Mendadak Pikun

Kali ini mau posting yang (sumpah nggak penting banget) mau curhat aja.. Tumben kan? Tumben kaaaan? 😆

Nggak tahu apa yang sudah terjadi sama saya beberapa hari ini. Rasanya jadi pelupa berat, padahal usia belum menunjukkan saya harus menderita pikun (amit-amit). Tapi beneran deh, saya sampai “kagum” dengan stadium pelupanya saya akhir-akhir ini. Entah lantaran karena saya yang kurang aware terhadap sesuatu atau lingkungan saya atau lagi males mikir yang berat-berat. Tapi yang jelas saya jadi mendadak sering lupa.. 🙁 . Sampai nama artis yang biasanya saya hafal di luar kepala saja saya terpaksa harus menggunakan google untuk mencari siapa nama artis yang saya maksud. Mending kalau kata kuncinya bener, inipun kata kuncinyapun salah.. Gimana google mau menemukan artis yang saya maksud ya. Belum lagi pekerjaan yang mengharuskan saya harus memelihara memory saya berkaitan dengan kebijakan regional atau SOP. Duh rasanya parah sekali 🙁

Alhasil agenda & handphone cupu saya juga harus bekerja keras mengingatkan “majikannya” ini untuk nggak lupa lagi. Sebisa mungkin saya catat atau reminder seluruh rencana kerja & pribadi saya. Haduh, Tuhan.. tolong jangan pikunkan saya di usia yang masih belia ini..  🙁

*ciiihh… belia..  :))

 

Continue Reading

Besarnya Arti Sebuah Penghargaan

Posting ini sebenarnya adalah repost dari notes di facebook saya. Nggak ada niatan mau repost disini karena orang yang saya bahas disini pasti baca.. hahahaha. Makanya biar dia nggak GR saya posting di situs sebelah aja, itu awal pertimbangannya. Nggak taunya dia akhirnya tahu juga gara-gara ada postingan tentang dia di situs sebelahnya lagi (ceritanya situs kita kan kaya komplek gitu, tetanggaan 😀 ) & berhubung dianya penasaran pengen tahu seperti apa notes saya itu, akhirnya ya sudahlah saya repost disini.. :D. Ya Saya kopas persis tanpa ada yang saya ubah. Utang saya lunas lho  😀

—–

Lama juga saya nggak bikin notes ya.. Bukan apa-apa, saya kalau udah nulis tuh cenderung panjang, dan toh isinyapun copy paste dengan blog saya. Jadi daripada double tulis sana-sini ya sudah saya tulis di blog dulu baru saya link disini :D. Intinya, agak males nulis dua kali. Itu aja sih..

Well, saya (tumben) gak mau nulis panjang-panjang.. Cuma terharu pas baca salah satu komen dari seorang follower blog say. Ketika saya bercerita bahwa sebenarnya blog saya itu isinya gak seberapa penting. Saya hanya menulis apa yang saya suka, saya mau, menarik perhatian saya, & sebatas apa yang saya tahu. Mungkin cenderung ringan, dangkal & nggak semuanya berguna buat orang lain.

Tapi ternyata dia memberi comment yang cukup mengharukan buat saya siang kemarin..

” just keep writing… akan selalu ada hal yg bisa diambil dari tulisanmu… tergantung yg membaca siapa…
Dulu waktu SD, ujian bahasa Indonesia yg salah satunya mengarang itu, pernah waktu itu temanya aku dan cita”ku… saking tak pandainya saya mengarang, saya bikin aja kalo saya bercita-cita jadi pahlawan pembela kebenaran… ditertawakan…
Dan untuk itulah saya menulis, untuk membuat (setidaknya) beberapa orang tertawa…
just keep writing, saya akan membacanya..”

Kalimat terakhirnya itulah yang membuat airmata langsung mengembung di pelupuk mata saya.. Again, betapa sebuah penghargaan sekecil apapun itu, ternyata sangat besar artinya buat orang lain..

Thanks, Bang.. 🙂

Jakarta, 26 Agustus 2009, pukul 05.15 wib

———-
 Kalau mau tahu siapa orang yang saya maksud ini, tar juga dia komen sendiri, :))… 😀

Continue Reading

He’s Just Not That Into You

hes_just_not_that_into_you

Berbeda dengan film-film sebelumnya yang juga diangkat dari sebuah novel (chicklit) macam Confession of A Shopaholic & Devils Wears Prada film ini adalah hasil adaptasi dari buku self-help yang ditulis oleh Greg Bendhart dan Liz Tuccillo dengan judul yang sama yaitu He’s Just Not That Into You. Namun sebenarnya buku tips hubungan dengan judul yang sama ini mendapatkan namanya dari dialog di salah satu episode serial TV Sex and the City.

Sebuah film yang bagus untuk perempuan yang (katanya) suka mencari-cari alasan untuk tetap mempertahankan hubungan dengan pria, bahkan saat berada di posisi yang kurang menguntungkan & menderita. Padahal si prianya sendiri malas memberikan penjelasan kenapa melakukan tindakan yang sudah menyakiti hati kita. Mungkin film yang menelanjangi realita yang terjadi di sekitar kita ini bisa jadi semacam “wake up call” ketika kita menyadari bahwa hubungan kita sudah tidak berjalan harmonis & menyenangkan.

Melihat banyaknya bintang tenar yang bermain dalam film ini tidak mungkin hanya menjadikan mereka sebagai cameo semata kan? Pasti mereka akan bermain sesuai dengan bagian & porsi cerita masing-masing. Ada Jennifer Connelly, Ginnifer Goodwin, Justin Long, Bradley Cooper, Scarlett Johannson, Jennifer Aniston, Ben Affleck, Drew Barrymore, Kevin Connolly.  Film ini menceritakan tentang  9 orang yang memiliki cerita love-life berbeda, but somehow connected to each other. Namun secara garis besar cerita dalam film ini terbagi dalam tiga kisah cinta.

Pertama, Beth dan Neil adalah pasangan yang sudah tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan selama tujuh tahun. Sebagai wanita pada umunya, Beth juga pasti menginginkan kejelasan status dalam hubungan mereka yang sudah
dikatakan lebih dari cukup untuk sebuah hubungan “pengenalan calon pasangan hidup”. Beth mulai khawatir kenapa Neil tak kunjung melamarnya. Namun sayangnya Neil tidak percaya pada konsep pernikahan dan merasa bahwa asalkan mereka bisa tinggal bersama, saling mengerti dan saling mencintai, itu sudah cukup. Lantas apakah itu juga cukup bagi Beth?

Berikutnya adalah Ada Janine & Ben, pasangan yang not-so-happily married. Ketika Ben mulai selingkuh dengan Anna, seorang penyanyi & instruktur yoga yang ditemuinya saat berbelanja, Ben menyadari bahwa ia sebenarnya tidak siap untuk menikah. Tanpa diketahui oleh Ben, Anna juga tengah menjalin hubungan tanpa status dengan seorang pria lain bernama Conor. Conor mencintai Anna – tetapi Anna hanya menganggapnya sebagai teman baik. Ketika kita menjadi Janine, kita tidak bisa menyalahkan Anna yang percaya dengan keyakinan bahwa cinta sejati atau jodoh bisa datang kapan saja termasuk ketika seseorang sudah menikah. Sementara ketika kita di posisi Anna, kita juga tidak bisa menyalahkan Janine karena dia adalah istri resmi dari Ben meskipun perkawinan mereka sebenarnya sudah “dingin”. Ben disini tidak dihitung karena dia laki laki. Dialah yang membuat buku ini tercipta.

Terakhir adalah Gigi dan Alex. Gigi adalah gadis yang tidak pernah jatuh cinta. Berulangkali ditolak & dipermalukan oleh para pria, tetapi setiap kali juga ia berhasil bangkit dan kembali berjuang mencari cinta yang baru. Alex, sahabat Conor yang juga seorang bartender,  merasa kasihan kepada Gigi dan berusaha memberinya tips-tips mengenai perasaan & bahasa tubuh pria saat berhubungan dengan wanita. Tanpa sadar, Gigi yang pertama menganggap Alex sebagai teman curhat kini mulai jatuh hati padanya. Tapi apakah Alex juga merasakan hal yang sama?

He’s Just Not That Into You tergolong film komedi romantis yang durasinya tergolong  panjang. Total waktu putarnya hampir 130 menit. Tapi bagus kok, karena sang sutradara (Ken Kwapis) tidak hanya melulu berkutat pada pergantian karakter tapi juga memberi semua skenario waktu yang cukup bagi masing-masing tokoh untuk berkembang secara proporsional sehingga penontonnya bisa bersimpati dengan konflik yang mereka alami.

Pesan beberapa moral yang saya tangkap disini adalah  :
1. Kebahagiaan bukan hanya tergantung pada status apakah kita “menikah” atau “single”. Tapi semua kembali ke hati & pikiran. Happiness is entirely a state of mind.

2. Pria dan wanita ditakdirkan untuk memiliki “alam” yang berbeda. Walaupun pria sudah mencari berbagai macam cara untuk bisa memahami wanita namun akhirnya tetap saja mereka tak pernah bisa benar-benar mengerti wanita dan begitu pula sebaliknya.

2. Jodoh adalah masalah waktu, someday you will meet a wonderful guy and get your very own happy ending. Every movie we see, every story we’re told implores us to wait for it. Saat seorang memang ditakdirkan untuk kita, dia akan datang dengan sendirinya tanpa diundang & kita rencanakan.

4. Maybe some women aren’t meant to be tamed. Maybe they need to run free until they find someone just as wild to run with them (Carrie Bradshaw)

Hmm, satu hal yang juga menarik disini.. Ada salah satu lagu favorit saya yang jadi soundtrack di film ini  : If I Never See Your Face Again – Maroon 5 😀

So, lets enjoy the movie guys..  🙂

sumber gambar dari sini

Continue Reading

Bulan Yang Terluka ..

Malam itu bulan pucat kembali terluka. Tusukan-tusukan pedang  sang ilalang muda menginfeksi luka lama sang bulan pucat. Luka yang belum mengering itu kembali berdarah & bernanah. Perih itu, nyeri itu, ngilu itu, tiba-tiba menyerang & kembali meradang. Hujan badai menerpa liar padang rumput itu. Sang ilalang muda tertawa angkuh memegang pedang yang ujungnya berlumur darah.

Sang bulan pucat berteriak, mengaduh, menangis menahan ngilu. “Kau tak tahu maksudku, ilalang muda!”, teriaknya parau disela gemuruh hujan. Lukanya berdarah, makin terasa pedih luka yang menganga itu. Teriakan minta pertolongannya tak mampu mengalahkan gemuruh petir yang bersahut-sahutan. Kilat yang menyambar-nyambar & angin topan badai itu..

Sampai akhirnya badai menghempas sang bulan pucat luruh, teronggok kuyu menancap di karang yang terjal..

Sang ilalang melangkah menghampiri bulan yang terkoyak. Matanya hanya menatap hampa pura-pura kasihan.. “Itulah bayaran untuk kebebasan yang kuminta, Bulan.. “, serunya sambil menghamburkan pasir ke wajah sang bulan yang pucat, pias, tak bernafas..

Mati bersama tawa angkuh sang ilalang muda & auman serigala…

Continue Reading

Mbak Sri & Tas Usang Saya ..

Pernahkah kalian ketika tidak berniat memberi tapi justru pemberian kita yang tanpa niatan itu diterima dengan segenap hati oleh orang lain? Saya pernah..

Pada awalnya nggak pengen ngasih barang itu ke orang lain. Karena saya tahu barang yang saya maksudkan itu nggak layak kalau dikasih ke orang. Kalau memang niatnya ngasih ya sekalian yang bener, bukan barang rusak & usang begitu.

Kebetulan saya punya beberapa tas yang sudah jarang saya pakai, ada beberapa diantaranya yang sudah rusak entah resleting jebol, sobek diujungnya, kulit tasnya sudah banyak yang mengelupas atau jahitannya yang sudah lepas sana-sini. Intinya memang itu tas umurnya sudah tua, saya juga sudah jarang pakai. Sementara saya sendiri sudah terlalu malas untuk membawanya ke tukang reparasi tas. Sungguh, bukan mau sok kaya, tapi memang saya terlalu malas saja. Lantaran bingung kemana harus saya ungsikan tas-tas yang bertumpuk di pojokan kamar itu akhirnya terpikir untuk menitipkan ke si mbak yang bekerja di rumah ibu untuk entah terserah mau diapain. Mau dibuang boleh, diloakkan juga nggak papa, toh memang kebetulan saya sudah nggak menggunakannya lagi. Justru itu maksud saya, minta tolong diloakkan saja ketimbang numpuk nggak jelas di kamar, dipakai enggak, dibuang juga enggak.

Akhirnya saya sengaja taruh di depan kamar dengan harapan nanti kalau si mbak bersih-bersih bakal lihat itu & langsung membawanya ke tukang loak. Soal nanti laku berapa terserah deh, buat si mbaknya aja. Tapi salahnya saya nggak kasih notes ke si mbak soal titipan maksud itu tadi karena saya sudah buru-buru ke kantor. Sekitar pukul 4 sore ada sms di HP saya yang kasih tahu kalau tas-tas saya itu dibereskan, dirapikan sama si mbak karena dikirain saya yang nggak sempat ngurusin “harta benda” saya itu. Panteslah, wong memang saya nggak kasih notifikasi apa-apa masalah tas-tas seabreg itu. Akhirnya saya telepon si mbak & menjelaskan maunya saya gimana.

Mendadak hati saya tersentuh mendengar suara yang berbinar-binar meyakinkan bahwa benar tas-tas itu sudah tidak lagi saya pergunakan.

“beneran mbak udah nggak pakai?”

“iya mbak, minta tolong dibantu beresin aja. Terserah deh mau mbak Sri apain, biar nggak numpuk di pojokan kamar. Diloakin boleh, dibuang juga nggak papa mbak. Soalnya beberapa tas itu ada yang udah sobek & rusak.. “

“makasih ya mbak.. Nganu, tasnya boleh buat saya aja nggak mbak? Nanti saya juga mau bagi ke adik saya. Buat kami lebaran di kampung.. Dia pasti seneng banget..”

Sontak saya terdiam.. Ya Tuhan, sungguh bukan itu maksud saya.. Kalaupun saya berniat ngasih, nggak akan saya ngasih barang yang sudah nggak jelas bentuknya seperti itu. Apalagi untuk berlebaran.. Speechless.

“mbak Devi? Boleh ndak?”

“eh.. iya.. anu.. aduh gimana ya mbak, itu kan udah ada yang sobek, bolong, rusak.. Udah jelek, nggak sempurna mbak. Kalau mbak mau mending saya belikan aja nanti yang baru. Masa lebaran bawa tas rusak sih mbak.. “, ujar saya kikuk

“Udah mbak, nggak papa.. Besok pagi mau saya bawa ke pasar, mau saya perbaiki ke tukang reparasi tas. Lumayan 2 hari, sebelum saya mudik ke kampung..”, jawabnya di ujung telepon dengan nada gembira.

Saya hanya bisa terharu..

“iya mbak.. boleh. Buat mbak Sri semua kok..”, jawab saya akhirnya..

Masyaallah.. hati saya kembali tertegun. Begitu berharganya nilai barang yang sudah saya anggap sampah di mata orang kecil macam si mbak itu. Sampai tadi pagi dia bertemu sayapun masih membahas tas-tas yang awalnya mau saya buang itu ternyata benar-benar di bawa ke kampung untuk di bagi dengan adik semata wayangnya.

” Matur nuwun ya mbak.. Adik saya seneng banget dapet tasnya mbak Devi. Katanya tasnya bagus-bagus.. Saya bilang : ya bagus, wong itu dari Jakarta, Nduk..”

Saya tersenyum, mendengar ceritanya perempuan berperawakan kecil itu sambil mengaduk teh untuk sarapan pagi.

” Maaf ya mbak Sri.. saya kemarin itu benernya bukan bermaksud ngasih ke mbak. Jujur saya bingung mau dikemanakan tas-tas rusak itu. Saya juga enggak pakai lagi soalnya. Saya yang nggak enak sama mbak Sri, masa ngasih barang rongsokan gitu. Kalau niatnya ngasih ya yang bener sekalian. Gitu maksud saya..”

“Sampun, ndak papa mbak.. saya yang matursuwun banget. Tasnya masih bagus-bagus kok.. adik saya saking senengnya sampai dipakai terus tiap silaturahmi ke rumah teman atau saudara. Ketrima banget kok mbak 🙂 .”

Terharu saya.. Betapa kembali Tuhan mengetuk pintu kesadaran saya untuk tetap bersyukur karena diberikan kehidupan yang jauh lebih layak dari si mbak & keluarganya. Mengingatkan kembali tentang pentingnya arti berbagi dengan sesama.. secara ikhlas..

 

Continue Reading