Thanks for all compliments ..

thank20you20card

Rasanya senang sekali ya ketika ada rekan yang menyukai, menghargai, mengapresiasi hasil karya kita. Kalau mau lebaynya nih, rasanya seluruh peluh, keringat, kerja keras, daya upaya terbayar sudah.. ;))

Cuma mau GR sedikit nih, gara-gara saya baca komen di akun facebook saya yang bilang “tulisan kamu renyah (emang keripik?), mengalir, asyik, segar, menghibur..”. Haduh, sumpah seneng banget saya. Karena tulisan ala ceker ayam ini macam postingan di blog abal-abal saya ini ternyata ada yang baca & mengapresiasi ya..  🙂

Intinya sih cuma mau bilang terimkaasih buat semua apresiasinya. Semoga saya tetap akan menjaga mood menulis saya ya. Soalnya sempat dibilang ini hobby musiman sama salah satu temen ;)). Semoga bisa saya buktikan bahwa saya serius & nggak musiman ;;)

Continue Reading

You've Got Mail !!

 

email_pressureist

 

Beberapa waktu yang lalu saya sempat membahas tulisan tentang Serafina Ophelia yang dengan lucu, lugu & menggemaskan saat membawakan puisi yang berjudul “Ibu & facebook”. Jadi teringat dengan shoutout seorang teman yang menanyakan :  “seberapa banyak Facebook menyita waktu anda di internet, tuliskan dalam persen”.

Hasilnya  :

* Waah…byk mas! Yg jelas jam tiduuuur…berkurang, Hiks!

* Another survey ! FB is almost take 50% of my 24 hours life…..!!!!

* Wah ud kyk kesurupan niy hehe…

* buka facebook setelah jam kerja , mau pulang masih macet jadi nunggu jalanan lancar , so pulang malem jangan dikira lembur ….he..he..he..

* Loss 20% jam tidur.. but, gain 100% for golden memories.. meureun….
 
* mgkn sktr 80%.. Mw’a c online 24 jam,, tp si laptop kayak’a bisa teriak gara2 kepanasan,, hihihi..
 
* Another survey ! FB is almost take 50% of my 24 hours life…..!!!!

 
Sudah se-addict itukah pada facebook? Sampai-sampai status “being present” tidak lagi penting? Sedikit memprihatinkan ketika perhatian seseorang hanya terfokus pada pendar layar kecil bernama handphone atau komputernya. Saya sendiri tidak munafik, sempat ikut-ikutan demam facebook walau hanya bertahan 2 bulan, setelah itu .. bablas, berasa hambar, karena teman-teman saya di friendster “rehoming” ke facebook semua, teman-teman kantor ketemu lagi di facebook.. Seolah-olah akhirnya dunia hanya selebar situs facebook, hehehehe..  😀
 
 
Padahal, dari apa yang pernah saya baca, berdasarkan survey Hewlett Packard menyebutkan bahwa :
 
” Mereka yang sering teralih perhatiannya karena e-mail mengalami penurunan IQ sebanyak 10 poin – dua kali lebih banyak dari yang dialami pengidap marijuana “
 

WAKKSS.. Yaah, jangan dooong. Masa udah IQ pas-pasan gini masa iya mau mengalami penurunan lagi? 🙁  . Saya sadar, saat perhatian saya terfokus ke internet konsentrasi saya jadi terpecah-pecah ga jelas (maksudnya lebih konsen ke internetnya dibandingkan kerjanya, ha5x  😀 ). Ya memang, tidak sepenuhnya pengaruh internet itu buruk, tidak kita pungkiri bahwa internet juga berperan besar terhadap akses ilmu pengetahuan. Tak heran jika nantinya koranpun akan tergantikan dengan koran online.
 
 
Di era tech-savvy ini, perkembangan internet makin didukung dengan berbagai alat komunikasi canggih macam, Blackberry, I-Phone, PDA, dan sebagainya. Yang sebagian diantaranya memberikan kemudahan akses push mail setiap saat. Hingga menyebabkan ada sebagian orang yang jadi lebih nyaman eksis di dunia maya ketimbang di dunia nyata. Berbeda jauh dengan beberapa tahun lalu saat gadget-gadget canggih belum semenjamur sekarang. Yang mana orang bisa saja “unplugged” dengan internet & semacamnya, melakukan aktivitasnya sehari-hari tanpa adanya ketergantungan terhadap email & internet. Istilahnya : “ga internetan juga gapapa..”.  Tapi sekarang kenapa bisa se-addict ini ya?   😀
 

Jawabannyapun beragam  :

“eranya udah beda, bu. Udah makin canggih. Jadi ya wajarlah..”
 
“jangan salah, ga semua pengaruh internet itu buruk, gue dapet informasi update berita di belahan dunia manapun ya via internet, gue bisa intouch dengan teman-teman di luar negeri ya karena internet, pokoknya internet TOP BANGET.. ”
 
“lu bayangin aja ya, hidup lo ada di jaman batu, dimana lo ga ada teknologi, ngapa-ngapain musti manual, kemana-mana lo musti jalan kaki. Gimana-gimana yang namanya teknologi pasti berkembang. Bisa ngebayangin ga lo? Ga mungkin kita stuck di 1 jaman ituuu mulu. Bisa gila kali gue..”
 
“yaa semua pasti ada jamannyalah say.. It’s all about trend. Dulu jaman chatting via MIRC ya ngiranya MIRC udah paling top markotop, trus ada yang namanya YM, G-talk ya MIRC ga ada apa-apanya. Kaya friendster, dulu boleh paling keren, sekarang.. kagak ada apa-apanya dibanding facebook. HP juga sekarang udah udah must have item.. Lu bakal gak lucu banget ketika lo samasekali ga pegang HP. yang ada juga lu bakal ga tau apa2, orang nyari lu juga susah, kagak bisa dihubungi”
 
dan segudang jawaban lainnya..
 

 
Hmm, lantas apa hubungannya antara , internet, konsentrasi & produktivitas? Pada saat perhatian kita hanya tertuju pada internet, internet, dan internet otomatis fokus kita ke kerjaan (kita ngomongin kerjaaan ya, kalo yang ga ada kerjaan mah terserah lu dah) otomatis akan berkurang, dengan berkurangnya konsentrasi maka akan mengurangi produktifitas kerja, yang ujung-ujungnya mengurangi kinerja karyawan & company profit.. Wohohoho.. jauh sekali kaitan antara internet & profit perusahaan ya? Ya ini saya tuliskan “separah-parahnya”. Syukur-syukur kalau semua bisa lebih aware & sadar diri, bahwa kita kerja buat perusahaan, bukan buat internetan (warning buat saya sendiri juga.. ahahahaha  ).
 
 
Coba bayangkan ketika puluhan tahun silam, saat Albert Einstein, Alexander Graham Bell, Thomas Alfa Edison sudah ada teknologi seperti sekarang, apa iya mereka bisa membuat penemuan-penemuan fenomenal ya? karena menurut apa yang pernah saya baca, manusia bisa bekerja secara efektif & menghasilkan kreatifitas adalah ketika dia berada dalam kondisi sedang tidak diinterupsi & konsentrasi penuh. Lha, kalau sekarang, sedikit-sedikit “ping!!” muncul di layar HP 1 new email, belum ada 5 menit nanti “ping!!” lagi, 1 new email lagi .. begitu seterusnya. Kok jadinya kita yang diperbudak email ya?  kalau ingin mengetahui apakah kita sudah terjangkiti email addict silahkan baca :  email addict
 
 
Ada banyak hal yang bisa kita kerjakan selain hanya berkomunikasi via HP atau PC kita. Ada hal-hal yang jauh lebih membutuhkan perhatian & need a human touch. Ada tugas berpikir, inovasi, analisa, dan tetap menghargai situasi face to face dalam berinteraksi itu yang jauh lebih penting. Seharusnya dengan makin canggihnya teknologi, akan makin memperkaya pengetahuan kita, makin meningkatkan produktifitas & kreatifitas kita, serta memperluas networking kita. Secanggih apapun teknologi itu nantinya, jangan sampai kita yang dikontrol oleh teknologi, tapi kitalah yang mengkontrol penggunaan teknologi..

 

 

 

 

Continue Reading

Saatnya kita tebar pesona !!

 

 

Tragedi Situ Gintung 27 Maret 2009 selain menorehkan luka mendalam bagi para korbannya, sekaligus membuka celah sebagai ajang kampanye para politikus & calon anggota legislatif. Betapa tidak, membaca sebuah tulisan yang dilansir harian Kompas, Sabtu 28 Maret 2009 lali, seolah bantuan yang didirikan diosana penuh dengan muatan politiknya ketimbang kemanusiaannya.

 

Berikut petikan sebuah doalog caleg dengan kader partainya saat berbicara di ponselnya : “bagaimana, apa sudaah ada wartawan disana? Kalau sudah, sembakonya kita bagikan saja”.

 

WEEEKKKSS?! Mulia sekali ya caleg kita 1 ini? Ditengah kesulitan seperti ini masih saja berpikir untuk kepentingan pribadi dengan mengatasnamakan bantuan kemanusiaan untuk para korban Situ Gintung.. Genius!! Mereka datang bak pahlawan, bersama-sama merasakan kesedihan & kesulitan para korban & mendirikan posko-posko, tapi teteup ya.. bertuliskan : nama partai, lengkap dengan nama & nomor urut caleg..

 

Sebenarnya gejala ini sudah diperkirakan banyak pihak. Bukan hanya caaleg, tapi juga semua pihak yangs ekarang lagi hiruk-pikuk berkampanye, terjun langsung membagikan sembako, ambulance, posko-posko bantuan, alat-alat kesehatan, dll. Di 1 sisi bagus, karena sesama manusia harus saling membantu. Tapi jika niat mulia itu ditunggangi dengan kepentingan politik & pribadi.. Masih bisakah itu disebut perbuatan mulia?

 

.. Wallahualam ..

Continue Reading

Saya tidak punya harga diri ..

 

critic

 

 

Sekali lagi kita akan bicara tentang KRITIK. Semakin mendekati pemilu tgl 9 April 2009 rasanya suhu politik di negara kita makin memanas dari hari ke hari. Tak heran jika ada “perang” komentar tentang pengakuan kehebatan masing-masing calon presiden kian santer terdengar. Seperti halnya beberapa waktu yang lalu saat melihat tayangan di televisi plus membaca ulasan di forum detik tentang kritikan Megawati Soekarnoputri terhadap kepemimpinan SBY, utamanya tentang Bantuan Langsung Tunai (BLT). Hmm, kok saya rasakan beliau terlalu berlebihan ya. Disini saya tidak bermaksud membela atau menyudutkan siapapun, kebetulan saya juga bukan simpatisan 2 partai yang sedang saya bicarakan ini  🙂 .

 

Berikut cuplikan orasi beliau :

“Apa artinya 220 ribu kalau hanya untuk dempet-dempetan? Hei ibu-ibu, apa artinya 200 ribu yang ibu-ibu tunjukkan pada anak-anaknya bahwa ibunya tidak punya harga diri dan kepribadian.”

 

Kok miris ya saya dengernya. Perlu ya sampai beliau berkata seperti itu di depan rakyat yang notabene calon pemilihnya? Lagi-lagi yang disinggung adalah masalah BLT. Sekali lagi topik yang selalu mengandung pro-kontra.

 

Sebagian mengatakan program BLT sangat tidak efektif karena masih banyak rakyat yang tidak kebagian, proses pemberian BLT yang masih kisruh, masih adanya pungli oleh oknum RT/RW setempat, BLT adalah program yang kurang mendidik karena menjadikan warganya malas, kurang mau berusaha, bergantung kepada orang lain.

 

Versi yang lain, dengan melihat segala keterbatasan yang dimiliki masyarakat kita yang notabene tidak 100% orang mampu, wajar kiranya pemerintah memberikan bantuan tunai kepada rakyat miskin dengan contoh seorang nenek tua yang hidup bersama 2 cucunya, yang sangat tidak memungkinkan untuk bekerja dengan program padat karya. Ibu seperti inilah yang dikatakan butuh diberi ikan, bukan kail. Tapi bagi yang sudah memiliki kail, ya tinggal kembangkan saja usahanya dengan program usaha kecil mandiri. Bagi orang kaya & tidak pernah merasakan kemiskinan, uang 200 ribu memang kecil, tapi coba bandingkan dengan mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan akan sangat berarti.

 

Ukuran harga diri juga bukan hanya dilihat apakah dia menerima BLT atau tidak. Ada banyak aspek yang bisa dijadikan ukuran. Dari apa yang pernah saya baca, sebenarnya yang ingin di highlight pemerintahan SBY dengan adanya BLT ini adalah membangun kembali kepekaan nurani sebagai sesama manusia yang sudah (bisa dikatakan) hilang dari budaya masyarakat Indonesia. Pemberian BLT hanya merupakan salah satu langkah awal dari serangkaian program yang sudah direncanakan dan tentunya memiliki kohesi alias keterkaitan dengan aspek lainnya. 

 

Sebelum kita melebar kemana-mana, yuk kita kembali lag ke masalah kritik tadi. Inti yang ingin saya angkat disini adalah, sebelum mengkritisi pihak lain, akan lebih bijaksana jika pihak Megawati juga mulai berbenah diri, memperbaiki kekurangan di sana-sini, daripada mengumbar kekurangan & aib pihak lain. Karena jika dirunut ke belakang, pada masa kepemimpinan beliau, track record beliau pun sebenarnya juga masih jauh untuk dikatakan excellent, masih banyak raport merah yang perlu diperbaiki. Berkaca akan kemampuan diri sendiri, itu yang saya rasa jauh lebih penting dilakukan Megawati daripada umbar kritik sana-sini. Jika saya boleh beranalogi, rakyat itu ibarat pasir, dan presiden adalah orang yang memindahkan pasir ke suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan tangan. Wajar jika masih ada yang tercecer disana-sini.

 

Terlepas dari siapakah yang akan menjadi presidennya nanti berpositif thinking saya rasa akan lebih memberikan aura positif bagi perkembangan dinamika politik di negara kita. Jadi ingat perbincangan dengan sahabat saya kemarin pagi.  Di Jepang system is working perfectly, karena system dan aturan main yang dikejar bukan figur. Mereka tidak pernah meributkan siapa yang akan menjadi pemimpinnya. Karena apa? sudah ada tatanan sistem kenegaraan yang pakem yang sudah dijalankan dari pemimpin ke pemimpin berikutnya. Jadi siapapun yang akan memimpin nantinya tinggal menjalankan sistem yang sudah ada. nah kalau kita? Ribuuut melulu, kritik-kritikan. Kapan jadinya si system itu tadi..  🙁

 

Seperti yang pernah saya katakan di tulisan saya sebelumnya,  “Kita memang selalu melihat lebih jelas kearah kesalahan orang lain, dibandingkan kesalahan kita sendiri. Lampu sorot untuk orang lain, sedangkan lilin redup untuk diri sendiri. Untuk orang lain, sedapat mungkin kita gunakan kata : “lah, harusnya kan dia…” . Sedangkan untuk diri sendiri : “ya gimana lagi aku kan…”.
Menjelek-jelekan pendahulu itu tidak menjadikan diri orang yang menjelekkan itu lebih baik.

 

Semoga bisa menjadikan koreksi untuk semua pihak. Memberikan kritikan, atau masukan buat orang lain itu perlu. Tapi lebih baik mengkoreksi diri sendiri sebelum melontarkan kritikan. Jangan sampai kita menjadi tuhan kecil yang menghakimi orang lain seenak perut.

 

Menjadi tua itu pasti, menjadi bijaksana itu pilihan..

 

 

 

 

 

 

Continue Reading

Mood.. I'm not in the mood ..

angry

Pagi-pagi sudah ada kejadian yang sebenarnya sepele, tapi kok jadi sedikit mengganggu ya. Berawal dari teguran saya kepada salah satu anak buah mengenai kerjanya karena kok beberapa kali dia melewatkan saya sebagai cc dalam emailnya ke spv untuk edit  penilaian performansi agent callcentre. Memang awalnya sengaja saya diamkan karena mungkin saja dia lupa, ya sudahlah nggak apa-apa..

Tapi kemarin kok saya nggak di cc-in lagi ya? Masa lupa lagi? saya tegur pelan-pelan sambil ngasih tahu, kalau bisa semua email ke spv tetep harus di cc-in saya..

Reaksinya kok di luar dugaan saya ya. Dianya nyolot & sambil mengucapkan : “Lho, bukannya udah, Mbak? kan aku selalu cc-in ke Mbak kalo kirim ke Mbak Ketut? jangan-jangan kamu nyari-nyari kesalahanku ya?”

Sumpah, bikin males saya dengernya. Memang dengan wajah yang -sepertinya- agak becanda. Tapi saya ngerasanya dia sedang nggak becanda. Padahal saya jelas-jelas lagi membuka email dia yang tanpa ada cc ke saya sama sekali..:( . Mbok ya bilang maaf kek, atau makasih udah diingetin atau apa gitu yang juga mengakui kalau dia salah…

Langsung hilang mood saya hari ini.. Apa iya dia harus mengeluarkan kata-kata seperti itu? Kalau dia anak kemarin sore, yang masih kecil, mungkin saya tidak terlalu ambil pusing. Tapi ini sudah hampir seusia saya, kok ya pemikirannya belum dewasa dalam menerima kritik. Toh kata-kata saya saat menegur halus, tidak dalam intonasi kasar, ga ada yang berusaha mencara-cari kesalahan orang.. Buat apa? Ya kalau bisa mah justru anak buah saya jangan sampai bikin salah.

Ni anak bener-bener bikin saya males berdebat. Kali ini dia berhasil. Berhasil menghilangkan mood saya!


Continue Reading