Coffee Giants ..

Kopi, siapa sih yang tidak kenal dengan minuman satu ini? Saya yang dulunya samasekali ga ngefans-ngefans amat sama minuman ini hanya karena efek yaang ditimbulkan bisa bikin saya melek u/mengerjakan hal-hal yang butuh konsentrasi akhirnya ya ngefans juga lama-lama.. tapi alhamdulillah sih ga sampe nyandu, cuma 1-2 cangkir sehari (kalaupun gak ada ya ga sampai nyandu).
*sambil nyeruput kopi anget-anget*

But anyway, saya bukan mau membahas tentang kesukaan saya minum kopi ya, tapi lebih ke pengamatan tentang Coffee Giants alias kedai kopi..

Starbucks, Cofee Bean, Cosi, AMT , siapa sih yang nggak kenal sama coffee giants lokal & internasional tadi? Tanpa bermaksud promosi, tanpa perlu membahas asal usul & kepemilikannya siapa kedai-kedai kopi tersebut, tapi.. pernah ga sih kita memperhatikan kenapa sih lokasi mereka mostly di mall atau daerah perkantoran? Atau kenapa sih mereka bisa mencharge harga segitu mahal hanya untuk segelas kopi? Apa iya karena kualitas kopinya, kelezatan kopinya, segmentasi pasar yang dibidik, atau karena apanya?

Beberapa alasan utama kenapa coffee giants bisa menge-charge harga segitu mahal untuk segelas kopi sebenarnya bukan karena kualitas kopinya. Memang menurut sebagian besar orang mengatakan memang rasa kopi mereka itu enak. Tapi apa iya enaknya itu pantas dihargai Rp 50.000,-/gelas?

Kalau kita lihat lebih cermat, maka kita akan tahu bahwa terjadi perubahan value. Contohnya begini, biji kopi yang sudah diolah melalui proses manufaktur dan diberi kemasan dengan label tertentu akan menjadi lebih tinggi nilainya dibanding dengan ketika dia masih dalam kondisi biji kopi mentah. Namun ketika proses membuatnya menjadi secangkir kopi yang cepat saji tentu kita dibantu oleh layanan coffee giants (kedai kopi) yang mengedepankan layanan praktis serba instan atau cepat saji, jadi tentu ada harga tambahan yang harus kita bayarkan untuk itu bukan? Lalu bagaimana dengan Starbucks yang dapat menjual dengan harga berkali lipat? Jawabannya sederhana, pertimbangannya adalah faktor branding & experience. Kebanyakan para customer salah satu alasannya mencari Experience. Kita akan dihadapkan pada faktor kenyamanan, gaya hidup/lifestyle dan bagian dari kelompok masyarakat yang ngetrend. Kita diajak untuk merasakan bahwa minum kopi bersama coffee giants macam mereka adalah sebuah pengalaman (experience). Intinya kita dibuat merasa berbeda. It’s not just coffee. Begitulah kira-kira pesan yang ingin disampaikan.

Trus, kenapa lokasi coffee bar itu mostly ada di mall atau daerah perkantoran? kenapa ga dipinggir sawah atau empang misalnya? Nah itu karena ada pertimbangan pemilihan lokasi tadi. Para coffee giants itu berhasil me-repackage kopi menjadi kultur yang hip dengan penempatan lokasi yang tepat. Ya karena disini, orang-orang sibuk kaya kita (eh, kita orang sibuk ya? *bletak*) mayoritas tidak peduli masalah harga karena yang terpenting adalah fast served coffee to feed our caffeine addiction..

Hmm, kalau menurut saya sih ngupi di mall bukan hanya sebagai kebutuhan tapi sudah menjadi gaya hidup kaum urban.. Nah kalau saya sendiri malah lebih seneng ngupi-ngupi bikinan sendiri (beli product-product kemasan instant), nggak perlu keluar duit mahal-mahal hanya untuk secangkir kopi. Bisa bikin kapanpun saya mau & berapa cangkir yang saya pengen minum..  :D

This entry was posted in thought.

2 comments

  1. fahmi! says:

    coffee2 giants itu banyak betebaran di mall mungkin karena nilai manfaatnya = tempat para lelaki ngaso selagi menanti wanitanya yg sedang asik milih2 baju / tas, hehe.

    eh tapi ada cerita lucu, ada orang lugu yg ngafe demi koneksi wifi gratisan, haha. wifi gratis? bandingkan dg nilai kopi yg mesti dibayar kali yah :D

  2. Devi Eriana Safira says:

    kalo yang ngafe demi koneksi wifi gratisan itu sih banyak mas, ihihihih.. beli kopinya aja paling banter 50 rebu, ngenetnya jam-jaman.. :))

    tapi ya namanya orang kita kan istilahnya “gak mau rugi” ya, jadi ya begitulah, mumpung ada yang gratisan hajrlah, hahahah.. ;))

Leave a Reply