Untuk Sebuah Status : Pegawai Negeri

Antrian panjang bersap-sap memanjang sampai keluar pintu aula Pusdiklat Sekretariat Negara membuat saya harus sabar menunggu untuk bisa sampai ke meja yang terdiri dari beberapa pegawai berpakaian formal. Rasanya dejavu ketika saya harus kembali mengantri, registrasi, membawa beberapa berkas penting untuk diserahkan, macam ijazah, fotokopi KTP, transkrip nilai. Ingatan saya mendadak melayang ke jaman awal-awal kuliah dulu, ketika sibuk-sibuknya mengurus ini itu, mengisi form ini itu, membulati lingkaran-lingkaran dengan pensil 2B. Hanya saja bedanya kali ini nggak se-hectic dulu, pun formnya hanya selembar berisi data diri.

Melihat kiri kanan saya yang terdiri dari “fresh graduaters” kok jadi ngerasa ciut ya. Bukan ciut badannya, tapi nyalinya. Berasa tua banget saya berdiri diantara para lulusan-lulusan baru ini, sementara saya sudah 10 tahun lalu menyandang gelar “fresh graduate”. Hiperbolisnya perasaan saya bilang gini, “ya ampun.. kayanya yang emak-emak cuman aku doang nih, semua kok masih precil-precil gini..”. Padahal mungkin ya nggak gitu-gitu amat, karena kebetulan yang melamar dibatasi maksimal kelahiran 1974 (usia 35 tahun), jadi nggak menutup kemungkinan akan ada pelamar yang usianya diatas saya kan? Nah saya yang kelahiran 1989 ini (dustaaa..) kan jadi ngerasa gimana gitu yaaa… ;))

Awalnya nggak niat-niat amat ikut seleksi CPNS, karena sudah malas harus mengurus ini itunya, kartu kuning, surat keterangan sehat, SKCK, dll. Tapi ketika saya iseng blog walking ke salah satu teman yang posting lowongan di Setneg kok jadi tertarik ya. Kebetulan juga syarat-syaratnya nggak begitu sulit & insyaallah bisa saya penuhi. Akhirnya, disinilah saya.. berdiri diantara para pelamar kerja yang pastinya dengan penuh harap akan lolos ke seleksi tahap berikutnya setelah mereka menyerahkan berkas lamaran ini di meja depan.

Giliran saya. Deg-degan. Karena semua dokumen saya bener-bener diperiksa satu persatu dengan seksama. Deg-degannya karena transkrip nilai saya nggak ada stempel legalisirnya πŸ˜€ . Nggak akan mikir bakal sedetail itu pengecekannya. Kalau ijazah yang berlegalisir kebetulan masih ada & tinggal semata wayang, tapi kalau legalisir transkrip nilai.. duh.. udah habis kapan tahun kali bu.. πŸ™ .Saya yang melihat petugas itu hampir “can’t help”, hanya bisa pasrah & bisa bilang,

“mmh, udah nggak bisa ya bu?”.

Ibu itu kelihatan bimbang, padahal sebelum-sebelumnya saya lihat dia begitu saklek menolak beberapa pelamar yang tidak tidak memenuhi syarat. Dia berkali-kali membolak-balik transkrip nilai saya.

“Duh, sayang banget ya. IPK kamu masuk nih, tapi kok transkripnya nggak dilegalisir? Yang udah legalisiran emang nggak ada ya mbak?”, tanya Ibu itu sambil menatap saya (mungkin kasihan).

” kayanya sih udah nggak ada bu..”, jawab saya sambil berusaha mengingat-ingat, duh masih ada nggak ya..

” Soalnya kita kan butuh yang ada legalisirnya nih mbak..Kalau memang ada sekalian aja disertakan disini..Nanti boleh balik lagi kok.. “

” mmmh.. begini bu.. saya dari Unibraw Malang, saya lulus tahun 1999 & yang dilegalisir kayanya udah habis dari kapan tahun, saya nggak mungkin ke Malang untuk sekedar melegalisasi transkrip..”, tutur saya memelas (walaupun saya tahu alasan saya itu kaya orang nggak niat ngelamar kerja disitu). Pikir saya ya udahlah kalau memang nggak bisa, mungkin belum rezeki saya.

Tapi ibu itu seolah ragu antara mau ngasih form atau menolak berkas saya..

“Ya sudah, gini aja. Buat kamu, karena IPK-nya tinggi, saya kasih form, diisi semuanya ya, jangan sampai ada yang terlewat. Karena walau IPK kamu bagus kalau ada yang terlewat & nggak terisi, nggak akan terbaca di komputer, sayang kalau nggak lolos. Kami tunggu sampai dengan tgl 9 Oktober jam 15.00. Kalau bisa semuanya dilengkapi, terutamaΒ  transkripnya dilegalisir ya mbak.. Masih ada kan di rumah?”

“mmh.. Ya sudah bu.. saya usahakan..”

“ok, good luck ya mbak… πŸ™‚Β  “, jawab ibu itu sambil tersenyum simpati.

Sekarang giliran saya yang cenut-cenut. Gimana caranya saya bisa dapetin legalisir transkrip dalam waktu sehari semalam kaya begini? Emang saya Aladdin yang punya jin pengabul keinginan dalam sekejab? Mumet. Suami menyerahkan semua keputusan pada saya, apakah akan lanjut atau sampai situ aja. Begitupun dengan sahabat saya, “kalau kamu ngerasa worth it ya udah ambil. Kalau kamu cuman iseng ya udah tinggalin aja”. Jujur, dilematis banget. Seperti ada kesempatan besar yang terbuang sia-sia.

Ditengah kebimbangan saya itu, tiba-tiba suami saya telpon dari kantor yang bilang kalau tiket PP Jakarta-Surabaya-Jakarta sudah di tangan, saya bisa pergi malam itu juga & pulang besok malam. Ya Allah. Rasanya saya masih nggak percaya melakukan sebuah perjalanan keluar kota untuk sebuah legalisasi transkrip. Antara penting nggak penting ya :D.

Keesokan paginya saya beneran datang ke kampus hanya untuk melegalisir ijazah & transkrip. Awalnya saya dijanjikan besok pagi baru jadi. Duh, padahal nanti malam saya udah harus di Jakarta, karena besok sore adalah deadline pengumpulan berkas. Akhirnya setelah saya rayu-rayu petugas pengajaran memberikan legalisir ijazah & transkrip tepat pukul 16.00 wib. Byuuh, rasanya lega banget. Malam itu akhirnya bisa pulang dengan membawa tandatangan PD I di transkrip & ijazah saya. Pukul 02.00 dini hari saya baru lelap kecapekan.

Setelah melewati proses melelahkan itu & keesokan harinya kembali ke Setneg untuk menyerahkan berkas akhirnya tanggal 13 Oktober 2009 sore saya mendapatkan nama saya tertera di website menjadi salah satu peserta yang berhak ikut seleksi tulis & psikotes tanggal 17 Oktober 2009 pukul 08.00-13.00 di gedung Tennis Indoor Senayan bersama 99 peserta lainnya yang melamar posisi yang sama dengan saya. Oh ya, saya ketemu lagi dengan ibu yang kemarin πŸ™‚ . Dia keliatan surprise ketika tahu saya registrasi ulang & mengambil nomor ujian. Orangnya baik banget, ramah. Bahkan dia langsung memanggil nama saya. Dia sempat mengira kalau saya nggak akan balik lagi ke Setneg karena masalah legalisir itu, :D. Bu, saya kemarin ke Malang hanya untuk legalisir berkas-berkas pendidikan saya.. πŸ˜€

Hanya doa & harapan yang tersisa. Untuk apapun hasilnya saya pasrahkan semuanya sama Yang Diatas. Toh saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Kalau memang ini adalah rezeki saya ya semoga nantinya diberikan kemudahan & kelancaran untuk segala sesuatunya.
Amien ya rabbal alamieen.. πŸ™‚

Continue Reading