah dialog diatas itu kebetulan saya lakukan bersama seorang teman kantor. Niat awalnya sih curhat. Tapi ujung-ujungnya kok saya jadi ketawa sendiri. Karena ndilalah orang yang saya curhati kok sifatnya hampir sama sama suami saya. Bahkan saya akhirnya bisa paham bahwa rasa sayang/perhatian suami itu tidak selalu lewat kata-kata mesra tapi justru lebih ke tindakan. Semarah-marahnya suami saya, sejahat-jahatnya dia menurut saya kadang ya dia masih ada benarnya. Rasa sayang yang ditunjukkan dia sama saya memang beda bentuk dengan apa yang saya inginkan. Kadang nih ya, yang namanya perempuan pengen sekali-kali diromantisin sama pasangan, dikasih kata-kata yang indah. Err.. digombalin gitu ya? Eh, ya enggak gitu juga, tapi pengenlah sekali-kali dikasih perhatian yang romantis sama suami sebagai bentuk rasa sayang dia ke kita. Uhuk! @};-

Tapi kalau nyatanya ke kita justru nggak seperti apa yang kita bayangkan, gimana coba? Disaat kita pengennya diperhatikan, dianya malah ngomel-ngomel nggak jelas. Ya siapa yang nggak kesel kalau kaya begitu ya? (mulai cari massa) ;)). Tapi ternyata kita (terutama saya) seringkali salah terima. Justru dibalik omelan & ceracauannya itu dia menunjukkan rasa perhatiannya sama kita. Tsaaahh.. (menyibakkan poni)

Seperti contohnya saya yang ngarang sendiri dosis obat batuk itu tadi. Dia ngomel karena takut lambung saya atau bahkan ginjal saya yang kena, sama kaya mertua saya. Dia nggak pengen itu terjadi sama saya. Atau ketika saya memaksakan dia untuk menerobos hujan (yang menurut saya cuma) gerimis itu & dia menolak mentah-mentah, itu karena dia nggak pengen saya & dia jadi sakit. Karena dia tahu badan saya itu rentan banget sama flu. Pun halnya ketika saya santai menyantap sambal tanpa kira-kira, dia yang sibuk ngomel panjang lebar karena nggak pengen perut saya bermasalah. Juga ketika dia ngomel tak henti-henti ketika melihat saya bandel tetep mantengin layar laptop ketika malam beranjak larut & saya nggak tidur-tidur. Itu karena dia khawatir badan saya demam lagi, karena dia hafal betul kondisi badan saya yang nggak bisa dipaksakan itu ;;) .

Jadi kesimpulannya, emang sayanya yang bandel kok. Seringkali menuntut pasangan harus begini-begitu, menutup mata ketika perhatian pasangan diaplikasikan dalam bentuk yang berbeda dengan apa yang kita inginkan. Sekarang pilih mana, dikasih bunga & dikasih kata-kata mesra yang belum tentu keluar dari hati (sekedar menyenangkan hati kita)  atau diperhatikan dengan tulus & tanpa basa-basi? Pasti pilihan kedua kan? (moga-moga nggak cuma saya yang memilih opsi kedua ya ;)) ).

Jadi, berhentilah mengeluhkan & membandingkan pasangan kita. Mulailah bersyukur dengan jodoh kita masing-masing karena sejatinya Allah menjodohkan kita karena Dia tahu apa yang sesungguhnya kita butuhkan bukan yang kita inginkan ;)

gambar ngambil dari sini

Kuterima Pinanganmu..

Setelah seharian Jakarta diguyur hujan yang tak kunjung henti hingga sore beranjak malam, saya sibuk sendiri dengan flu berat dadakan : batuk, pilek & demam karena radang tenggorokan yang menyerang sejak pagi. Entah apa yang salah sehingga saya mengalami serangan mendadak nggak pakai babibu seperti hari ini. Tapi yang jelas sepertinya memang kondisi saya sedang drop :-&.

Ditengah guyuran hujan yang awet itu tiba-tiba seorang teman yang sebelumnya hanya saya kenal via facebook jaman tahun jebot mengirimi saya pesan di twitter. Setelah ngobrol lucu-lucuan mendadak dia menawari saya untuk menulis sebuah buku bersama beliau. Karena dia suka dengan gaya bahasa saya di blog yang ringan & lucu. Ih, jadi pengen nyisir poni deh.. :”>

Wohoow.. jelas kaget. Karena tema buku yang beliau tawarkan pun tak main-main, yaitu buku keuangan untuk keluarga. Ternganga setengah tak percaya karena ya itu akan menjadi buku tips keuangan & “buku cerdas” saya bersama beliau yang pinter itu :O. Ya memang sih sebelumnya saya pernah menulis buku, tapi kan buku yang temanya ringan, lebih ke pengalaman sehari-hari. Lha kalau ini? Mendadak saya kok jadi gemeteran gimana gitu ya. Soalnya kan saya hanya rakyat awam soal dunia keuangan & saya tahu menulis buku keuangan itu bukan suatu hal yang mudah.. :-s

Ketika “pinangan” itu diberikan pada saya saya sempat mikir dulu, mampu nggak ya saya mengerjakan project serius macam ini? Saya kan bukan siapa-siapa, dan nggak tahu apa-apa soal perencanaan keuangan :-ss.  Tapi untunglah si bapak itu menenangkan saya bahwa saya boleh mengolah kata-kata sesuai dengan gaya saya, sementara beliau yang mengolah dari sudut keilmuan keuangannya. Ah, jadi sedikit lega. Asli jadi pengen tersanjung mendapat kehormatan menulis buku tips untuk keuangan bersama beliau. Eh, sengaja nggak saya sebut dulu siapa beliaunya ya. Biar surprise gitu ;).

Sahabat saya bilang begini :

“Gut! Ya sudah dicoba dululah. Kenapa enggak? Kalau kita nggak nekad ya nggak akan maju-maju. ‘;) “

Jadi, ya bismillah aja.. semoga bisa selesai sesuai target & konten plus bahasanya nggak malu-maluin ya [-o< ;)

gambar saya pinjam dari situ

Jadi, kapan?

“Pacarmu anak mana? Kuliah/kerja?”
“kapan kamu nikah?”
“Kapan punya anak?”
atau “Anakmu sudah berapa sekarang?”

Pasti kita sudah akrab dengan pertanyaan itu ya? Ya, pertanyaan yang “lazim” ditanyakan oleh teman, dan keluarga. Ya syukur-syukur kalau kebetulan kita sudah punya pacar. Syukur-syukur kalau kita sudah menikah. Syukur-syukur kalau kita sudah punya anak. Pasti enteng jawabnya. Lha kalau belum? X_X

Jangan ditanya bagaimana rasanya mendapat pertanyaan seperti itu disaat kita sedang : jomblo, belum menikah, dan belum punya anak ya. Awalnya sih mungkin bisa santai, jawab dengan hahahihi. Tapi kalau terlalu sering dipertanyakan (walaupun kadang bermaksud basa-basi) justru malah membosankan & bikin males jawab :(( . Saya memang nggak sendirian pernah menerima pertanyaan macam itu. Karena kebetulan juga sering dicurhati masalah yang sama ;)). Seperti kemarin saya juga dicurhati lagi sama seorang teman yang BT karena ditanya-tanya melulu sama ibunya kapan akan menikah. Padahal sampai sekarang pacar aja belum punya.

Teman : “hadooh, stress aku mbak.. Jangankan ngenalin pacar ke keluarga. Pacar aja aku nggak punya. Apanya yang mau dikenalin?”

Saya : “emang berapa sih usia kamu sekarang?’
Teman : “25 tahun”

Saya : “ih itu mah masih precil banget. Apalagi kamu laki. Masih mikir karir & memantapkan kerjaan dulu. Lagian kuliah S3-mu belum selesai kan? Belum kerja juga.. Kalau mau buru-buru nikah istri sama anakmu nanti kamu kasih makan apa?”

Teman : “iya, Mama itu maksa aku buat buru-buru nikah. Karena Mama takut aku tuh nggak nikah-nikah karena patah hati”

Saya : ” :)) Mama kamu berlebihan deh. Bilang dong, patah hati kelamaan itu rugi di kamu. Hari gini masih patah hati? Nggak mutu.. “

Begitu juga dengan curhatan seorang teman yang belum dikaruniai momongan.

Teman : “capek ya mbak kalau mesti jawab pertanyaan “anakmu udah berapa?”. Padahal hamil aja aku belum..”:( ”

Saya : “ya kalau mau nurutin perasaan ya pasti makan hati. Santai aja lagi. Semua kan sudah ada yang mengatur. Kalau Tuhan maunya besok kamu hamil ya besok bakal hamil. Udah nikmatin aja dulu pacaran sama suami.. Kalau ada yang tanya lagi jawab aja sambil becanda. Biar kamunya juga nggak stress..”

Teman : “iya, aku juga udah punya pikiran begitu. Tapi yang nanya suka nggak ngira-ngira. Masa bilang, “makanya kamu buruan hamil dong..”. Kalau aku bisa mengatur semauku kapan aku hamil & melahirkan saat itu juga aku bakal ngelahirin bayi. Sedih aja sama pertanyaan yang nggak kira-kira kaya begitu.. ~X( ”

Saya : *speechless*

Itulah kadang saya jadi super hati-hati kalau ketemu temen yang saya lihat profil di facebooknya masih sendiri atau berdua saja, tanpa foto anak atau pasangan atau pas ngobrol nggak menyinggung anak atau pasangan. Takut salah tanya & mereka jadi kurang nyaman sama pertanyaan saya. Ya kecuali mereka sendiri yang membuka ceritanya.

Dulu saya pernah mengalami masa-masa paranoid kalau tiap kali diajak ngobrol sama temen lama yang ketika menanyakan, “sudah hamil (lagi) belum?”, atau “anakmu berapa?”, karena pasti ujung-ujungnya seolah (dalam pikiran saya) mereka ingin ditanya hal yang sama & sudah punya jawaban : “anakku sekian..” atau “istriku lagi hamil..” >:). Karena kalau yang sama-sama belum punya momongan pasti ngerti & nggak akan nanya. Itu dulu , jaman saya masih sensitif ;))

Pernah sih ngerasa kurang nyaman karena kebetulan ada temen yang saya tahu mungkin dia saking suka citanya dengan kehamilan anak pertamanya hingga dia lupa kalau kalimatnya itu membuat orang lain seperti habis diiris-iris trus dikecrutin jeruk nipis.. :((

Teman : “hai mbak, gimana udah isi belum?”

Saya : “belum lagi.. Kenapa? kamu udah ya?”

Teman : “ih, udah dooong. Nih 2 bulan…”

Saya juga paling sebel tiap kali ketemu sama kerabat yang nanya melulu saya sudah hamil lagi atau belum? Kalau jarak waktu pertanyaan satu dengan lainnya cukup lama sih saya bisa maklum, namanya juga lama nggak ketemu. Tapi kalau pertanyaan itu ditanyakan di tiap pertemuan keluarga yang hanya berjarak seminggu, rasanya kok gimana gitu. Yang nanya ini nggak kreatif, nggak ada bahan obrolan lain atau gimana ya.. ~X(. Nanti toh kalau saya sudah hamil pasti saya kasih tahu kok sama halnya ketika saya akan menikah..

Makin kesini saya sih udah kebal. Semua hanyalah masalah waktu. Catatan penting buat keluarga, jangan terlalu sering menanyakan hal yang bisa membuat stress, seperti menyuruh menikah atau menyuruh hamil. Bukannya kita nggak kepengen lho. Kalau orang normal pasti pengenlah. Mungkin maksudnya sebagai bentuk perhatian ya, tapi kalau terlalu sering ditanyakan bisa jadi terror yang bisa bikin kepikiran. Kalau memang sudah waktunya, pasti semuanya akan terjadi kok. Lagian toh kita bukannya nggak berusaha tho? :)

Buat yang masih jomblo, nikmati dulu masa kejombloannya sampai tiba jodoh yang cocok dengan kalian (tapi jangan suruh saya nyariin ya, soalnya saya nggak punya stok). Buat yang sudah punya pacar tapi belum menikah, nikmati saja dulu masa pacarannya sambil nunggu restu orangtua & lamaran sang pacar. Ihiiy.. ;;). Buat yang sudah menikah tapi belum punya anak, nikmati dulu masa pacaran bareng suami sambil nabung buat persiapan punya baby. Nggak usah terlalu mikirin omongan orang, nanti malah stress & nggak menikmati hidup. Sayang banget kan? ;)

Percaya deh, semua akan indah pada waktunya kok.. :-bd

gambar ngambil dari situ

Anak vs Sinetron

Sebagai orang yang tidak menggemari sinetron, saya terbilang kurang update tentang sinetron apa saja yang sedang tayang, masuk episode berapa, ceritanya tentang apa, aktrisnya siapa saja. Yang saya ingat cuma sinetron jaman tahun jebot yang waktu itu ngehits banget : TERSANJUNG, yang sekuelnya dibuat sampai season enam (belas) mungkin? Dari cerita yang awalnya menarik sampai jadi aneh dan nggak masuk akal. Mulai dari cerita wajah asli sampai kecelakaan dan harus operasi plastik padahal itu untuk menggantikan pemain yang tidak diperpanjang lagi kontraknya oleh rumah produksi #-o

Cerita sinetron kita identik dengan kehidupan yang “bumi langit”. Perbedaan mencolok antara si kaya dan si miskin, yang kalau kaya bisa jadi kaya banget, kalau miskin ya miskin banget. Atau penokohan “hitam-putih”, kalau yang baik ya baik banget, kalau yang jahat ya jahat banget. Padahal kan kalau di dunia nyata yang jahat itu justru “abu-abu” ;)) . Adegan yang sepertinya ada kemiripan satu sama lain di setiap sinetron, misal : kecipratan lumpur dari mobil si kaya yang mengotori baju si miskin nanti ujung-ujungnya ketemu lagi & lama-lama mereka saling jatuh cinta, atau adegan ibu tiri yang jahat banget yang lebih mengingatkan saya pada bintang jadul Joyce Erna (kisah Arie Hanggara) atau ibu tirinya bawang putih ;)).

Memang nggak semua sinetron ceritanya begitu. Ada sinetron yang ceritanya membumi dengan pemain-pemain yang berakting sangat natural, misalnya : Si Doel, Keluarga Cemara. Ceritanya dekat dengan kehidupan sehari-hari dan akting para pemainnya pun juga alami. Ketimbang sinetron jaman sekarang yang kadang kurang realistis, banyak memunculkan kejahatan & kelicikan. Tapi kenapa justru sinetron yang seperti itu yang justru disukai masyarakat ya? Apakah memang masyarakat kita lebih suka dijejali dengan tontonan-tontonan berbau mimpi dengan lakon yang sangat hitam putih? :-?

Dulu saya pernah berdiskusi dengan salah satu teman jurnalis televisi yang kurang lebih bilang begini :

“tema yang nggak akan pernah basi walau sudah dibahas berulang-ulang di televisi atau novel ada 3 : seks, (perebutan) harta, dan cinta (segitiga). Itu cerita yang luas banget kalau dikembangkan jadi sebuah cerita..”

Terbukti memang, cerita yang kita temukan sehari-hari di televisi atau buku ya temanya nggak jauh-jauh dari itu. Saya pun akhirnya manggut-manggut.

Nah yang lucu nih (entah saya harus tertawa atau prihatin) pas sepupu saya kemarin cerita tentang keponakan saya yang baru berusia 2 tahun, yang mau tidak mau lihat tivinya se-acara dengan yang ditonton orang-orang dewasa yang ada dirumahnya, akhirnya terpengaruh dengan adegan yang ada di televisi. Sampai akhirnya diputuskan untuk berlangganan tv kabel khusus di stel film kartun. Karena sang ibu terkejut dengan kata-kata yang keluar dari mulut si kecil yang walaupun saya waktu dengar ceritanya bisa ngakak-ngakak, tapi lama-lama mikir segitu parahnyakah efek tontonan yang tidak tersortir itu?

Kalau dengar percakapan antara si kecil dengan mbak pengasuhnya yang ini saya nggak tahu mesti tertawa atau prihatin ya,

“Mbak, mbak mau mati nggak? Ayo sini masuk kulkas..”.

Nah lho, si Mbak disuruh masuk kulkas. Emangnya dia semacam buah-buahan? Atau, percakapan telenovela banget ketika si kecil menjawab dengan formal :

“entahlah Bunda, aku tidak tahu.. aku benar-benar bingung..”

Padahal cuma ditanya hari ini mau pakai baju warna apa? ;))

Memang sih untuk beberapa tontonan tertentu pihak televisi sudah menyertakan kode tertentu untuk jenis tayangannya. Misal : BO (Bimbingan Orangtua), R (remaja), SU (Semua Umur). Tapi yang namanya orang dewasa kadang suka terlewat, tidak sengaja menonton acara kegemaran mereka sementara ada anak-anak yang juga ikut menonton. Tidak bisa dipungkiri karena memang porsi acara anak-anak jauh lebih sedikit dibandingkan dengan acara untuk orang dewasa. Bahkan tayangan yang sebenarnya dikhususkan untuk anak-anak pun juga masih berbau konten orang dewasa, misalnya acara Idola Cilik. Bener sih yang nyanyi anak-anak, tapi lihat dong materi lagunya.. lagu dewasa semua. Karena memang lagu anak-anak juga sudah jarang terdengar. jadilah lagu orang dewasa yang dimodifikasi sedemikian rupa, diubah beberapa syairnya menjadi syair yang “lebih anak-anak” :-”

Kita juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan media televisi sebagai kambing hitam berubahnya perilaku anak-anak menjadi lebih agresif & menjadi “kurang anak-anak” alias dewasa sebelum waktunya. Karena yang lebih penting sebenarnya adalah faktor lingkungan. Bagaimana pun mereka lebih banyak bergaul dengan lingkungan sekitarnya ketimbang televisi. Jadi kontrol memang sebaiknya tetap dari para orang tua terutama dalam menyortir tayangan-tayangan mana saja yang pantas & boleh dikonsumsi oleh anak-anak, tayangan mana saja yang butuh pendampingan orangtua, dan tentu saja memilih tayangan mana saja yang aman dari segala bentuk kekerasan baik verbal ataupun tindakan. Karena anak-anak ibarat kertas putih, isinya akan tergantung dari siapa yang menuliskan & apa isi tulisannya.. ;)