Uniknya Sebuah Fanatisme

Afghan, siapa sih yang tidak mengenal icon penyanyi bersuara berat tapi merdu ini (istilahnya apa sih?). Sejak penampilannya tahun lalu Afghan sudah merebut banyak hati, terutama kaum wanita. Bukan hanya tampilan fisik si pria berkacamata ini saja yang memikat para penggemar perempuannya, tapi utamanya adalah dari segi suara yang mantap dan penampilannya yang selalu rapi.

Pertama kali dengar suara Afghan pas iseng search di youtube. Waktu itu dia menyanyikan lagunya John Legend – Ordinary People, saya malah sempat bilang suara dia lebih bagus dari suara penyanyi aslinya ;)) *lirik-lirik John Legend*. Sampai sayapun mempengaruhi teman-teman kantor saya buat beli kaset si penyanyi baru ini (justru saya yang enggak). Soalnya ya itu tadi, biasa-biasa aja. Suka, tapi nggak terlalu. Jujur saya juga bukan penggemarnya Afghan sih. Jadi kalau soal fanatisme sama dia terbilang jauhlah ya. Bukan pria type saya juga soalnya. Apa siih *plaak!* :)) .

Sepertinya saya memang bukan fans yang baik ya, yang setiap kali artisnya tampil kitanya selalu larut dalam fanatisme dan histeria. Bandingkan dengan saya yang adem ayem. Kalau saya suka sama artis ya sudah, suka mah suka aja. Tapi nggak sampai yang kemana-mana mesti mengikuti dia konser, ngoleksi foto-foto dia, tanda tangannya. Ya bukan apa-apa sih, males aja, ribet, capek :)). Ups, maaf ya buat para fans berat.. *melipir ke kolong meja*

Ada nih temen saya yang saking ngefansnya sama Afghan dia mengikuti kemanapun Afghan show (mulai di Citos, MoI, Ponds Teen Concert, Pasific Place, semua diikuti), ikut milist penggemarnya, update berita terbarunya, koleksi fotonya, dll *dadah-dadah sama Kika :-h * . Bahkan suami dan anaknyapun dilibatkan untuk menjadi Afghanisme (sebutan bagi penggemar Afghan) :D. Usianya sih sepantaran sama saya, tapi semangat buat ngikutin Afghan tampil nggak kalah sama abege-abege lho. Eh, emang ada aturannya umur berapa harus ngefans sama penyanyi tertentu? err.. enggak kan ya? ;)) . Ya maksudnya kan Afghan itu umurnya masih terbilang “piyik” gitu, walaupun suaranya sudah “mateng” banget (atau saya berarti yang sudah “ketuaan” ya? 😕 )

Atau ada juga yang ngefans banget sama Dude Herlino, yang buat teman saya ini type lelaki sempurna. Sabar, shaleh, romantis. Ah, semoga dia nggak termakan karakter protagonisnya Dude di sinetron-sinetron ya 🙂 . Sampai saking ngefansnya tiap kali Dude muncul di tivi dia selalu histeris, suka cita, riang gembira, sambil senyum-senyum sendiri kaya orang yang ketemu pacarnya. Belum lagi tiap kali ada majalah yang memuat profil Dude, pasti langsung beli. Entah mau dibahas cuma berapa paragraf juga kalau membahas profilnya Dude mah bakal dibeli sama dia 😀 .

Entah ya kalau soal ngefans-ngefans’an sama artis saya itu termasuk yang golongan rata-rata. Nggak ada fanatismenya samasekali. Mulai ABG sudah terpola seperti itu. Ketika semua pada ngefans sama musiknya NKOTB saya justru ngefans sama.. musik padang pasir.. eh enggak ding ;)) . Saya biasa-biasa aja. Kalaupun toh sekarang misal saya suka sama Neri Per Caso sekalipun, saya nggak semuanya hafal lagu-lagunya, cuma lagu-lagu tertentu yang menurut saya ear catchy aja. Di tiap konsernyapun saya nggak pernah datang bukan apa-apa, jauh & sayanya nggak punya duit :-j . Itu alasan utamanya :-” . Ya kalau saya ngakunya ngefans tapi setengah-setengah, mungkin saya yang aneh dan belum bisa digolongkan sebagai fans ya. Whateverlah ya.. =;

Pernah nih ya -ah saya jadi membuka aib sendiri nih- pas saya hamil, pergilah saya ke Senayan City bersama suami. Iya, ke mall yang banyak baby trolley dimana-mana itu, saking leganya. Tak disangka, tak dinyana di lantai 1 ternyata ada acaranya salah satu bank yang menyeponsori penampilan Yovie and Nuno. Saya yang sebenarnya nggak terlalu ngefans sama mereka (biasa aja, suka sama lagu-lagunya, tapi ya.. biasa aja gitu), lha kok ya mendadak pengen banget lihat tampilan mereka kaya orang yang ngefans berat. Sampai suami saya suruh ambil kamera dan saya sendiri asyik merangsek ke depan panggung menerobos kerumunan penonton yang rata-rata abege dan ibu-ibu muda itu. Giliran suami saya yang jentungnya ajrut-ajrutan melihat saya nekad ketengah kerumunan. Ibu hamil yang nekat :)) .

Berhasilkah saya merangsek ke depan? Bisa, tentunya dengan melindungi perut saya yang sudah mulai besar itu dari sikutan fans mereka dari kiri-kanan. Itulah pertama kali saya merasakan “histeria” menjadi fans dadakan pada grup band yang saya nggak ngefans. Bingung nggak sih bahasanya? 🙁 . Sampai di back stage saya bela-belain malu-malu pengen minta difoto sama Yovie. Berhasilkah saya? Tentu! Tentu tidak ~X . Gimana saya mau foto wong suami saya nggak mau motoin saya berdua sama dia. Reaksi saya? Ngambeg & pulang kerumah naik taksi =)) :-q . Masyaallah, ajaib banget tingkah saya waktu itu. Sampai dirumahpun juga jadi heran sendiri. Ini saya memang ngefans atau bawaan bayi sih? Kayanya sih bawaan bayi ya. Sampai pas saya cerita sama teman saya dia ngetawain abis-abisan *dadah-dadah sama Andrew :-h *. Tapi habis itu dia ngirimin saya fotonya Yovie lengkap dengan tandatangannya, mungkin dia kasian denger cerita saya ya. Awalnya sih percaya kalau itu dari Yovie, tapi beberapa menit kemudian saya curiga tandatangan dan pesan spesial buat saya itu adalah hasil olah photoshop. And, yes it was.. :)) . Katanya biar anak saya nggak ngileran kalau sampai ada keinginan yang nggak kesampaian ;;) .

Tapi uniknya, sejak itu saya jadi ikut merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang fans berat. Bagaimana histerianya (walaupun saya nggak sampai teriak-teriak ya), euforianya (sampai ada yang pingsan dan nangis-nangis) yang buat waktu itu selalu berpikir, “ya ampun, lebay banget sih? biasa aja napa?”, dan cintanya sama idola mereka. Masih bersyukur saya nggak sampai yang seperti itu :p, kalau sampai kaya begitu bukan apa-apa yang repot suami saya kalo saya pingsan berkali-kali setelah histeris melihat idola saya ;)) .

Nggak, nggak ada yang salah dengan fanatisme. Siapapun bisa menjadi fanatik dan kecanduan terhadap sesuatu atau seseorang. Seperti halnya kecanduan dan ngefans membeli barang-barang branded, misalnya. Kalau nggak pakai tas Louis Vuitton tangannya bakal gatel-gatel. Atau kalau nggak pakai Manolo Blahnik kakinya jadi pecah-pecah. Atau nggak pakai Michael Korrs badannya jadi panuan.Itu contoh superlebaynya. Saya yakin nggak gitu-gitu amat kok. Kalaupun iya bener begitu, ah itu cuma kebetulan saja ;;) *ngeles*

Tapi diluar itu semua yang paling penting adalah kontrol diri. Jangan sampai saking ngefansnya kita sama mereka seolah-olah kita jadi menuhankan mereka (beuh, lebay banget ya bahasa saya? hehehe..). Ngefans boleh. Nggak ada yang ngelarang. Ngikutin kemanapun idolanya konser, monggo (wong itu duit-duit Anda sendiri kan?). Mau capek-capek ngejar idolanya kesana-kemari ya boleh, wong ya badan-badan Anda sendiri. Memang ada sebuah kepuasan yang akan kita rasakan ketika kita berhasil menonton mereka tampil, melihat mereka dari dekat, merasakan kehadirannya, mendengar suaranya, atau berfoto bersama mereka, dan itu semua sah-sah saja kok.. :-bd

Jadi.. Anda termasuk salah satu fans berat artis nggak sih? 😉

Continue Reading