Aku mau jadi selebriti ..


“kalau sudah besar mau jadi apa?”

…..

Waktu masih kecil kita pasti sering medapat pertanyaan seperti itu kan? Itu pertanyaan sekitar 20 atau 30 tahun yang lalu kali ya (berasa tua banget nih). Mungkin kita juga pernah menjawab, “pengen jadi dokter”, “aku mau jadi insinyur”, “aku kepingin jadi guru..”

Tapi coba sekarang ulangi dengan pertanyaan yang sama ke anak tentangga, keponakan, atau anak Anda sendiri (buat yang sudah berputra) yang kira-kira menjelang remaja atau ABG gitu. Mereka akan dengan “lihai” menjawab, ingin menjadi artis, bintang sinetron, penyanyi, atau model. Intinya jadi seorang pesohor alias selebriti deh. Oke deh tidak semua.. :mrgreen:

Coba lihat kalau pas di tv ada acara pemilihan calon miss apa, atau bintang apa, atau model apa, pasti dibanjiri ribuan peserta. Bahkan mereka sampai  rela berpeluh-peluh mengantri untuk ikut audisi. Stars are not born, they are created. Pernah dengar kalimat itu? Ya, itulah fenomena yang marak di masyarakat kita..

Istilah selebriti sendiri berasal dari kata celebrate yang berasosiasi kehidupan meriah, glamor, seksi. Nah, bagi anak muda, jadi selebriti itu suatu “profesi” yang mengasyikkan karena inilah jalan termudah & tersingkat untuk dikenal & dipuja orang, sering muncul di media massa, punya harta berlimpah ruah. Kenapa ya anak-anak sekarang lebih suka jadi selebriti? Apa karena lebih gampang cari duitnya?

Kenapa mereka tidak memilih jadi dokter? “Yah, ini sih profesi yang gak seksi..”  . Selain “tua” di laboratorium (karena sekolahnya tahunan), begitu luluspun mesti mulai dari nol lagi. Belum lagi mesti menjalani dinas PTT di daerah-daerah terpencil. Katanya, di salah satu majalah yang saya pernah baca, kalau dihitung-hitung, penghasilan seorang dokter baru mungkin hanya setengah honor seorang bintang sinetron ABG. Intinya sih profesi artis bisa mengubah from “zero to hero..”.

Bener gak sih? Bukan saya ngiri lho ya :mrgreen: . Ya kalau saya sih sudah ketuaan ikut-ikutan kontes-kontes kaya begitu.. 😆 . Wong gak jadi artis aja tiap bulan pasti dimintain tanda tangan kok…
*nyisir poni*

Tanda tangan BAST buat ke supervisor saya..

Continue Reading

:: S O U L M A T E ::

soulmate

Hmm, pernah gak kalian terpikir bahwa kalian sebenernya memiliki soulmate di luar sana? Ya syukur-syukur sih kalau sudah menemukan ya.. Sempat baca di beberapa tulisan tentang definisi soulmate itu sendiri.. jadi penasaran, sebenernya soulmate itu seperti apa sih, atau soulmate itu sendiri sebenarnya ada ga sih?

Kebanyakan orang mengartikan soulmate itu adalah bagian dari satu pasang, seperti layaknya sendal dan sepatu. Memang definisi keberpasangan itu benar adanya (ada kiri dan kanan), tetapi bisa aja kan misalnya warna si pasangan sendal itu beda (misalnya merah dan putih) atau merknya beda, atau tapi yang pasti ukurannya gak boleh beda, krn pastinya gak akan enak dipake oleh siapapun. Ya kan?

Menurut saya pribadi, untuk konsep berpasangan itu tidak bisa zaakelijk di tentukan sedemikian pas-nya seperti halnya memilih sandal dan sepatu karena pada dasarnya kita kan manusia yang punya hati dan jiwa. Seandainya berpasangan itu hanya dilandasi pada kesamaan tampilan luar, terus bagaimana dengan keberpasangan jiwa dan hati yang tentunya memiliki jauh lebih banyak kebutuhan untuk dimengerti?

Pernah saya iseng-iseng diskusi sama seorang teman pas sama-sama lagi tunggu busway.. (niat ya bo?), tentang apa sih arti soulmate, atau kamu percaya adanya soulmate dalam kehidupan kamu ga sih? atau soulmate was made by God or by human?

jawabannya pun beragam.. Ada yang bilang :

” soulmate itu ya pasangan gue, suami gue.. kalo bukan soulmate gue ngapain gue nikah ma dia.. “

” gua pernah punya soulmate nih Dev, dia jauh di luar kota, tapi gua ama dia tuh kaya ada kabel yang nyetrumin, gua bisa ngrasain apa yang dia rasain, sebaliknya dia juga gitu.. kaya berasa gua punya webcam gitu.. Seems so strange, but it’s true..”

” gue percaya soulmate itu ada, tapi ga harus yang jadi suami/istri kita sekarang.. percaya ga lo, Dev? “

” Aku ma suami seperti satu tubuh yang bisa saling merasakan… Ketika aku sakit, dan dia sedang tidak di rumah dia pasti langsung menelpon dan menanyakan apakah aku sedang sakit di bagian ini atau di bagian itu, karena pada saat yang sama dia juga merasakannya. Atau seringkali kami punya pikiran yang sama untuk melakukan sesuatu atau membicarakan sesuatu.. “

– btw, jadi inget ma mama & papa yang suka tiba-tiba kembar beli barangnya, mulai bentuk, warna, model, hari & tgl yang sama kalo beli barang tertentu padahal gak janjian.. –

Intinya sih ada dua kubu yang menyatakan bahwa soulmate itu adalah pasangan kita yang sekarang, tapi ada juga yang mengatakan bahwa sebenernya soulmate itu lebih ke belahan jiwa yang “mungkin” belum tentu orang yang menjadi pasangannya sekarang. Nah lho.. kok bisa?

Mmmh, kayanya perlu dipilah antara “word” dan “description”. Ada “soul mate” , dan ada “spouse”, yang mana kalo didefinisikan / dideskripsikan kurang lebihnya :
– soul mate : this person is very similar to you in thought and feeling
– spouse : this person is married to you

Jadi, soul mate tidak selalu berarti pasangan hidup. Ada juga yang mengatakan bahwa “soulmate” itu seperti “belahan jiwa”, orang yang match dengan kita, mulai dari cara berpikir, melihat masalah, cara memperlakukan pasangan dan cara menyelesaikan masalah, jadi bukan semata- mata satu hati, tetapi ada banyak kesamaan yang bisa membuat keduanya bisa jadi partner yang kompak (satu tujuan).

Belum puas juga mengartikan sendiri, saya bertanya juga pada mbah google. Akhirnya dapat juga jawabannya di tante wiki. Berikut ini ulasannya :

Belahan jiwa adalah sebuah istilah yang terkadang digunakan untuk menandakan seseorang yang memiliki perasaan mendalam dan daya tarik antar pribadi yang natural (tidak dibuat- buat). Konsep yang berkaitan ialah adanya dua jiwa kembar yang akan menjadi belahan jiwa terakhir bagi pasangannya, satu- satunya salah satunya hanya separuh dari sebuah jiwa yang asli, dengan begitu masing- masing jiwa yang masih separuh itu harus bergerak untuk mencari yang lain dan bersatu. Bagaimanapun, tidak semua orang menggunakan teori dan percaya pada konotasi mistiknya. Sebenarnya teori diatas berdasarkan buah pikiran Aristophanes ,plato symposium, bahwa manusia sesungguhnya tergabung dari empat lengan, empat kaki, dan sebuah kepala yang terdiri dari dua wajah, tetapi Zeus (dewa yunani) takut akan kekuatan mereka dan memecahnya menjadi separuh bagian saja, sebagai hukumannya mereka harus menghabiskan hidup mereka untuk mencari separuh bagiannya lagi untuk menjadi sempurna..

Kalau dibaca-baca di atas sepertinya jadi lebih berpihak dengan pendapat bahwa belahan jiwa sudah ditentukan dari Tuhan ya, terlepas dari teori dewa- dewa Yunani lho…Terus gimana dong kalau kita sudah memiliki belahan jiwa, atau gimana kalau kita tidak dapat menemukan belahan jiwa kita? Atau bagaimana jika kita menikah bukan dengan belahan jiwa kita.Nah lho.. (lama-lama ngembang kemana-mana pertanyaan gua ya? heheheheeh…)

Kalau sudah seperti itu apakah lantas kita harus membentuk seseorang menjadi serupa dengan kita? mendekati dengan apa yang kita perkirakan sebagai belahan jiwa? Agar kita tidak perlu mencari dan tetap seolah menikah dengan belahan jiwa kita? Tetapi menurut saya yah.. maaap-maap aja nih ya kalo salah.. kalaupun belahan jiwa adalah setengah dari jiwa kita, setengah bagian itu pasti bukan sisi yang sama, dalam arti tidak menambahi apa yang telah dimiliki, tetapi saling melengkapi satu sama lain (bingung ga? sama aku juga lama-lama bingung ma tulisanku sendiri.. hahaaha….). Maksud saya gini, jangan terlalu bangga jika saat ini memiliki seseorang yang sifatnya sama, dan cocok dalam segala hal. Saya justru mempertanyakan hal itu, apakah kalian berdua harus sama-sama bertindak sebagai hati di sisi kiri? atau sama- sama di sisi kanan? Berusaha selalu sama biar dianggap soulmate? *lieur*

Dah, ini PR buat yang baca deh, pasangan jiwa yang akan menjadi isteri or suami kita memang sudah dari lahir diciptakan untuk kita atau sebenernya kita yang harus berupaya merakit sendiri soulmate kita?

Continue Reading

Perempuan Oh Perempuan..

Makhluk bernama perempuan itu bahasanya tidak selalu memiliki arti yang sama dengan yang diucapkan. Nah, harus punya kamusnya dong? ;)). Kalau kesimpulan yang saya dapatkan dari beberapa pria sih bilangnya : Perempuan itu ribet. Menghadapinya gampang-gampang susah. kalau tanya sesuatu kadang sudah dijawab sesuai pertanyaan eh masih salah juga 😐 ~X( ;))

Ah ya, jadi ingat sama kisah saya sendiri nih. Untung ya suami saya sabar, coba kalau enggak, mungkin dia udah stress duluan kayanya ~X(

SALAHKAN CERMIN!

Saya : “Pa, badanku kayanya melebar kesamping ya? Bener nggak sih?” 😕

Hubby : “Ah, cuma perasaan kamu aja. Masih bagus kok.. “

Saya : “Ah kayanya enggak deh. Lihat lenganku, udah kaya Arnold Swasanasegar nih..” X_X

Hubby : “Halah, berlebihan kamu. Udah bagus segitulah badannya, jangan dikurusin lagi, dilihatnya kurang bagus kalau terlalu kerempeng. Kena angin nanti terbang-terbang..” —> mencoba melucu

Saya : 😐

Hubby : “Kenapa? Ya terus maunya badannya mau digimanain lagi sih?”

Saya : “Jujur deh ya, aku emang keliatan gemuk kan? Iya kan? Ngaku! ” 😐

Hubby : “Ya sudah, iya kamu gemuk. Gemuuuk banget kaya Pretty Asmara. Badan kamu udah bisa dipakai buat landing pesawat! ” —> mulai kesel :-w

Saya : “Tuh kan, aku emang gemuk kan? Gitu pakai bilang nggak gemuklah, seksilah, gini, gitu.. ” —> mulai ngomel-ngomel nggak jelas ~X(

Hubby : “Ih, gimana sih.. Tadi suruh bilang kalau kamu gemuk. Udah diturutin masih salah juga.. Jadi maunya gimanaaa…” #-o

;))

*****

MAU MAKAN APA?

Hubby : “Kamu mau makan apa dimana?”

Saya : “Terserah Bibo aja deh,a ku ngikut. Aku sih nggak pernah rewel diajak makan dimana aja, kan?” —> intinya sih males mikir ;))

Hubby : “Ya udah kita beli nasi gorengnya Bapak yang didepan gang aja ya.. “

Saya : “Ih, kok beli nasi goreng lagi sih? Kan bosen.. Yang lain aja napah..” 😐

Hubby : “Lha katamu tadi terserah. Ya udah aku ajak makan nasi goreng..”

Saya : “Iya, emang terserah.. Tapi ya jangan nasi gorenglah.. Bosen tau’..”

Hubby : “Hiih, itu sih namanya bukan terseraaah.. ” ~X(

*****

SEPATU YANG COCOK ADALAH..

Saya : “Duuh, lucu-lucu ya Pa, sepatunya.. =P~” —> mulai sedikit lapar mata

Hubby : “Ya udah pilih aja salah satu, mana yang kamu suka..”

Saya : “Boleh semua nggak?”

Hubby : “Ya kalau kamu yang mau beli sendiri sih terserah..”

Saya : 😐

Hubby : “Ya udah, buruan ah..”

Saya : “Bingung nih, bantuin milih napa..” —> sambil nyobain sepatu, satu persatu

Hubby : *ngambil 1 sepatu yang modelnya “enggak banget” * “Nih kayanya lucu nih…”

Saya : “Gak suka ah. Aku tuh sukanya yang ujung sepatunya itu lancip gitu, biar kakiku terlihat panjang”

Hubby : *meletakkan kembali sepatu ke tempat semula* “Kalau yang ini?”

Saya : “Yaelah, Bibo.. itu kan modelnya udah so last year banget. Yang update dong ah..”

Hubby : “Ya emang selama ini aku pakenya sepatu perempuan apa? 😐 . Ya udah yang di pojok situ tuh kayanya bagus, ada pitanya di depan sepatu, ujungnya lancip juga kan kaya yang kamu suka?”

Saya : “Ah, nggak mau ah, itu kaya punya temenku di kantor. Nanti kembaran dikirain satu yayasan, lagi..”

Hubby : “Ya sudah, aku nunggu di tempat duduk deket kasir ya… Kamu milih sendiri aja deh. Abisnya dari tadi salah melulu :|”

Saya : “Iih, Bibo, jangan gampang menyerah gitu dong. Kan maksud aku tadi, Bibo bantuin milih, tapi jangan yang modelnya begini, warnanya mesti yang begitu, nah nanti milih yang kalo dipake keliatan begono… gituuu….” —> dengan muka tak berdosa

Hubby : [-(

Susah ya ngomong sama perempuan? ;))

gambar diambil dari dailymail

Continue Reading