Step Into A New House

Akhirnya, semuanya terjawab. Ya, tepatnya 3 hari yang lalu saya ditelpon oleh Biro Kepegawaian salah satu instansi yang seleksi PNS-nya kemarin saya ikuti & saya alhamdulillah masuk. Saya diminta mengambil undangan untuk pengangkatan CPNS tanggal 1 Februari 2010 nanti. Kaget? Woogh, ya jelas. Karena setelah sekian lama saya menunggu & akhirnya ada kepastian juga, jadi buat saya ya masih berasa ajaib.. lebay deeh.. ;))

Melihat teman-teman bahkan sepupu saya yang sudah mulai aktif bekerja tidak lama setelah hasil proses seleksi CPNS diumumkan , membuat saya jadi bertanya-tanya, “lha, giliran saya kapan ya? Kok nggak ada telpon lagi? :-ss”, dan sejuta kata tanya lainnya. Iyalah, wong tiap hari saya ketemu sama orang-orang kantor selalu pertanyaannya, “kapan kamu mulai aktif jadi PNS?”, atau “kok SK-nya lama banget nggak turun-turun?”, atau pertanyaan spv saya yang kaya begini “Dev, kamu masih lama kan disini?”. Mmh, sedikit beda sih, tapi intinya tanya kapan saya terakhir di tempat bekerja saya yang sekarang & kapan mulai bekerja di tempat yang baru. Saya pun harus memberikan jawaban yang sama dari satu penanya ke penanya lainnya. Andai bisa saya rekam, sudah saya rekam kali tuh jawabannya. Atau kalau ada ujian menghafal jawaban, saya pasti lulus dengan nilai A karena saking fasihnya saya menjawab pertanyaan mereka :D. Ya wajar juga sih, kan pengumumannya sendiri sekitar pertengahan November 2009 & baru ada pengumuman lagi sekitar 3 hari yang lalu. Alhasil saya yang sekarang harus ngebut menyelesaikan pekerjaan yang biasanya maksimal selesai tanggal 4, harus saya kebut selesai tanggal 31 Januari 2010. Karena tanggal 1 Februari 2010 sudah aktif di tempat kerja yang baru.

Saya sempet diledekin saya sahabat saya  :

” ciyeeh, punya NIP nih dia sekarang..”
” Ah, dari dulu aku juga sudah punya NIK.. apa bedanya sih? Sama-sama nomor induk karyawan/pegawai kan?”
” ya bedalah. sama-sama punya NIP/NIK, tapi kop surat bergambar garuda pancasila nggak semua instansi punya. Kamu akan bekerja di “dapurnya” negara. Be proud of that.
” iya yah? “, jawab saya manggut-manggut.

Dulu Pakdhe (kakaknya Papa) saya juga pernah bekerja di sini menjadi asisten Menteri Sekretaris Negara jaman masih Moerdiono, err..jaman saya masih kuliah kali ya. Sudah lama banget sih memang. Orang-orang juga mungkin sudah lupa. Wong saya dulu sempat cerita ke salah satu interviewer saya waktu pemberkasan beliaunya juga sudah nggak mengenali siapa orang yang saya maksud. Iya sih, sudah lama banget ya Bu.. 🙂 . Nggak nyangka kalau saya akhirnya “meneruskan” karir beliau disini. Dulu melihat gedungnya dari jauh saja saya sudah kagum. Sekarang justru sama Allah saya dikasih kesempatan untuk masuk & berkiprah didalamnya. Alhamdulillah.. 🙂

Supervisor saya kemarin kirim sms begini   :

” Jyaah, akhirnya keluar juga tuh SK, hiks. Ya udah nggak apa-apa. Anyway congrats again ya Dev, orang emang kalau bagus selalu ada aja jalannya.. Oh ya, kali-kali aja 10 tahun lagi kamu jadi bu Mentri, pan lumayan ada 1 mentri yang aku kenal.. 😀 “

Ya begitulah.. Habis ini selesai sudah karir saya di dunia telekomunikasi yang sudah saya geluti selama kurang lebih 6 tahun, dan berganti di bidang pemerintahan, eh? 😀 . Agaknya Tuhan tidak menginginkan saya untuk tidak mempergunakan ilmu yang saya ambil waktu kuliah dulu, hingga diberikan-Nya sebuah posisi yang  belum sempat saya jamah sekalipun selama bertahun-tahun. Menjadi seorang sekretaris :)) . Semoga bisa melalui semua fase ini dengan baik & lancar. Amien.. 🙂

 

 

 

Continue Reading

Frase Yang Tak Terucap

Di pinggir jalanan yang basah, dalam ruang kubus transparan & berembun itu aku kembali menekan sejumlah angka bernada yang kuhafal diluar kepala dengan gugup. Detik jarum jam merangkak, lambat bagai keong. Seiring dengan cemasku menanti seseorang menjawab teleponku diujung sana. Semilir angin menerobos dari sela pintu yang tak tertutup rapat, meniup riap-riap anak rambut di tengkukku, membuatku semakin gugup.

Tepat disaat terakhir nada sambung itu, kudengar teleponku dijawab seseorang, “Halo..”. Aah, akhirnya…  Aku menghela nafas lega. Namun, aku kembali dilanda perasaan cemas bukan kepalang. Didera dilema luar biasa. Bibirku mendadak kelu, hanya mampu megap-megap tak bersuara, sibuk menyinkronkan dengan otak untuk merangkai kata.

Badanku menegang & mendadak berkeringat dingin sebulir-bulir biji jagung. Kakiku gemetar menahan bobot tubuh yang tak seberapa. Gigiku gemeletuk saling beradu. Angin dingin di sekitarku masih tak berhenti bertiup. Aku semakin  merapatkan leher jaketku hingga menutup dagu. Untuk cuaca sebeku ini seharusnya aku tidak berkeringat, bukan? Ya, sewajarnya memang seperti itu. Alisku bertaut, urat leherku kembali menegang. Arrgh.., aku mendadak gagu. Diujung sana kau menyapaku dalam “halo” yang bernada gusar sama seperti minggu lalu, nyari tanpa sahutan dariku. Dan sejurus kemudian..

K L I K !

Kau kembali menutup teleponku. Ya, semuanya masih sama seperti beberapa minggu yang lalu. Berasa dejavu. Aku gagal lagi memulai percakapan denganmu. Nyata-nyata temanya “hanyalah” sebuah pengakuan. Tentang sesuatu yang tak pernah kamu tahu. Tentang rahasia besar yang selama ini kusimpan rapat-rapat. Tersiksa dalam pergulatan batin dalam rasa salah yang tak berujung. Tentang pengakuan yang tak pernah berani kuucap di depanmu.

Tentang semua kamuflase & bualan-bualan sampah itu. Kisah tentang seorang pecundang & pengecut itu. Tentang mulutku yang selalu terkunci setiap kali memandang senyum di wajah teduhmu…

Tentang kisah cinta rahasia antara aku —lelaki yang kau anggap baik ini— dengan.. sahabatmu. Ya, tentang pengkhianatan itu..

Maafkan aku sayang, yang tak bisa menjadi lelaki terbaikmu…

Aku mencintaimu…

 

 

gambar dipinjam dari sini

Continue Reading

Serpihan Senja

 

 

Langit yang menggelap di bentang lazuardi menyapaku teduh
Aku menyungging senyum menyapa hadirnya senja
Di sudut sebuah ruang diatas awan-awan merah muda,
jauh diatas ribuan mil di bumiku menjejak

 

Ketika awan putih itu mulai disinari warna jingga temaram
Ketika zat dan partikel itu mulai menari-nari di sekelilingku
Ketika aku mulai menyatu dengan lembayung senja di awang-awang
Dan ketika sudah mulai kupejamkan mata

 

Ya..
Lembayung cantik itupun kini mulai berselimut
Sang mata dewa tak lagi murka dengan sinar panasnya yang menyala
tergantuikan cahya sang dewi malam yang mulai berjaga..

 

Aku sedang dalam perjalananku..
Meninggalkan kisah yang sulit untuk pergi mengurai kisah lainnya
Melupakan siapa diri yang dulu nyata
Mencari bentang ujung pelangi seperti ucapmu
Hingga kelak kita ‘kan bertemu pada satu ujung pelangi lainnya
Juga pada muara hujan yang akan membuat kita menari

 

Kau yang sedang sibuk dengan duniamu yang beriak
Mungkin kau tengah menata komposisinya hingga duniamu mampu menggeliat, ya?
Andai saja aku bisa berkompromi dengan waktu
Aku akan menjadi pemerhati dan tetap (akan) sebagai pemerhati setiamu..

 

Andai Tuhan berkata sama dengan kita..
Tapi bukan Tuhan namanya jika menuruti semua mau makhluknya..

 

Ah, Tuhan,
aku hanya ingin bertanya..
Apa masih boleh sisa cerita itu untukku?

 

 

 

gambar dipinjam dari sini 

 

Continue Reading

Selera Yang Menular

Boleh dibilang selera musik saya sangat gado-gado; karena segala jenis musik yang menurut saya terdengar catchy atau syairnya bagus bisa langsung masuk dalam list lagu favorit. Genrenya pun bisa bermacam-macam, tergantung mood & selera saya saat itu :D. Bisa dilihat sebagian  di sini , atau di sini ,dan masih banyak sederetan lagu yang bergenre musik yang berbeda jauh dari selera musik suami saya.

Berbeda dengan suami yang konsisten dengan koleksi lagu di jalur jazz (mulai yang sentimental romantic jazz, instrumental, sampai yang jazz banget). Hampir semua koleksi lagunya jazz atau instrumental yang mengandung saxophone atau lagu-lagu slow yang kalau didengarkan kapan saja masih bisa masuk & nggak ketinggalan jaman. Kadang kalau didengarkan dalam suasana syahdu bisa berasa seperti sedang makan di kafe-kafe yang romantis. Jangankan gitu deh, di suatu malam bertepatan dengan acara gathering temen-temen saya di salah satu villa di Puncak sambil menemani kita yang sedang mempersiapkan makan malam dia langsung memainkan koleksi lagu-lagunya. Asli, berasa lagi di mana gitu. Berasa lagi di Puncak, gitu ;))

Koleksi macam Dave Koz, Kenny G, David Benoit, Dave Grusin, Incognito, Earl Klugh, Lee Ritenour, Michael Buble, Barry White, Al Jarreau, Jammie Cullum nangkring dengan manis di rak CD, ipod, blackberry. Saya yang awalnya kurang peduli dengan selera dan koleksi musik suami saya lha kok sekarang-sekarang malah ketularan. Ringtone saya jadi jazz banget. Ya kalaupun iya sekarang jadi suka dengerin yang jazzy tunes, sukanya sama yang ringan-ringan sajalah, sama kaya dia juga. Nggak sampai yang jazznya ‘black’ banget, ilmunya belum sampai sana saya mah ;))

Salah satu lagu favorit saya yang adem banget buat didengerin malem-malem sambil hujan kaya gini, yang versi aslinya dibawakan bareng David Benoit – Know You by Heart. Tapi versi yang bareng  Jim Brickman juga ok banget lho, kaya gini:

atau ringtone saya, David Benoit – Watermelon Man yang tersohor  ini :

atau mau yang anak muda banget, Photograph – Jammie Cullum yang ini:

Kalau urusan musik mungkin masih bisa ketularan, tapi kalau sudah masalah hobby sudah masing-masing. Saya sibuk apa, dia ribet apa 😀

gambar pinjam dari sini

Continue Reading

The Dance Company

Saking banyaknya grup band yang bermunculan, saking seringnya mereka mondar-mandir di layar televisi dengan format yang nyaris sama, sampai saya nggak ada satu lagupun yang hafal. Nggak tahu kenapa bisa begitu, apa karena materi lagu yang begitu-begitu aja (maaf nih, saya mungkin bukan orang yang tepat untuk menghakimi musikalitas seseorang. Hanya opini awam saja), atau karena “packagingnya” yang tampak biasa saja layaknya anak band yang sudah ada, atau promo yang “alakadarnya” (muncul cuma sekali, dua kali doang habis itu nggak tahu kabarnya). Jadi sepertinya kurang ada sesuatu yang “menggigit”, kesannya sekedar numpang lewat saja. Parahnya kalaupun iya saya sampai hafal sama melodinya, tapi salah satu pasti lupa nama bandnya 😀

Dulu teman saya pernah bilang, ketika kita sudah memutuskan untuk terjun di dunia yang homogen & sudah banyak digeluti orang seharusnya kita bisa menunjukkan sebuah cirikhas yang bisa membuat orang lain langsung notice bahwa itu kita, itu produk kita. Dari segi apanya? Ya macem-macem, bisa jadi dari packagingnya, dari harganya, dari marketing & promosinya, keberagaman jenisnya, dan banyak lagi yang lain. Sebagai konsumen kan kita juga berhak memilih mana yang sesuai, mana yang bagus & mana yang sesuai dengan selera kita. Nah kalau sama-sama bikin band, tapi mulai materi lagu, gaya busana sampai iramanya sama dengan band lain yang sudah eksis sebelumnya ya buat apa? Apa bedanya dengan yang sudah ada, kecuali beda personilnya doang?

Dari sekian banyak grup band baru yang bersliweran di layar kaca yang paling catchy buat saya ya The Dance Company. Sebenarnya mereka bukan orang-orang baru di dunia musik Indonesia. Saya sendiri juga sudah tahu band ini sejak awal kemunculan mereka sekitar pertengahan tahun lalu. Tapi tingkat kekaguman saya masih dalam batas normal, alias biasa-biasa aja. Walau dalam hati mengakui kalau mereka “beda”. Itu saja. 😀

Grup band yang digawangi oleh Riyo ( Ariyo Wahab), Bebe (Baim), Wega (Pongki Barata) dan Mbot (Nugie) memang bukan orang baru di dunia musik. Ya wajarlah kalau banyak yang sudah familiar. Belum lagi mereka lebih mudah mengumpulkan fans dibandingkan dengan grup band baru yang mulai merilis karir. Tapi sebenarnya mereka justru lebih tertantang. Bagaimana mengelola ego & idealisme masing-masing untuk lebur menjadi satu band, bagaimana memanfaatkan ketenaran yang sudah dimiliki oleh masing-masing personilnya digabung menjadi satu fans grup band mereka, bagaimana sulitnya meninggalkan comfort zone masing-masing untuk bertualang pada wilayah kreatifitas yang lain.

By the way, jujur  memang saya lagi jenuh banget sama suguhan lagu-lagu Indonesia yang kompak seragam bergenre Melayu. Meskipun jenis musik itu lagi digandrungi,  lagi “in”, banyak yang download RBT-nya, banyak yang beli kaset & CD-nya. Bukan sok gimana-gimana ya, memang ada lagu bernuansa Melayu yang masih enak didengar, tapi kalau semua band kompak menyajikan konsep yang sama ya namanya pasar lama-lama jenuh jugalah 🙁 .

Tapi yang jelas The Dance Company ini ibarat angin segar buat dunia musik Indonesia. Tanpa mengecilkan keberadaan grup band lainnya mungkin justru bisa jadi wacana & inspirasi bagi (calon) band pendatang baru. Supaya bisa memilih materi & format tampilan group band yang segar, berbeda & tidak membosankan..

Eh, kalau papa-papanya sekeren mereka mah saya juga ga bosen ngeliatnya.. *ganjen* ;)) ;;)

gambar dari sini

Continue Reading