Aku kenal kamu bukan tadi siang kan?

Saya dulu pernah menulis tentang chemistry. Kali inipun saya masih berminat menulis tentang hal itu. Bukan apa-apa, masih suka merasa ajaib aja dengan fenomena ini sebenarnya. Karena bukan suatu hal yang mudah untuk bisa membaur, merasakan dan tune in dalam satu “garis frekuensi” dengan seseorang. Belum tentu orang yang dekat dengan kita itu memiliki gelombang yang sama dengan kita.

Ngomongin apa sih kok dari tadi tentang frekuensi, gelombang, tune in. Bukan tentang radio kan ya? Bukan.. Wong saya mau membahas tentang perasaan kok 😉 . Saya sebenarnya termasuk orang yang nggak selalu mendapatkan chemistry dengan seseorang. Kalau pas sama gilanya bisa jadi celetukan-celetukan yang muncul bisa nyambung banget, tektoklah istilahnya. Tapi ada juga yang walaupun dia dekat dengan saya tapi belum tentu saya bisa merasakan apa yang dia rasakan saat itu juga, begitu juga sebaliknya. Ya maklum namanya juga bukan cenayang ya, makanya feelingnya masih suka salah-salah ;)) . Tapi saya punya 2 orang teman yang  bisa merasakan apa yang dia rasakan, begitu juga sebaliknya. Satu laki, satu perempuan. Keduanya bisa tune in satu gelombang dengan saya.

Salah satunya saya kenal sekitar 3 tahun yang lalu. Frekuensi percakapan kami selama ini sebatas window chat, itupun juga tidak setiap hari. Kalau kebetulan dia lagi nggak sibuk, atau sebaliknya kita suka klik ketemu di dunia maya, nggak janjian lho. Kami terpisah jarak & benua, saya di Asia sedangkan dia di Eropa. Awalnya saya juga tidak pernah menyangka bahwa kita akan menjadi sahabat. Wong komunikasi aja waktu itu juga jarang-jarang. Tapi entah kenapa saya “nyambung” sekali dengan dia, begitu juga (mungkin) sebaliknya. Tanpa diminta dia ada ketika saya butuh teman ngobrol aatu sekedar curhat. Cling, tiba-tiba dia ada di YM, atau g-talk. Tanpa saya ceritapun dia seolah tahu kalau saya lagi sedih, not in the mood, BT atau lagi bahagia sekalipun. Ah, dia memang sakti.. Jangan-jangan dulu dia pernah jadi anak buahnya paranormal siapa gitu yang melakukan ritual di Gunung Kawi.. ;))

Sampai tadi siang ketika saya lagi BT banget (biasalah ya masalah hormonal, menjelang PMS kayanya), dia tiba-tiba bilang :

Teman : ” udah, jangan manyun gitu.. ” :p
Saya :  ” siapa yang manyun, aku biasa aja kok” ~X(
Teman :  “aku bisa lihat lhoo..” ;))

Mau tak mau saya jadi senyumlah ya, masalahnya kan aneh aja kalau dia sampai bisa liat saya monyong-monyong BT gitu, kan? 😕

Teman  :  “kamu lagi sedih ya? ”
Saya :  “enggak, wong lagi becanda-becanda kok..” :^o
Teman  :  “ah, enggak, kamu lagi nggak lagi becanda. Kamu kenapa?” :-w
Saya  :  ” kok kamu bisa tahu aku lagi sedih atau mood jelek? ”
Teman  :  “aku ngerasa aja.. Aku kenal kamu bukan tadi siang kan?”
Saya  :  “iya.. ”
Teman  :  “makanya aku bisa ngerasa kalau kamu ada apa-apa..”

Wah, saya harus seneng apa takut ya kalau punya temen yang bisa tahu apa yang saya rasakan? :D. Gak denk becanda. Saya justru senenglah punya temen yang bisa mengerti saya. Tahu sifat-sifat saya dari yang baiknya sampai yang buruknya. Yang ada di pikiran saya nggak selalu dia tahu sih >:) , tapi kalau ngerasa sih iya.

Kalau yang pernah saya baca sih bilangnya begini  :

” Chemistry is a connection, a bond or common feeling between two people. It starts very early in a friendship/relationship. Positive or negative chemistry is often one of the first feelings two people have about each other. It can be verbal or nonverbal, conscious or unconscious—yes, just like you were hit over the head with it! “

To my dear friends, thanks for the chemistry we build. Love that!  >:D<

Continue Reading

Uniknya Sebuah Fanatisme

Afghan, siapa sih yang tidak mengenal icon penyanyi bersuara berat tapi merdu ini (istilahnya apa sih?). Sejak penampilannya tahun lalu Afghan sudah merebut banyak hati, terutama kaum wanita. Bukan hanya tampilan fisik si pria berkacamata ini saja yang memikat para penggemar perempuannya, tapi utamanya adalah dari segi suara yang mantap dan penampilannya yang selalu rapi.

Pertama kali dengar suara Afghan pas iseng search di youtube. Waktu itu dia menyanyikan lagunya John Legend – Ordinary People, saya malah sempat bilang suara dia lebih bagus dari suara penyanyi aslinya ;)) *lirik-lirik John Legend*. Sampai sayapun mempengaruhi teman-teman kantor saya buat beli kaset si penyanyi baru ini (justru saya yang enggak). Soalnya ya itu tadi, biasa-biasa aja. Suka, tapi nggak terlalu. Jujur saya juga bukan penggemarnya Afghan sih. Jadi kalau soal fanatisme sama dia terbilang jauhlah ya. Bukan pria type saya juga soalnya. Apa siih *plaak!* :)) .

Sepertinya saya memang bukan fans yang baik ya, yang setiap kali artisnya tampil kitanya selalu larut dalam fanatisme dan histeria. Bandingkan dengan saya yang adem ayem. Kalau saya suka sama artis ya sudah, suka mah suka aja. Tapi nggak sampai yang kemana-mana mesti mengikuti dia konser, ngoleksi foto-foto dia, tanda tangannya. Ya bukan apa-apa sih, males aja, ribet, capek :)). Ups, maaf ya buat para fans berat.. *melipir ke kolong meja*

Ada nih temen saya yang saking ngefansnya sama Afghan dia mengikuti kemanapun Afghan show (mulai di Citos, MoI, Ponds Teen Concert, Pasific Place, semua diikuti), ikut milist penggemarnya, update berita terbarunya, koleksi fotonya, dll *dadah-dadah sama Kika :-h * . Bahkan suami dan anaknyapun dilibatkan untuk menjadi Afghanisme (sebutan bagi penggemar Afghan) :D. Usianya sih sepantaran sama saya, tapi semangat buat ngikutin Afghan tampil nggak kalah sama abege-abege lho. Eh, emang ada aturannya umur berapa harus ngefans sama penyanyi tertentu? err.. enggak kan ya? ;)) . Ya maksudnya kan Afghan itu umurnya masih terbilang “piyik” gitu, walaupun suaranya sudah “mateng” banget (atau saya berarti yang sudah “ketuaan” ya? 😕 )

Atau ada juga yang ngefans banget sama Dude Herlino, yang buat teman saya ini type lelaki sempurna. Sabar, shaleh, romantis. Ah, semoga dia nggak termakan karakter protagonisnya Dude di sinetron-sinetron ya 🙂 . Sampai saking ngefansnya tiap kali Dude muncul di tivi dia selalu histeris, suka cita, riang gembira, sambil senyum-senyum sendiri kaya orang yang ketemu pacarnya. Belum lagi tiap kali ada majalah yang memuat profil Dude, pasti langsung beli. Entah mau dibahas cuma berapa paragraf juga kalau membahas profilnya Dude mah bakal dibeli sama dia 😀 .

Entah ya kalau soal ngefans-ngefans’an sama artis saya itu termasuk yang golongan rata-rata. Nggak ada fanatismenya samasekali. Mulai ABG sudah terpola seperti itu. Ketika semua pada ngefans sama musiknya NKOTB saya justru ngefans sama.. musik padang pasir.. eh enggak ding ;)) . Saya biasa-biasa aja. Kalaupun toh sekarang misal saya suka sama Neri Per Caso sekalipun, saya nggak semuanya hafal lagu-lagunya, cuma lagu-lagu tertentu yang menurut saya ear catchy aja. Di tiap konsernyapun saya nggak pernah datang bukan apa-apa, jauh & sayanya nggak punya duit :-j . Itu alasan utamanya :-” . Ya kalau saya ngakunya ngefans tapi setengah-setengah, mungkin saya yang aneh dan belum bisa digolongkan sebagai fans ya. Whateverlah ya.. =;

Pernah nih ya -ah saya jadi membuka aib sendiri nih- pas saya hamil, pergilah saya ke Senayan City bersama suami. Iya, ke mall yang banyak baby trolley dimana-mana itu, saking leganya. Tak disangka, tak dinyana di lantai 1 ternyata ada acaranya salah satu bank yang menyeponsori penampilan Yovie and Nuno. Saya yang sebenarnya nggak terlalu ngefans sama mereka (biasa aja, suka sama lagu-lagunya, tapi ya.. biasa aja gitu), lha kok ya mendadak pengen banget lihat tampilan mereka kaya orang yang ngefans berat. Sampai suami saya suruh ambil kamera dan saya sendiri asyik merangsek ke depan panggung menerobos kerumunan penonton yang rata-rata abege dan ibu-ibu muda itu. Giliran suami saya yang jentungnya ajrut-ajrutan melihat saya nekad ketengah kerumunan. Ibu hamil yang nekat :)) .

Berhasilkah saya merangsek ke depan? Bisa, tentunya dengan melindungi perut saya yang sudah mulai besar itu dari sikutan fans mereka dari kiri-kanan. Itulah pertama kali saya merasakan “histeria” menjadi fans dadakan pada grup band yang saya nggak ngefans. Bingung nggak sih bahasanya? 🙁 . Sampai di back stage saya bela-belain malu-malu pengen minta difoto sama Yovie. Berhasilkah saya? Tentu! Tentu tidak ~X . Gimana saya mau foto wong suami saya nggak mau motoin saya berdua sama dia. Reaksi saya? Ngambeg & pulang kerumah naik taksi =)) :-q . Masyaallah, ajaib banget tingkah saya waktu itu. Sampai dirumahpun juga jadi heran sendiri. Ini saya memang ngefans atau bawaan bayi sih? Kayanya sih bawaan bayi ya. Sampai pas saya cerita sama teman saya dia ngetawain abis-abisan *dadah-dadah sama Andrew :-h *. Tapi habis itu dia ngirimin saya fotonya Yovie lengkap dengan tandatangannya, mungkin dia kasian denger cerita saya ya. Awalnya sih percaya kalau itu dari Yovie, tapi beberapa menit kemudian saya curiga tandatangan dan pesan spesial buat saya itu adalah hasil olah photoshop. And, yes it was.. :)) . Katanya biar anak saya nggak ngileran kalau sampai ada keinginan yang nggak kesampaian ;;) .

Tapi uniknya, sejak itu saya jadi ikut merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang fans berat. Bagaimana histerianya (walaupun saya nggak sampai teriak-teriak ya), euforianya (sampai ada yang pingsan dan nangis-nangis) yang buat waktu itu selalu berpikir, “ya ampun, lebay banget sih? biasa aja napa?”, dan cintanya sama idola mereka. Masih bersyukur saya nggak sampai yang seperti itu :p, kalau sampai kaya begitu bukan apa-apa yang repot suami saya kalo saya pingsan berkali-kali setelah histeris melihat idola saya ;)) .

Nggak, nggak ada yang salah dengan fanatisme. Siapapun bisa menjadi fanatik dan kecanduan terhadap sesuatu atau seseorang. Seperti halnya kecanduan dan ngefans membeli barang-barang branded, misalnya. Kalau nggak pakai tas Louis Vuitton tangannya bakal gatel-gatel. Atau kalau nggak pakai Manolo Blahnik kakinya jadi pecah-pecah. Atau nggak pakai Michael Korrs badannya jadi panuan.Itu contoh superlebaynya. Saya yakin nggak gitu-gitu amat kok. Kalaupun iya bener begitu, ah itu cuma kebetulan saja ;;) *ngeles*

Tapi diluar itu semua yang paling penting adalah kontrol diri. Jangan sampai saking ngefansnya kita sama mereka seolah-olah kita jadi menuhankan mereka (beuh, lebay banget ya bahasa saya? hehehe..). Ngefans boleh. Nggak ada yang ngelarang. Ngikutin kemanapun idolanya konser, monggo (wong itu duit-duit Anda sendiri kan?). Mau capek-capek ngejar idolanya kesana-kemari ya boleh, wong ya badan-badan Anda sendiri. Memang ada sebuah kepuasan yang akan kita rasakan ketika kita berhasil menonton mereka tampil, melihat mereka dari dekat, merasakan kehadirannya, mendengar suaranya, atau berfoto bersama mereka, dan itu semua sah-sah saja kok.. :-bd

Jadi.. Anda termasuk salah satu fans berat artis nggak sih? 😉

Continue Reading

Urip Iku Sawang Sinawang (II)

Tadi pagi saya chat dengan salah satu mantan teman sekantor pas jaman di Telkomsel dulu. Dia sekarang sedang menempuh pendidikan S2-nya di UGM Yogyakarta. Perbincangan ringan ala ibu-ibu (tsaahh…) dan teman lama yang sekian lama nggak ketemu 😀 . Share tentang keadaan terbaru masing-masing, cerita tentang keluarga, pendidikan, pekerjaan, dll.

Obrolan ringan sih, tapi justru dari situlah saya jadi ingat sama tulisan saya sendiri tahun lalu, yang juga sempat di-publish di buku Berbagi Cerita Berbagi Cinta , yang judul artikelnya Urip Iku Sawang Sinawang. Ya memang begitu ternyata. Duh saya sampai senyum-senyum sendiri. Bukan apa-apa, berasa kena sama tulisan sendiri aja ;)) . Dulu saya memposisikan diri sebagai orang lain yang curhatnya saya tulis disitu. Sekarang saya harus menelan mentah-mentah tulisan saya karena sekarang.. sayalah objeknya :)) .

Ada perbincangan yang kena banget ke saya, begini  :

Teman  : “aku tuh baru tahu lho mbak, sebenarnya kalau obsesi terbesar suamiku adalah menjadi PNS”
Saya  : “hah, seriuss? kok.. bisa? :O “
Teman  : “iya, pas aku cerita kalo mbak ketrima jadi PNS, dia tuh pengen banget. Dulu sih dia pernah nyoba, sekali doang, tapi gagal. Ya sudah daripada hancur harga martabak, akhirnya milih kerja di luar negeri aja sekalian, hehehe.. “
Saya  :  “eh, mosok sih kerjaanku ini diobsesiin sama suamimu? Padahal aku dulu ngira kalian sudah enak kehidupannya. Suami kerja di luar negeri, minyak pula. Kamu dengan kehidupan S2-mu. Mikir, what a perfect life you both gitu..”
Teman  : “apanya yang perfect sih mbak? Hidup terpisah dengan suami, akunya dimana, dianya dimana. Tapi jujur suamiku kalau disuruh milih,  pengen berkarir jadi PNS kaya mbak yang kerjanya nggak sengoyo sekarang, punya banyak lebih banyak waktu buat keluarga. Ah, mbak tuh yang ekarang udah settle, tinggal melangkah-melangkah doang.. Suami istri kerja, salah satunya PNS.. Ah, sempurnalah..”
Saya  : *masih bengong :O*  “ya sudah coba aja tar tahun ini pasti kan ada penerimaan CPNS lagi. Nah kamu ikut aja jeng..”
Teman  : “ya sih kayanya gitu. Tapi bingung mau kerja atau ikut suamiku ke Dubai ya?”
Saya  : “ya, apapun untuk saat ini yang menurut kalian bagus sih nggak masalah. asal nanti pas balik ke Indonesia usia kalian salah satu masih cukup daftar CPNS ya monggo..”

Ah, jujur saya terpana lho dengan percakapan simple itu. Bukan apa-apa, saya dulu sempat menganggap mereka memang nggak pernah sekalipun bermimpi jadi PNS seperti saya. Wong salah satunya sudah kerja di oil company,  yang notabene semua orang juga tahu prospeknya seperti apa tho? Ya saya shock dong ketika dikasih tahu kalau obsesi terbesar suaminya adalah justru menjadi PNS seperti saya.

Sekarang saya yang bingung nih. Saya mesti bangga, kagum, heran atau gimana ya? ;)) . Saya yang sudah terlanjur “silau” sama kehidupan mereka, lha kok malah mereka “ngiri” sama kehidupan saya yang alakadarnya begini? 😀

Manusia itu memang susah ditebak ya. Ada saja ketidakpuasannya. Yang rambutnya lurus pengen punya rambut ikal/keriting, begitu juga sebaliknya. Yang kulitnya putih pengen kecoklatan, begitu juga sebaliknya, yang kerja di oil company pengen jadi PNS, yang PNS pengen kerja di oil company. Yang jelek pengen cakep, yang sudah cakep pengen lebih cakep lagi (nggak mungkin pengen jadi jelek kan? ;)) ).

Ah, kalau menuruti nafsu, dunia ini isinya cuma orang-orang yang hidup dalam tolok ukur kesempurnaan orang lain. Jadi, daripada kitanya yang capek  kenapa kita nggak mulai mensyukuri apapun yang sudah diberikan Allah sama kita ya? Karena hanya Dialah yang mengetahui pantas tidaknya kita memiliki apa yang juga dimiliki/tidak dimiliki oleh orang lain.
Only God knows.. 🙂

Continue Reading

The Hurt Locker : Drama Perang Irak

Sebenarnya genre film perang tidak termasuk dalam genre film favorit saya. Pun halnya seperti film horor maupun thriller. Namun kadang dalam case tertentu selera saya mendadak improvisasi secara tiba-tiba, seperti halnya ketika saya yang biasa menonton film-film komedi romantis dan “tertantang” untuk menonton film Final Destination kapan hari yang full darah sana sini X_X . Saya memang suka angin-anginan kalau nonton film ;)) . Tapi belum pernah berani menantang diri sendiri untuk sengaja nonton film horor. Udah deh, makasih banyak, sudah kenyang.. X_X

Film The Hurt Locker atau yang jika diterjemahkan secara “bahasa perang” adalah danger zone bukan hanya ingin menyampaikan pesan tentang superioritas Amerika yang (seperti biasa) selalu ber-image superb. Namun ada sisi kemanusiaan lain yang ingin disampaikan oleh Kathryne Bigalow sang sutradara & Mark Boal sebagai penulis skenarionya. Memang sih menurut banyak orang film ini kental sekali dengan “arogansi” ala Amerika ketika melakukan ekspansi ke Irak beberapa tahun lalu dengan misi menumpas rezim Saddam Hussein yang dituduh (katanya) memiliki senjata pembunuh massal yang akan membahayakan umat manusia di dunia itu lho. Padahal sampai saat ini tidak terbukti sama sekali tuh mereka punya senjata itu. Jadi kesimpulan sementara, film ini menang karena berusaha memamerkan kepada dunia bahwa ada sisi positif militerisme Amerika di Irak? Err, nggak tahu juga denk.. *takut dikeplak*  :-s

Ada beberapa sudut pandang yang (semoga) membuka hati kita sebelum memberikan judgement film ini begini, begitu, dsb. Coba ya, dari sudut pandang orang Amerika pro George Bush dulu (karena perang ini kan salah satu akibat dari kebijakan Mr. Bush beberapa waktu yang lalu kan ya?). Buat mereka pasti ini adalah salah satu film yang membanggakan. Ya betapa tidak, gambar-gambar di dalamnya seolah ingin menunjukkan bahwa Amerika adalah negara yang penuh sisi kemanusiaan, siap berkorban nyawa untuk keselamatan manusia, yang digambarkan melalui sosok tiga manusia pemberani yang mempertaruhkan nyawanya di tengah ancaman bom yang bisa saja meledak sewaktu-waktu. Demi apa? Ya demi nyawa masyarakat sipil-lah.. :>

Dari sudut pandang keluarga tentara Amerika yang keluarganya berangkat dan gugur di medan laga. Pasti sedih banget. Film ini seolah membuka luka lama mereka, memutar kembali memori detik-detik kematian keluarga mereka dalam misi militer itu :((  *sedih*

Dari sudut pandang orang Irak, tentu juga sangat memilukan bila disuguhi dengan film ini. Perang, selalu saja identik dengan kehilangannya keluarga mereka. Bukan hanya dari keluarga militer, tapi juga rakyat sipil. Saya saja nangis waktu lihat adegan yang memperlihatkan seorang warga yang menghiba minta dibebaskan dari bom bunuh diri yang dililitkan dibadannya oleh seorang teroris dan akhirnya meledak  :(( . Disini sang lakon digambarkan sebagai seorang pragmatis ketimbang jagoan yang siap mengorbankan segalanya. Takut mati juga sebenernya. Tapi masih ingin mati dengan cara yang “layak” , seperti yang dibilang oleh sersan William James,  “There’s enough bang in there to blow us all to Jesus. If I’m gonna die, I want to die comfortable..”

Ah tapi sudahlah, kalau kita berkutat dengan opini masing-masing ya nggak akan pernah menjadikan film sebagai hiburan, malah debat kusir nantinya (saya sosok yang netral rupanya ya? ;)) ). Karena buat saya nonton itu ya buat hiburan, bukan buat menjadikannya perdebatan. Kalau buat saya yang penting ada nilai moral yang bisa diambil dari sebuah film. Mau ada nilai politisnya, mau ada khayalnya, mau ada ini itunya, buat saya nonton itu bagian dari meng-entertain diri. Itu aja sih. Ya yang beda pendapat sih monggo ya, masih dihalalkan lho.. ;). It’s a movie not a documentary..

Tagline film ini adalah : War is a drug. Kutipan dari buku War Is A Force That Gives Us Meaning ini menjadi pembukaan bagi The Hurt Locker. Heran? Sama seperti saya ketika berusaha menerjemahkan bagaimana mungkin sebuah pengalaman di tengah medan perang menjadi sesuatu yang diinginkan. Wah, pasti dia punya beberapa lembar nyawa kalau sampai bicara begitu. Karena buat saya, perang itu selalu saja menimbulkan efek traumatis, ketakutan, dan phobia bagi yang pernah terlibat didalamnya. Tapi di film yang dibintangi oleh Jeremy Renner, Anthony Mackie, Bryan Geraghty, dan Evangeline Lily ini berbeda. Berada dalam gabungan tim elit penjinak bom Amerika Serikat, Explosive Ordnance Disposal (EOD) dan bertugas di medan perang Irak, tempat yang layak disebut sebagai “hell on earth” sama saja artinya dengan mempertaruhkan nyawa kita setiap harinya. Hidup biasa-biasa saja di kota Baghdad bagi tentara Amerika sudah sangat berbahaya, apalagi masuk dalam regu penjinak bom? Arisan nyawa itu namanya. Hidup dalam medan dimana semua orang terlihat sebagai musuh dan setiap benda adalah bom mematikan.. :-ss

Hidup para tentara berubah saat atasan yang baru, Sersan William James ternyata mengabaikan semua prosedur untuk menjinakkan bom. Dia adalah seorang serdadu muda yang tampil mencuri perhatian para seniornya. Nekat mengambil alih usaha penjinakan salah satu bom paling berbahaya. Aksinya, langsung membuat kedua seniornya, Sanborn dan Eldridge kebat-kebit, ulahnya yang seenaknya itu tentu saja menimbulkan friksi, hingga salah seorang dari tentara ini berniat membunuhnya. Namun friksi internal itu mereda setelah sebuah peristiwa terjadi. Sikap James memang “tidak biasa”, cenderung nyeleneh dan berperilaku seolah-olah dia tak gentar dengan kematian, tapi justru itu yang membuat dia makin disegani. Bila yang lain takut, ia justru selalu merangsek maju. Menjinakkan lebih dari 873 bom selama karirnya, membuatnya selalu merasakan adanya ketegangan tersendiri yang hanya bisa ia puaskan apabila ia berhasil menonaktifkan bom itu. “War is a drug”.

Pertama kali saya lihat karakternya saya nyaris berpikir, “nih orang kayanya “sakit” deh”. Masa iya menjadikan ladang yang penuh dengan ranjau bom dimana-mana sebagai hal yang “menyenangkan”, medan perang yang justru buat dia “feels like home”. Sinting, pikir saya. Adrenaline junkie bener nih orang. Tapi setelah saya ikuti lagi ceritanya, ah ironic banget ternyata. Ada pertempuran batin & tuntutan pekerjaan yang membuatnya harus berada dalam tiga pilihan yang sulit. Perang, misi sosial, dan kehidupan nyata sebagai suami/ayah dalam keluarganya.

Sosok karakter Jeremy Renner memang menjadi fokus utama dalam film ini, namun keberadaan Anthony Mackie dan Brian Geraghty juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Chemistry ketiganya dalam sebuah tim menghasilkan sebuah kolaborasi nyata yang terasa mengalir tanpa terkesan dibuat-buat. Keren sekali.. =D>

Efek yang ditampilkan di film ini terlihat sangat realistis. Untuk mendapatkan setting perang Irak yang “hidup”, film ini memilih tempat syuting di Yordania dan Kuwait, hanya beberapa kilometer dari perbatasan negara tersebut dengan Irak sehingga suasana perang benar-benar terasa, setelah sebelumnya dipindahkan dari Pangkalan Militer AS di Kuwait karena tidak mendapatkan ijin. Semua adegannya, mulai dari menonaktifkan bom sampai duel sniper, setiap adegan perang dalam film ini terasa mencekam. Keren sekali penyutradaraan wanita satu ini :-bd .

Sekali lagi terlepas dari opini positif-negatif dari film ini, pesan utama the Hurt Locker yang saya tangkap adalah :
1. Perang bisa menjadikan sebuah candu. Seorang tokoh pernah berkata, “syukurlah perang itu begitu mengerikan bila tidak, manusia akan lebih suka berperang”.
2. Tak peduli peralatan semodern apapun, tak peduli sehebat apapun dirimu, semuanya takkan bisa menyelamatkanmu bila maut memang mengancam dan menjemputmu dari setiap penjuru.


” You love playing with that. You love playing with all your stuffed animals. You love your Mommy, your Daddy. You love your pajamas. You love everything, don’t ya? Yea. But you know what, buddy? As you get older… some of the things you love might not seem so special anymore. Like your Jack-in-a-Box. Maybe you’ll realize it’s just a piece of tin and a stuffed animal. And then you forget the few things you really love. And by the time you get to my age, maybe it’s only one or two things. With me, I think it’s one..”


(Staff Sergeant William James, speaking to his son)

gambar dipinjam dari sini

Continue Reading

Dressed in Black by Chance : Neri Per Caso

Lama sekali saya tidak mendengarkan lagu-lagunya Neri Per Caso yang artinya Dressed in Black by Chance, atau ada juga yang mengartikan Black by Chain. Kenapa black? Karena tampilan fashion grup musik acapella asal Italia itu selalu berwarna hitam.

Kelompok ini terbentuk sekitar tahun 90-an dari kota kecil Salerno di Italia. Padahal acapella sendiri biasanya dinyanyiin oleh orang negro.  Pertama kali dengar lagu mereka Quello Che Vuoi, nggak pernah bosen sama dengarkan berkali-kali.. ;)) . Bukan hanya suara , tapi performance mereka dari dulu sampai sekarang stabil banget lho..

Saya bukan hanya tergila-gila sama suaranya, tapi juga.. uhuk.. personilnya :”>. Kangen dengar suara mereka lagi setelah sekian lama terlupakan. Sebenernya nggak terlupakan, hanya saja semua kaset & CD Neri Per Caso saya ada di Surabaya semua.

Mendadak tadi pagi saya “temukan” mereka dengan video klip yang digarap dengan (menurut saya) sangat artistik. Simple, tapi keren banget 😉 .

Judul lagunya What A Fool Believes, by Neri Per Caso feat Mario Biondi :

He came from somewhere back in her long ago
The sentimental fool don’t see
Tryin’ hard to recreate
What had yet to be created once in her life

She musters a smile
For his nostalgic tale
Never coming near what he wanted to say
Only to realize
It never really was

She had a place in his life
He never made her think twice
As he rises to her apology
Anybody else would surely know
He’s watching her go

But what a fool believes he sees
No wise man has the power to reason away
What seems to be
Is always better than nothing
And nothing at all keeps sending
him…

Somewhere back in her long ago
Where he can still believe there’s a place
in her life
Someday, somewhere, she will return

She had a place in his life
He never made her think twice
As he rises to her apology
Anybody else would surely know
He’s watching her go

But what a fool believes he sees
No wise man has the power to reason away
What seems to be
Is always better than nothing
There’s nothing at all
But what a fool believes he sees…

You guys, are awesome as always.. 😉

 

ilustrasi dipinjam dari http://www.rockol.it/artista/Neri-per-Caso

Continue Reading